Lahan di Kawasan Gunung Bromo Terbakar, 176 Hektare Hangus Diduga Ini Penyebabnya

Shinta Nurma Ababil • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 11:50 WIB
Kawasan gunung Bromo kebakaran (Dok radar Bromo)
Kawasan gunung Bromo kebakaran (Dok radar Bromo)

JP Radar Kediri - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur hingga menghanguskan 176 hektare menjadi perhatian banyak orang.

Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) mengungkap, dugaan awal penyebab kebakaran dipicu oleh aktivitas manusia, bukan karena faktor alam. 

Karhutla di kawasan Gunung Bromo pertama kali dilaporkan terjadi pada Senin (3/8) sekitar pukul 17.00 WIB. Titik awal kebakaran berada di Blok Bantengan yang masuk wilayah Ranu Pani, Lumajang.

Baca Juga: Susul Kebakaran Bromo, Si Jago Merah Hanguskan Kawasan Gunung Klotok Kediri!

Untuk mendukung upaya pemadaman, Balai Besar TNBTS mulanya menutup sementara tiga pintu masuk wisata Gunung Bromo, yakni Jemplang dan Coban Trisula di Malang, serta Senduro di Lumajang.

Penutupan berlaku sejak Senin (3/8) pukul 22.00 WIB. Namun pada Sabtu (8/8) pukul 22.00 WIB, Balai Besar TNBTS memperluas penutupan menjadi seluruh pintu masuk di kawasan wisata Gunung Bromo.

Artinya, dua pintu masuk lainnya, yakni Cemorolawang di Probolinggo dan Wonokitri di Pasuruan, juga ditutup. 

Baca Juga: Bukan Ular atau Kebakaran, Damkar Pare Kediri Malah Cari HP Ponsel Tercebur Selokan, Begini Kronologinya

Meski penyebab kebakaran masih dalam proses penyelidikan, dugaan tersebut diperkuat dengan temuan petugas gabungan yang mendapati titik awal kebakaran berada di puncak tebing, tepatnya jalur tradisional penghubung Desa Arjosari dan Desa Ranupani.

“Kalau dari dugaan ada kemungkinan itu faktor manusia, bukan faktor alam, karena jalur awal api itu ada dipuncak tebing. Ada jalur tradisional yang menghubungkan Desa Arjosari dan Desa Ranupani," tutur Kepala Balai Besar TNBTS, Rudijanta Tjahja, Minggu (9/8) dikutip dari Jawapos.

"Kemungkinan ada orang yang berhenti saat cuaca dingin untuk membuat api unggun atau perapian, namun tidak memastikan api benar-benar padam sebelum meninggalkan lokasi," lanjut Rudijanta.

Kobaran api kemudian cepat menjalar ke vegetasi kering setelah tertiup angin kencang. Kondisi tersebut membuat kebakaran terus meluas hingga 176 hektare (data per Jumat petang (7/8).

Meski demikian, Rudijanta menegaskan Balai Besar TNBTS saat ini masih memprioritaskan pemadaman. Penyelidikan lebih mendalam dilakukan secara paralel dengan upaya petugas yang mencegah kobaran api meluas.

"Saat ini fokus kami masih pada upaya pemadaman. Untuk penyelidikan maupun kemungkinan pemberian sanksi akan dilakukan setelah seluruh proses penanganan kebakaran selesai," pungkas Rudijanta.

Editor : Shinta Nurma Ababil
gunung bromo krbakaran gunung bromo gunung bromo kebakaran kebakaran Bromo