Kisah Satu Keluarga Kediri Tewas di Jakarta, Ibu Urung Ikut Reuni SMP Akhir Tahun

Hilda Nurmala Risani • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 05:59 WIB
TINGGAL KENANGAN: Ambar menunjukkan foto Rini bersama keluarganya. Jenazah perempuan asal Kelurahan Banjaran Kota Kediri itu diperkirakan tiba di Kota Kediri tadi malam./Foto Hilda Nurmala Risani
TINGGAL KENANGAN: Ambar menunjukkan foto Rini bersama keluarganya. Jenazah perempuan asal Kelurahan Banjaran Kota Kediri itu diperkirakan tiba di Kota Kediri tadi malam./Foto Hilda Nurmala Risani

 

JP Radar Kediri-Insiden tewasnya Rini Astuti, 68, bersama anak dan suaminya di kawasan Tebet, Jakarta Selatan pada Senin (24/8) pagi lalu, menyisakan duka bagi keluarganya di Kota Kediri. Bencana kebakaran memilukan itu turut mengubur beberapa rencana Rini. Termasuk agenda reuni di SMP 3 Kota Kediri yang seharusnya dihadirinya.

          Meski petaka terjadi di lokasi yang berjarak ratusan kilometer dari Kota Kediri, keluarga Rini di Kota Tahu seolah merasakan kontak batin. “Waktu kejadian itu saya semalaman tidak bisa tidur,” ungkap Ambar, adik bungsu Rini, ditemui di rumah duka di Kelurahan Banjaran, Kota Kediri kemarin.

          Makanya, ketika keponakannya mengabarkan tentang musibah yang menimpa Rini dan keluarga sekitar pukul 04.00 Senin pagi lalu, Ambar masih terjaga. Dia pun langsung mengangkat teleponnya.

Baca Juga: Kebakaran Hotel di Kawasan Glodok Jakarta Barat, 22 Pengunjung Berhasil Dievakuasi

          Kabar duka yang datang di pagi buta itu menjawab kegelisahan yang dirasakan Ambar sejak malam. Kala itu, salah satu anak Rini mengabarkan rumah mereka terbakar. Keluarga di Kediri diminta untuk mengikhlaskan musibah tersebut. “Sehari sebelumnya itu (Rini) telepon ke kakak yang di Blitar. Katanya ingin dimakamkan di Kediri bersama ibu. Di TPA Burengan,” lanjut Ambar tentang wasiat kakaknya yang mengagetkan.

          Musibah yang menimpa Rini dan keluarganya memang sangat mengejutkan. Perempuan yang dikenal aktif dan supel itu harus pulang ke Kota Kediri bersama keluarganya dalam kondisi tak bernyawa.

          Kebakaran yang terjadi Senin dini hari lalu, tidak hanya membuat Rini menjadi korbannya. Melainkan, Sugiartono, 77, suaminya; serta Rezza, 40, anak mereka, juga tidak luput. Sedangkan dua anak lainnya yang masih tinggal serumah berhasil selamat setelah melompat ke bawah.

          Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Kediri, si jago merah yang meluluhlantakkan rumah Rini diduga dipicu korsleting di mesin foto kopi. Api yang membesar sekitar pukul 03.00 dini hari itu tidak bisa langsung diantisipasi.

          Teriakan Rini meminta tolong dini hari itu, belum bisa menyelamatkan nyawanya. Selain Rini bersama suami dan satu anaknya, seorang penghuni kos yang tidak diketahui namanya juga turut menjadi korban.

          Sementara itu, hingga kemarin jenazah Rini bersama suami dan anaknya masih berada di RS Kramat Jati Jakarta. Menunggu penyelesaian administrasi untuk diserahkan kepada keluarganya. “Estimasi (jenazah) tiba di Kediri pukul 22.00 atau pukul 23.00 (25/8),” sambung Djimi, kerabat Rini lainnya.

          Pulang dalam kondisi tidak bernyawa, keluarga berusaha memenuhi permintaan terakhirnya. Yakni, dimakamkan di TPU Burengan bersama sang ibu.

          Untuk diketahui, kepergian Rini dengan cara tragis itu turut mengubur beberapa rencana yang akan dilakukannya di Kediri. Salah satunya, menghadiri reuni di SMPN 3 Kota Kediri akhir tahun ini. “Rencananya mereka (Rini dan keluarga) akan ikut reuni. Ini sudah takdir Tuhan (batal reuni),” sambung Ambar lagi sambil menunjukkan foto kakaknya bersama keluarga.

          Selain mengikuti reuni, perempuan yang kali terakhir pulang ke Kota Kediri Mei lalu itu, menjanjikan untuk pulang ke Kediri minggu ini. Tujuannya, menandatangani kontrak dengan penyewa toko dan garasinya.

          Meski tinggal di Jakarta sejak 1975 silam, Rini memiliki pekarangan yang luas di Kelurahan Banjaran. Di sana juga ada bangunan berupa toko, garasi, dan rumah. Toko dan garasinya itu disewakan. Sedangkan rumah sengaja dikosongkan. Hanya ditempati saat perempuan yang dikaruniai empat anak dan lima cucu itu pulang.

          Dengan kepergian Rini dan keluarganya, kerabat di Kediri hanya bisa mengenang seluruh kebaikannya. Dia dikenal sebagai pribadi yang baik dan ulet. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya usaha yang dimiliki. Seperti usaha foto kopi, alat tulis, dan kos-kosan.

          “Apa saja dijadikan usaha. Bahkan ketika pulang kampung juga masih kepikiran untuk berdagang barang-barang yang dibeli ketika road trip,” tutur Ambar.

Rini juga dikenal sebagai sosok yang ceria dan perhatian. Karena sikapnya itu, dia menjadi idola adik-adiknya. Rini muda juga aktif menjadi model, pemain voli, hingga pemain basket. “Kakak saya ini orangnya juga safety. Selalu mengutamakan keamanan,” tandas Ambar tak menyangka Rini pergi dengan cara memilukan. (la/ut)

 

Editor : Mahfud
kebakaran tebet reuni smp kediri satu keluarga