Ratusan Sumur Warga Kaliboto Kediri Berbau dan Keruh, Diduga Terdampak Cemaran dari Sungai Kolokoso

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 05:30 WIB
Warga tunjukkan air yang berbau karena diduga tercemar. (Foto Asad MS)
Warga tunjukkan air yang berbau karena diduga tercemar. (Foto Asad MS)

DLH Turun Ambil Sampel Air untuk Pemeriksaan

JP Radar Kediri—Ratusan warga di Desa Kaliboto, Tarokan mengeluhkan kondisi sumur mereka yang tercemar.

Tidak hanya airnya yang berwarna keruh dan berbau, melainkan jika dibiarkan akan muncul endapan menyerupai minyak.

Perubahan pada air sumur itu diduga kuat karena terdampak kondisi air Sungai Kolokoso yang tercemar. 

Sedikitnya ada sekitar 200 sumur warga di tepi Sungai Kolokoso di Desa Kaliboto yang tercemar.

Mereka tersebar di empat dusun. Mulai Dusun Kaliboto, Rejomulyo, Sumberkepuh, dan Pugeran.

Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, sepanjang Sungai Kolokoso di Desa Kaliboto, airnya terlihat keruh dan hitam.

Baca Juga: Air Sumur Warga Plosoklaten Kediri Masih Berbau Meski Sudah Dibuat Sumur Baru, DPRD dan DLH Cek Progres Pencemaran

Di tepi sungai yang ditumbuhi enceng gondok didapati endapan. Selebihnya bau tak sedap juga tercium dari arah sungai.

“Kalau (air sumur) diendapkan agak lama itu juga ada kotoran di bagian bawah menyerupai minyak,” keluh Atik Kurnia, 50, warga Dusun/Desa Kaliboto yang tinggal di bantaran sungai dan air sumurnya terdampak pencemaran.

Bau tak sedap dari arah sungai, lanjut Atik, terasa semakin menyengat di waktu-waktu tertentu. Hal yang sama juga dirasakan dari air sumurnya.

“Saat baru membuka keran, airnya berbau busuk seperti bau bahan kimia. Untuk mandi gatal, konsumsi juga tidak layak,” lanjutnya.

Khawatir berdampak pada kesehatannya, Atik terpaksa beralih ke air galon untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Mulai memasak, minum, hingga mencuci. Untuk kebutuhan pribadi saja, dia membutuhkan sekitar satu galon air.

Tidak hanya itu, perubahan kondisi air Sungai Kolokoso tak hanya membuat warga khawatir akan berdampak pada kesehatan mereka.

Melainkan aktivitas warga juga berubah. Anak-anak yang biasanya bermain dan berenang di sungai, kini tidak berani lagi melakukannya. “Hewan (di sungai) dulu masih banyak, sekarang tidak ada," terangnya.

Sementara itu, selain warga Dusun Kaliboto, warga Dusun Rejomulyo, Desa Kaliboto juga mengeluhkan hal yang sama. Samsul Huda, 46, mengaku sering mencium bau tak sedap dari arah sungai.

Baca Juga: Harus Mengebor Sumur Lebih Dalam Lagi, Dewan Tindaklanjuti Kasus Pencemaran Air Plosoklaten Kediri

Kondisi air sungai terkadang juga berwarna hitam dan tiba-tiba berbusa.

Seperti halnya Atik, Samsul juga mulai mencium bau tak sedap pada air sumurnya.

Seolah kompak dengan warga di bantaran sungai lain, kini dia juga melarang anak-anak bermain di sungai. "Anak-anak saya dulu sering mandi di kali. Sekarang nggak berani. Saya larang, saya marahi," tuturnya.

Menguatkan kesaksian warga, Badri, 53, dari Dusun Sumberkepuh juga merasakan bau air sungai yang menyengat.

Pria yang tinggal dekat dengan lokasi pembuangan limbah itu menyebut bau semakin kuat saat aktivitas pembuangan limbah dilakukan.

"Kalau posisi (limbah) dibuang, baunya menyengat. Nyegrak. Saya sampai pusing," ungkapnya.

Dono Utomo, 56, warga Dusun Pugeran, Desa Kaliboto yang rumahnya juga tidak jauh dari sungai mengatakan, total warga yang sumurnya ikut terdampak pencemaran Sungai Kolokoso sangat banyak.

Dilihat dari rumah-rumah di tepi sungai, jumlahnya lebih dari 200 kepala keluarga (KK).

Laki-laki yang akrab disapa Tomo itu menduga, limbah yang membuat sungai tercemar berasal dari perusahaan tempat mencuci drum di Desa Kaliboto.

Perusahaan tersebut diketahui membuang limbah pencucian ke arah sungai.

Saat proses pembuangan limbah, air yang keluar dari arah perusahaan itu berbusa dan kotor. “Sudah berlangsung sekitar lima tahun,” jelasnya.

Baca Juga: Cegah Pencemaran Lingkungan, Mbak Wali Ajak Masyarakat Wujudkan Zero Waste

Sayang, saat Jawa Pos Radar Kediri berusaha mengonfirmasi perusahaan tersebut, kondisi gerbangnya tertutup rapat.

Dari luar juga tidak terlihat aktivitas di lokasi tersebut.

Terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kediri Putut Agung Subekti mengatakan, bahwa pihaknya mendapatkan laporan pencemaran sungai pada Rabu (9/9) lalu.

Adapun kemarin (10/9), pihaknya langsung menurunkan tim ke lapangan untuk mengambil sampel.

“Kami tugaskan verifikasi lapangan pada tim untuk melihat kondisinya,” jelas Putut sembari berjanji akan memberikan update setelah hasil pemeriksaan keluar.

Editor : Andhika Attar Anindita
Sumber : Radar Kediri
Sungai Kolokoso limbah sungai tercemar pencemaran air