JP Radar Kediri – Kebakaran hebat melanda Desa Adat Sade di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Sabtu (22/8/2026) malam. Kobaran api dengan cepat menghanguskan ratusan bangunan di kampung wisata budaya Suku Sasak yang telah berusia sekitar 600 tahun tersebut, mengingat mayoritas bangunannya terbuat dari bambu, kayu, bedek, dan beratapan ilalang yang sangat mudah terbakar.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Lombok Tengah, Supardan, menjelaskan bahwa proses pemadaman berlangsung hingga tengah malam akibat bara api yang terus menyala. "Pemadaman hingga tengah malam ini masih berlangsung karena bara api masih menyala," katanya di Lombok Tengah, Sabtu malam.
Baca Juga: Gunung Bromo Ditutup Sampai Kapan? Wisatawan Wajib Tahu Imbas Kebakaran Lahan
Data Terus Diperbarui, Terakhir Tercatat 75 Rumah dan 69 Art Shop
Data resmi mengenai jumlah bangunan yang terbakar sempat mengalami beberapa kali pembaruan seiring proses pendataan yang terus berjalan. Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah pada pembaruan terbaru mencatat sebanyak 75 rumah dan 69 art shop (toko seni) milik warga ludes terbakar direvisi dari data awal yang sempat menyebut 129 bangunan terdampak. Selain itu, sejumlah fasilitas umum dan fasilitas adat turut hangus, meliputi satu unit masjid, empat berugak sekenam (gazebo bertiang enam), enam berugak sekepat, satu lumbung alang-alang, satu balai desa, satu toilet umum, serta satu gerbang adat.
320 Jiwa dari 120 Kepala Keluarga Terdampak
Bupati Lombok Tengah, Lalu Pathul Bahri, mengungkapkan bahwa korban terdampak kebakaran ini mencapai 320 jiwa dari 120 kepala keluarga. "Korban yang terdampak mencapai 320 jiwa atau 120 kepala keluarga," kata Pathul usai memimpin rapat koordinasi penanganan dampak kebakaran di Desa Rambitan, Minggu (23/8/2026).
Ia menjelaskan, laju api menjalar sangat cepat lantaran sebagian besar bangunan di kawasan tersebut menggunakan atap alang-alang yang mudah tersulut. "Kebakaran ini merupakan musibah yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya. Namun, kondisi tersebut menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen untuk segera melakukan penanganan," ujarnya.
Baca Juga: Penyelidikan Kebakaran Gedung Bapenda DKI Dilimpahkan ke Polda Metro Jaya
Warisan Budaya Ikut Musnah: Naskah Lontar Kuno hingga Gendang Beleq
Selain kerugian materiil, kebakaran ini turut menghanguskan berbagai koleksi warisan budaya bernilai sejarah tinggi milik Suku Sasak yang telah diwariskan secara turun-temurun. Sejumlah naskah lontar kuno, termasuk naskah Rengganis, ikut musnah dilalap api. Naskah-naskah tersebut biasa dibacakan dalam berbagai upacara adat seperti pernikahan, tradisi ngurisan (potong rambut bayi), dan sunatan.
Selain naskah lontar, benda-benda pusaka lain turut hilang, di antaranya delapan gendang beleq, 30 kenceng, lima trompong, dua gong tua untuk keperluan ritual, serta berbagai senjata tradisional dan koleksi kain tenun lama yang selama ini menjadi identitas sekaligus mata pencaharian warga.
Gubernur NTB Langsung Turun ke Lokasi Usai Pulang dari Misi Kemanusiaan NTT
Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, yang baru saja tiba dari misi kemanusiaan membantu korban gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT), langsung bertolak ke lokasi kejadian begitu mendengar kabar kebakaran tersebut. "Yang paling penting saat ini adalah bagaimana seluruh masyarakat dan warga dalam keadaan selamat," ujar Iqbal di lokasi kebakaran, Sabtu malam.
Ia menegaskan pemerintah akan segera memastikan seluruh kebutuhan dasar warga terdampak terpenuhi. "Yang pertama sekarang dan harus cepat adalah bagaimana kebutuhan dan rasa aman masyarakat yang rumahnya terbakar kita perhatikan. Kebutuhan sandang, pangan, dan aktivitas sosial ekonomi mereka harus kita pastikan," tegasnya. Iqbal turut memastikan pendidikan anak-anak korban terdampak tidak akan terganggu akibat musibah ini.
Puluhan Armada Damkar Dikerahkan dari Empat Wilayah
Proses pemadaman api melibatkan puluhan personel gabungan dari unsur pemadam kebakaran dan penyelamatan (Damkartan), TNI, Polri, serta warga sekitar. Bantuan armada pemadam kebakaran turut dikerahkan dari Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Lombok Barat, Kota Mataram, dan Pemerintah Provinsi NTB, guna mempercepat proses pengendalian api yang terus meluas di tengah keterbatasan sumber air akibat musim kemarau.
Baca Juga: Kebakaran di Area PG Ngadirejo, Damkar Berjibaku Hampir Empat Jam Jinakkan Api
Diduga Akibat Korsleting Listrik, Polda NTB Masih Selidiki Penyebab Pasti
Penyebab pasti kebakaran hingga kini masih dalam proses penyelidikan. Tim Laboratorium Forensik Polda Bali turut diterjunkan untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), menyisir puing-puing bangunan rumah adat guna mengungkap sumber api. Indikasi awal mengarah pada dugaan korsleting listrik, meski kesimpulan resmi masih menunggu hasil penyelidikan menyeluruh.
NTB Bentuk Satgas Khusus untuk Pemulihan dan Penataan Ulang
Menindaklanjuti musibah ini, Pemerintah Provinsi NTB membentuk satuan tugas (satgas) khusus penanganan pemulihan dan penataan Desa Adat Sade, sesuai arahan langsung Gubernur Iqbal dalam rapat pimpinan bersama Wakil Gubernur NTB. Kepala Pelaksana BPBD NTB, Sadimin, menjelaskan bahwa satgas ini akan dipimpin oleh Asisten II Sekretariat Daerah Provinsi NTB. "Sudah diputuskan satgas ini nanti dipimpin Asisten II Setda Pemprov NTB," ujarnya di Kantor Gubernur NTB, Mataram, Senin (24/8/2026)
Kementerian Kebudayaan Siapkan Pemulihan Empat Tahap
Kementerian Kebudayaan melalui Balai Pelestarian Kebudayaan NTB turut bergerak cepat menyusun rencana pemulihan kawasan permukiman tradisional tersebut. Salah satu langkah yang direncanakan adalah rekonstruksi sejarah lewat duplikasi manuskrip kuno yang terbakar, memanfaatkan koleksi manuskrip sejenis yang tersimpan di Museum NTB. Sarana dan prasarana penunjang ekonomi warga, seperti alat tenun, juga akan disalurkan untuk membantu pemulihan mata pencaharian masyarakat setempat. Proses pemulihan Desa Adat Sade sendiri direncanakan berlangsung dalam empat tahap.
Kerugian Ditaksir Rp34 Miliar, NTB Dorong Desa Adat Lain Miliki Sistem Peringatan Dini
Kerugian akibat kebakaran ini diperkirakan mencapai sekitar Rp34 miliar. Menyikapi musibah ini, Kepala Dinas Kebudayaan NTB, Muhamad Ihwan, mendorong seluruh desa adat di NTB untuk segera dilengkapi sistem pemadam kebakaran maupun sistem peringatan dini (early warning system) guna mencegah tragedi serupa terulang di masa mendatang. "Semua desa adat di Nusa Tenggara Barat perlu dilengkapi sistem pemadam kebakaran atau early warning system. Desa adat juga harus memiliki aparatur yang dilatih khusus untuk mitigasi bencana," ujar Ihwan.
Baca Juga: Korsleting Listrik Picu Kebakaran Kandang Puyuh di Kepung Kediri, Begini Kronologinya
Ia turut mendorong pendokumentasian menyeluruh terhadap benda-benda budaya, khususnya koleksi dan peralatan tenun yang menjadi identitas Kampung Adat Sade, agar warisan budaya tetap dapat dipulihkan melalui replika apabila bencana serupa kembali terjadi.
Editor : Shinta Nurma Ababil