Heboh Kemunculan Daratan Baru Dekat Gunung Anak Krakatau, Apakah Gunung Baru?

Shinta Nurma Ababil • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 14:33 WIB
Aktivitas gunung anak Krakatau yang berada di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan. (ANTARA/Riadi Gunawan)
Aktivitas gunung anak Krakatau yang berada di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan. (ANTARA/Riadi Gunawan)

JP Radar Kediri - Enam tahun setelah runtuh dalam tragedi yang memicu tsunami Selat Sunda pada 2018, Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan dinamika buminya yang luar biasa. 

Berdasarkan riset kolaboratif internasional, gunung api aktif ini kini tengah berada dalam fase rekonstruksi—membangun kembali tubuhnya dari dasar laut secara bertahap.

Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dini Nurfiani, mengungkapkan bahwa fenomena ini membuktikan gunung api sebagai sistem yang sangat hidup dan dinamis.

"Sejarah erupsi Anak Krakatau menunjukkan siklus yang berulang: pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, hingga pembangunan kembali," ujar Dini, Rabu.

Baca Juga: Penerbangan Dhoho Kediri Kembali Normal, Sempat Terdampak Erupsi Krakatau

Mengingatkan Peristiwa 2018

Peristiwa kolaps pada Desember 2018 silam meninggalkan luka dan perubahan drastis lanskap Selat Sunda. Sektor barat daya gunung runtuh ke laut dengan volume material mencapai sekitar 0,116 kilometer kubik.

Dampaknya masif: tinggi puncak gunung yang semula sekitar 330 meter di atas permukaan laut merosot tajam menjadi hanya 120 meter.

Namun, hilangnya sebagian besar tubuh gunung secara tiba-tiba justru mengubah sistem internalnya. Tekanan pada saluran magma berkurang, sementara air laut merangsek masuk ke kawah yang terbuka lebar.

Sejak 2019, Anak Krakatau memasuki fase rekonstruksi. Aktivitasnya berkembang dari erupsi freatomagmatik (interaksi air dan magma) menuju erupsi Strombolian, lava fountain (pancaran lava), hingga leleran lava baru. Puncaknya terlihat pada 2020 ketika tumpukan lava baru mulai membentuk kerucut sekunder di dalam kawah pascakolaps.

Teka-Teki “Cucu” Krakatau: Apakah Daratan Baru Itu Gunung Api?

Di tengah proses pemulihan tersebut, sebuah fenomena menarik perhatian publik. Daratan baru seluas sekitar 30,3 hektare tiba-tiba menyembul di antara Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung, Lampung Selatan.

Kemunculan bentang alam ini langsung memicu spekulasi: apakah ini cikal bakal gunung api baru atau yang kerap dijuluki masyarakat sebagai "cucu" Krakatau?

Pakar kegempaan dan tsunami, Dr. Daryono, S.Si., M.Si., menegaskan bahwa kemunculan daratan baru tersebut tidak serta-merta bisa disebut sebagai lahirnya gunung api mandiri.

Menurut Daryono, daratan itu terbentuk secara mekanis melalui akumulasi material vulkanik yang dimuntahkan Anak Krakatau dan menumpuk di perairan sekitar yang relatif dangkal. Dinamika arus dan gelombang Selat Sunda turut berperan mengendapkan material-material tersebut hingga akhirnya menyembul ke permukaan air.

Baca Juga: Erupsi Anak Krakatau Abu Vulkaniknya Bisa Sampai Kediri? Begini Informasi BMKG

Masyarakat Diimbau Hanya Mengikuti Informasi Resmi

Terkait fenomena ini, masyarakat diimbau agar tidak terburu-buru menarik kesimpulan dari kemunculan daratan baru tersebut.

Sementara itu, aktivitas Gunung Anak Krakatau kini berada pada Level II (Waspada), setelah sebelumnya berada pada Level III (Siaga). 

Penurunan status tersebut berlaku sejak 21 September 2026 pukul 18.30 WIB.

Meski status turun, rekomendasi keselamatan tetap berlaku. Masyarakat diminta tidak mendekati kawah aktif dan mengikuti informasi serta arahan dari petugas.

Editor : Shinta Nurma Ababil
Sumber : AntaraNews
Gunung Anak Krakatau anak krakatau krakatau cucu krakatau gunung