KEDIRI , JP Radar Kediri– Pemkab Kediri menyalurkan bantuan untuk warga terdampak angin kencang di Kecamatan Mojo yang terjdi pada Rabu (3/12) lalu.
Bantuan tersebut diserahkan melalui BPBD Kabupaten Kediri sebagai bentuk respons cepat pemda dalam membantu pemulihan warga yang rumahnya rusak akibat terpaan angin.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kediri Stefanus Djoko Sukrisno menjelaskan, total ada sepuluh paket sembako yang dibagikan kepada warga di desa yang terdampak.
Bantuan sembako itu berisi beras, roti, gula, susu, makanan kaleng, serta lauk pauk untuk memenuhi kebutuhan harian para korban.
Pemda berharap bantuan ini dapat mengurangi beban warga sambil menunggu proses perbaikan rumah yang rusak.
Selain sembako, Pemkab Kediri juga menyalurkan material bahan bangunan untuk empat rumah yang masuk kategori rusak sedang.
Djoko menyebut, jumlah material yang diberikan berbeda-beda, mulai 10 lembar, 14 lembar, 5 lembar, hingga 3 lembar esbes, menyesuaikan tingkat kerusakan masing-masing rumah.
“Untuk kerusakan ringan ditangani melalui bantuan desa,” ujarnya. Adapun empat rumah rusak sedang itu berada di dua lokasi, yakni satu rumah di Kraton dan tiga rumah di Kedawung.
Tidak hanya distribusi logistik, BPBD Kabupaten Kediri juga melakukan penanganan darurat lainnya.
Salah satunya pemotongan pohon tumbang yang menimpa rumah warga di beberapa titik terdampak angin kencang.
Upaya itu dilakukan untuk memastikan lingkungan kembali aman dan tidak menghambat aktivitas masyarakat.
Petugas juga dikerahkan untuk memeriksa titik-titik rawan dan memastikan tidak ada ancaman lanjutan yang membahayakan warga.
Djoko menegaskan, BPBD terus bersiaga mengingat cuaca ekstrem masih kerap terjadi dalam beberapa pekan terakhir.
Sebelumnya diberitakan, hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Kediri pada Rabu lalu menyebabkan puluhan rumah rusak ringan dan sedang di wilyah Mojo.
Berikutnya, Kamis sore lalu, hujan deras turut menyebabkan sejumlah kejadian bencana lain. Di Desa Tiron, enam rumah dilaporkan terendam banjir luapan dari aliran sungai setempat.
“Rumah yang di ledokan, yang di area bantaran sungai (yang tergenang),” jelas Djoko. Meski air turut meluber ke lingkungan sekitar, banjir tidak sampai masuk ke rumah warga lainnya.
Genangan bertahan selama sekitar satu jam sebelum perlahan surut dan dapat diatasi oleh petugas bersama warga.
Banjir juga terjadi di Dusun Grogolwetan, Desa/Kecamatan Grogol. Meski tidak sampai masuk rumah, air menggenangi badan jalan desa.
“Banjir karena di sana ada pertemuan dua sungai kecil dan drainase. Yang satu lebih deras, akhirnya yang satu tidak bisa masuk dan airnya meluber ke jalan,” terang Djoko.
Jalan yang tertutup lumpur langsung dibersihkan dengan penyemprotan agar bisa kembali dilalui warga.
Sementara itu, di Desa Kaliboto, Tarokan, air bah kembali menggenangi sawah dan sebagian jalan, namun cepat kering dan tidak separah kejadian tahun lalu.
Selain banjir, hujan deras di wilayah barat sungai juga membuat tembok penahan tanah (TPT) di Dusun Ngijo, Desa Sumberagung, Wates, mengalami longsor. Beruntung, longsoran tersebut tidak sampai memutus akses jalan warga.
“Kami langsung koordinasi dengan PUPR untuk segera memperbaiki. Kalau tidak segera diperbaiki, jalan bisa putus,” tegas Djoko.
Ia mengimbau masyarakat tetap waspada menghadapi perubahan cuaca ekstrem serta segera melapor jika terjadi kejadian serupa agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
Editor : Andhika Attar Anindita