Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Audiensi, Mahasiswa Tanya Reformasi Polri hingga SPPG, Ini Yang Wajib Kamu Ketahui!

Hilda Nurmala Risani • Sabtu, 28 Februari 2026 | 20:33 WIB

 

 

SIMPATIK: Kapolres Kediri Kota AKBP Anggi Saputra Ibrahim bersama mahasiswa dari  PMII melakukan tabur bunga di halaman Mapolres Kediri Kota.
SIMPATIK: Kapolres Kediri Kota AKBP Anggi Saputra Ibrahim bersama mahasiswa dari PMII melakukan tabur bunga di halaman Mapolres Kediri Kota.

KEDIRI, JP Radar Kediri – Banyak hal yang ditanyakan puluhan mahasiswa yang beraudiensi dengan Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Kota Kediri AKBP Anggi Saputra Ibrahim Jumat petang (27/2).

Di antaranya tentang proses reformasi polisi, proses rekrutmen, hingga soal pengelolaan satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG).

Mahasiswa yang beraudiensi itu adalah pengurus cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kediri Raya.

Datang sekitar pukul 16.00, mahasiswa disambut langsung oleh Anggi. Mereka pun berdiskusi di Gedung Rupatama.

“Memungkinkan atau tidak perekrutan polisi minimal sarjana atau berusia 21 tahun?” tanya Niam, salah seorang peserta audiensi.

Baca Juga: Puluhan Mahasiswa Gelar Aksi Solidaritas Kasus Arianto Tawakal di Polres Kediri Kota, Ini Tuntutannya

Pertanyaan tersebut langsung dijawab oleh AKBP Anggi. Dia menyebut bahwa dulunya Polri sempat memberlakukan aturan polisi minimal lulusan sarjana.

Namun terkait pertanyaan memungkinkan atau tidak pihaknya belum bisa memberikan jawaban pasti. Mengingat hal itu bukan kewenangannya.

“Saya tidak punya kewenangan di sini (proses rekrutmen, Red). Tapi saya berjanji aspirasi ini akan ditulis dan ditelaah guna dikirimkan ke Polda maupun Polri,” jawab Anggi.

Anggi juga menjawab pertanyaan terkait proses pendidikan yang hanya tujuh bulan serta materi yang diajarkan. Menurutnya, setiap tingkatan dari tamtama, bintara, hingga perwira dipersiapkan berbeda.

Baca Juga: DLH Kediri Cek Isu Limbah RS Aura Syifa, Warga Sekitar Mengaku Tak Tahu Soal Demo

Misalnya, pada tingkat perwira dipersiapkan sebagai pemangku kebijakan. Kemudian, tingkat bintara adalah mereka yang disiapkan sebagai tulang punggung operasional.

Contohnya mereka yang bertugas sebagai bhabinkamtibmas maupun penyidik pembantu. “Sedangkan untuk tamtama mereka menjalankan tugas berkaitan dengan teknis dasar,” imbuhnya.

Anggi pun memastikan jika semua tingkatan mendapatkan materi terkait hak asasi manusia (HAM).

Juga materi-materi yang dibutuhkan selama menjalankan tugas kepolisian sesuai dengan tingkatannya.

Tak hanya itu, bapak dari tiga anak itu juga menyebut bahwa pihaknya tidak akan membatasi kebebasan masyarakat maupun mahasiswa dalam berpendapat. Asalkan penyampaian dilakukan dengan cara yang sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

Baca Juga: Hakim Korting Vonis Terdakwa Kerusuhan Demo, Ini Pertimbangannya

“Tugas Polri menjamin kegiatan penyampaian aspirasi berjalan aman dan lancar. Juga mengayomi dan melayani masyarakat. Jadi kalau dari kalian (mahasiswa, Red) ingin menyampaikan pendapat sampaikan langsung kepada kami. Pasti akan kami jaga agar tidak ada penyusup dari luar yang menimbulkan kegaduhan,” bebernya saat ditanya apa jaminan perlindungan dari instansi kepolisian kepada mereka yang menyampaikan aspirasi.

Diskusi yang berlangsung selama hampir satu jam itu ditutup dengan pertanyaan terkait keterlibatan Polri dalam pengelolaan dapur SPPG. Yang menurut para mahasiswa tidak sesuai dengan keahliannya.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Anggi menegaskan bahwa dapur SPPG itu dibangun oleh mitra. Sedangkan yayasan hanya bertugas sebagai pengelola dan pengawas.

“Ini yang perlu diubah mindset-nya. Dapur SPPG itu yang membangun bukan Polri melainkan mitra. Kami (yayasan, Red) hanya sebagai pengelola dan pengawas,” tandasnya.

Baca Juga: Aksi Demo Minta Trans7 Tayangkan Permohonan Maaf Selama Tujuh Hari Imbas Tayangan Sudutkan Ponpes Lirboyo

Selesai diskusi, kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama dan aksi simbolik berupa tabur bunga untuk almarhum Arianto Tawakal dan beberapa korban kejahatan polisi di halaman depan Mako Polres Kediri Kota.

“Aksi ini adalah aksi simpatik. Kami datang dengan niat baik untuk menyampaikan aspirasi, kritik, dan kegelisahan masyarakat. Alhamdulillah kami diterima dengan sangat terbuka oleh Kapolres Kediri Kota," terang Ketua Umum PMII Kediri Raya Irgi Ahmad Fahrezi 

Menurutnya, audiensi yang dilakukan ini menyoroti pentingnya reformasi Polri yang tidak hanya bersifat formalitas. Melainkan yang benar-benar substansial. Baik dari sistem, budaya, maupun Nurani.

Baca Juga: Demo Ojol 17 September 2025, Massa Lakukan Aksi di 3 Lokasi Ini, Awas Macet!

Terakhir, AKBP Anggi Saputra Ibrahim sangat mengapresiasi kehadiran PMII dan menilai kegiatan tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap Polri.

“Kami berterima kasih kepada sahabat-sahabat PMII. Kehadiran mereka ke Polres ini menunjukkan kepedulian dan rasa sayang kepada Polri. Kami diingatkan untuk terus berbenah agar ke depan menjadi lebih baik," pungkasnya.

Editor : Andhika Attar Anindita
#audiensi #pmii #reformasi polri #SPPG #polres kediri kota