JP Radar Kediri–Dugaan keracunan makanan bergizi gratis (MBG) kembali terjadi di Kabupaten Kediri.
Kali ini, ratusan siswa SD, madrasah ibtidaiyah (MI), dan SMP di Kras mengeluhkan mual, pusing, muntah, dan mencret setelah mengonsumsi menu makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Purwodadi, Kras pada Kamis (23/7) lalu.
Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Kediri menyebutkan, sedikitnya ada 211 siswa yang mengeluhkan mual, muntah dan pusing setelah mengonsumsi menu MBG Kamis lalu.
Sebanyak 117 siswa dari SMPN 1 Kras, enam siswa dari SDN Purwodadi, dan 31 siswa dari sejumlah MI di Kras. Sisanya tersebar di sejumlah sekolah.
“Semua alami keluhan mual, muntah, pusing, perut melilit, mencret,” ujar Kepala SMPN 1 Kras Soedjito tentang keluhan yang dialami anak didiknya.
Akibat keluhan mual, muntah, dan mencret tersebut, sebanyak 117 siswa dari SMPN 1 Kras tidak masuk sekolah pada Jumat (28/7) lalu.
Bahkan, saat pembelajaran pada Senin (27/7), masih ada beberapa siswa yang mengeluh mual, pusing, dan muntah.
Total ada 18 siswa yang terpaksa dipulangkan, dua lainnya dirawat di usaha kesehatan sekolah (UKS).
Baca Juga: 117 Siswa SMPN 1 Kras Mual, Muntah, dan Diare usai Santap Menu MBG
Untuk diketahui, menu MBG dari SPPG Purwodadi yang dikonsumsi anak-anak pada Kamis (23/7) lalu adalah telur rebus berbumbu.
Kemudian, sayur wortel buncis oseng, tahu goreng, dan empat butir anggur Muscat.
“Saya makan semua (menu MBG),” aku As, siswa kelas VIII SMPN 1 Kras.
Saat di sekolah, As mengaku tidak merasakan gejala apapun.
Namun, saat pulang sekolah atau selang beberapa jam setelah mengonsumsi menu MBG, dia mengeluhkan perutnya yang sakit dan mual.
“Saya juga mencret,” terangnya.
Selain As, total ada 117 siswa SMPN 1 Kras yang absen karena keluhan yang sama.
Jika As baru merasakan keluhan mual, pusing, mencret, dan muntah setelah sampai di rumah, ada sejumlah siswa yang terpaksa dipulangkan dari sekolah lebih awal.
Gejalanya pun sama. “Tapi saat itu sekolah belum tahu penyebabnya (yang membuat anak-anak mual dan muntah),” tutur Sudjito.
Mereka baru mengetahui setelah 117 anak tidak masuk pada Jumat (24/7) lalu.
“Pihak guru laporan ke saya ada banyak yang izin. Setelah saya suruh menelusuri, keluhannya semua sama,” jelasnya sembari menyebut ada guru yang juga mengeluh muntah dan mencret.
Baca Juga: SPPG Tugurejo Ngasem Kediri Lengkapi Syarat SLHS, Perbaikan IPAL Dilakukan Usai Kasus Keracunan
Bahkan, pada Jumat lalu juga masih ada satu siswa yang muntah di kelas.
Kondisi tersebut menurut Sudjito sempat mengganggu proses pembelajaran.
Khusus untuk Senin (27/7) kemarin, ada 18 siswa yang masih mengeluhkan pusing, mual, dan muntah.
Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, hingga pukul 12.00 kemarin, ada dua siswa yang masih dirawat di UKS karena keluhan yang sama.
“Ada yang baru alami keluhan, ada yang sudah mengeluh sakit sejak Jumat,” paparnya.
Terkait banyaknya siswa yang sakit, Sudjito mengaku belum bisa memastikan penyebabnya.
Termasuk apakah mereka keracunan paket MBG atau sebab lainnya.
Meski demikian, kemarin banyak siswa yang enggan mengonsumsi jatah MBG mereka.
“Ya mungkin trauma. Takut atau apa, akhirnya banyak sebagian besar tadi nggak mau ambil,” urainya terkait banyaknya menu MBG yang tidak dimakan atau dihabiskan.
Untuk diketahui, keluhan siswa yang pusing, mual, dan muntah tidak hanya terjadi di SMPN 1 Kras saja.
Sedikitnya ada enam siswa di SDN Purwodadi 1 Kras yang mengeluhkan serupa.
Kepala SDN Purwodadi 1 Kras Sutinah menyebut, pada Jumat (24/7) dan Sabtu (25/7) lalu ada dua anak yang tidak masuk dengan keluhan sama.
Senada dengan Sudjito, Sutinah juga belum bisa memastikan penyebab keluhan anak didiknya.
“Karena memang cuaca juga sedang tidak menentu. Tapi yang terdekat kemarin memang makan MBG,” bebernya.
Meski belum mengetahui penyebab pasti sakit yang diderita anak-anak, tak urung Sutinah juga takut mengonsumsi menu MBG.
“Saya makan nasi (27/7), untuk lauk beli di kantin,” jelasnya.
Sementara itu, sejumlah siswa di madrasah yang mendapat MBG dari SPPG Purwodadi juga mengalami sakit yang sama.
Dari beberapa madrasah di bawah Kemenag Kota Kediri, sedikitnya ada 31 siswa yang mengeluhkan sakit serupa.
“Yang di Purwodadi itu 1 siswa dan 1 guru. Terus yang di MI di KUA Kras itu ada sekitar 30 anak,” tutur Kepala Kemenag Kabupaten Kediri Achmad Faiz sembari menyebut hari ini anak-anak sudah masuk.
Untuk diketahui, kabar keracunan yang dialami siswa SMPN 1 Kras membuat dinas pendidikan, dinas kesehatan, hingga Badan Gizi Nasional (BGN) mendatangi sekolah.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri dr Ahmad Khotib melalui Kabid Kesmas Disdik Kabupaten Kediri dr Ika Tjandra Kusuma mengatakan, hingga kemarin siang pihaknya belum bisa memastikan penyebab keracunan massal itu.
"Kami masih belum tahu. Ini masih menghimpun data, mulai dari jumlah dan keluhan-keluhan yang terdampak," ujar Ika ditemui di SMPN 1 Kras.
Koordinator Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Kabupaten Kediri Ahmad Gunawan yang juga ditemui di SMPN 1 Kras tidak bersedia dikonfirmasi.
Dia meminta agar Jawa Pos Radar Kediri menanyakan langsung ke Satgas MBG Kabupaten Kediri.
"Biar satu pintu di satgas," jelasnya sembari belum bisa memastikan penyebab keracunan.
Di tempat terpisah, Kepala SPPG Purwodadi Kras Yadin Syahril mengatakan, Kamis lalu pihaknya tidak mendapat laporan terkait insiden keracunan. Mereka baru dapat laporan pada pukul 10.00 Jumat (24/7) lalu.
Saat itu juga, lanjut Yadin, tim SPPG langsung datang ke sekolah. Di sana ada beberapa siswa yang mengeluhkan mual, muntah, pusing, dan mencret.
Hanya saja, jumlahnya hanya dua hingga tiga anak yang periksa ke puskesmas.
"Kami datang (24/7) karena ingin mengetahui permasalahannya sekaligus melakukan langkah sesuai prosedur. Kalau memang sejak awal disampaikan ada dugaan keracunan, kami bisa langsung melakukan uji laboratorium terhadap sampel makanan yang memang disiapkan," jelasnya.
Dia menyayangkan informasi tentang banyaknya siswa yang mengalami keluhan baru mencuat beberapa hari setelah makanan dibagikan.
Menurutnya, kondisi itu membuat kesempatan melakukan uji laboratorium terhadap sampel makanan menjadi hilang. Sebab, sampel telah melewati batas waktu pemeriksaan.
Padahal, uji laboratorium diperlukan untuk memastikan apakah makanan yang diproduksi SPPG benar-benar jadi penyebab munculnya keluhan.
“Kami menyayangkan kalau pihak sekolah tidak langsung terus terang. Seharusnya jika memang ada (kejadian) bisa langsung tes lab (laboratorium). Namun kalau sekarang yang dites sudah tidak ada,” jelas Yadin.
Selain itu, menurutnya kemarin pihak sekolah juga tetap menerima menu MBG sejumlah total penerima manfaat.
Jika memang terjadi insiden keracunan, Yadin mengaku heran karena anak yang mengalami gejala keracunan tetap menerima paket MBG.
“Mereka tetap menerima (paket MBG) dan tidak menolak. Kalau sewajarnya, ketika mengalami (keracunan) maka menolak. Setidaknya menolak sejumlah anak yang tidak masuk. Ini tidak, ini penerima manfaat tetap penuh,” urainya.
Untuk diketahui, insiden keracunan massal yang dialami siswa di Kecamatan Kras langsung direspons oleh Satgas MBG Kabupaten Kediri.
Ketua Satgas MBG Kabupaten Kediri M. Solikin mengatakan, pihaknya masih menyelidiki penyebab keracunan. Selebihnya, tim masih memverifikasi data.
Dari hasil pendataan sementara, total korban keracunan yang diduga akibat menu MBG sebanyak 211 anak.
“Gejala yang dilaporkan meliputi mual, muntah, pusing dan diare untuk beberapa kasus,” jelasnya.
Selama proses penyelidikan penyebab keracunan, SPPG Purwodadi dinyatakan di-suspend atau ditangguhkan operasionalnya. “Kami belum tahu penyebab keracunannya. Itu masih didalami tim,” tegasnya.
Editor : Andhika Attar Anindita
Sumber : Radar Kediri