JP Radar Kediri - Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan hanya membuat pandangan terganggu atau udara terasa pengap. Di balik kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah, ada risiko kesehatan yang ikut mengintai, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 174.694 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah terdampak karhutla sejak 18 Agustus hingga 21 September 2026. Dari jumlah tersebut, 40.363 kasus dialami balita.
Data tersebut disampaikan Kemenkes dalam konferensi pers penanganan karhutla di Jakarta, Selasa (22/9). Dilansir ANTARA, kasus tersebut tersebar di tujuh provinsi yang menjadi perhatian pemerintah, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Baca Juga: Kebakaran di Gudang Bulog Paron Kediri, Begini Kronologinya
Baca Juga: Kabut Asap Karhutla Kian Tebal, Malaysia dan Brunei Sepakat Bawa Masalah ke Meja ASEAN
Asap Tak Sekadar Membuat Mata Perih
Ketika udara dipenuhi asap, tubuh tidak hanya menghadapi bau yang mengganggu. Partikel dan polutan yang terbawa asap dapat masuk melalui saluran pernapasan.
Dampaknya bisa berupa batuk, sesak napas hingga gangguan pernapasan. Risiko tersebut menjadi perhatian lebih bagi anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.
Karena itu, Kemenkes terus memantau perkembangan kasus ISPA sekaligus memperkuat layanan kesehatan di wilayah terdampak. Pemerintah juga menyiapkan berbagai kebutuhan, mulai dari masker hingga peralatan pendukung layanan kesehatan.
Kualitas Udara Bisa Dicek Sebelum Beraktivitas
Kondisi udara yang buruk sebenarnya bisa dipantau masyarakat. Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menyediakan informasi kualitas udara yang diperbarui secara berkala.
Terbaru, KLH/BPLH bersama Kemenkes mengintegrasikan informasi pemantauan kualitas udara ke dalam platform SatuSehat. Masyarakat juga dapat melihat informasi kualitas udara melalui laman resmi pemantauan KLH/BPLH yang diperbarui setiap 30 menit.
Informasi tersebut bisa menjadi pertimbangan sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kualitas udara berada dalam kategori tidak sehat hingga berbahaya.
Jangan Tunggu Sampai Sesak
Di tengah kondisi udara yang tidak menentu, masyarakat dapat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Jika harus keluar rumah, penggunaan masker dapat menjadi salah satu langkah perlindungan.
Anak-anak juga perlu mendapat perhatian lebih. Kemenkes bahkan telah memberikan rekomendasi kepada pemerintah daerah untuk mempertimbangkan pembelajaran jarak jauh ketika kondisi udara memburuk, agar anak-anak tidak terlalu banyak terpapar asap.
Asap karhutla mungkin tidak selalu terlihat jelas dari jauh. Namun, ketika kualitas udara mulai menurun, dampaknya terhadap tubuh tetap perlu diperhatikan.
Mengetahui kondisi udara sebelum beraktivitas menjadi langkah sederhana yang bisa dilakukan. Sebab, menjaga kesehatan bukan hanya dilakukan ketika tubuh sudah mulai batuk atau sesak, tetapi juga dengan mengurangi paparan sebelum gangguan kesehatan muncul.
Nama: Tahta Alvina
Universitas Islam Triakti Lirboyo Kediri
Editor : Shinta Nurma Ababil