Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Air Bah Setinggi Satu Meter Genangi Rumah Warga Tiron Kediri, Ini Penyebabnya

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Minggu, 7 Desember 2025 | 05:12 WIB

LANGGANAN BANJIR: Air bercampur lumpur dari Gunung Wilis masih memenuhi Sungai Berkas di Desa Tiron, Banyakan yang Kamis (3/12) sore lalu meluap.
LANGGANAN BANJIR: Air bercampur lumpur dari Gunung Wilis masih memenuhi Sungai Berkas di Desa Tiron, Banyakan yang Kamis (3/12) sore lalu meluap.

KEDIRI, JP Radar KediriBelum genap sebulan pasca-luapan air bah di Desa Manyaran, Banyakan, akhir November lalu, wilayah barat sungai kembali kebanjiran pada Kamis (4/12) sore.

Kali ini giliran sejumlah rumah di bantaran Sungai Berkas yang tergenang. Air masuk ke dalam rumah hingga setinggi satu meter.  

Sungai Berkas meluap setelah hujan deras mengguyur Desa Tiron, Banyakan sejak pukul 14.00 Kamis lalu. Sekitar pukul 15.00 hujan sudah reda. Namun, bencana justru dimulai.

Tiba-tiba saja debit air Sungai Berkas meningkat. “Air datang sangat keras dari arah Gunung Wilis,” kata Sri Utami Ningsih, warga setempat. Hanya dalam hitungan menit, air langsung meluber ke beberapa rumah yang ada di bantaran sungai.

Perempuan berusia 52 tahun yang menyadari terjadinya bencana, langsung mengemasi barang-barang yang rawan rusak saat terkena air. Namun, dia kalah cepat dengan gerakan air.

Baca Juga: Rumah Warga Mojo Kediri Rusak Diterjang Angin Kencang, Ini Langkah Pemkab

“Nggak nutut (mengamankan semua barang). Alhamdulillah berkas-berkas sudah aman,” ungkap Sri yang hanya bisa pasrah saat air setinggi sekitar satu meter masuk ke dalam rumahnya.

Banjir Kamis sore lalu bukan bencana pertama yang dialami Sri. Desember tahun lalu rumahnya juga tergenang air bah.

Bahkan, air sampai setinggi atap rumah. Akibatnya, teras rumahnya ambruk tersapu air. Dua kali menjadi korban banjir, Sri berharap ada penanganan permanen untuk mencegah banjir.

Salah satunya normalisasi sungai dan pembangunan tanggul. “Beberapa kali hanya didata saja tapi nggak ditindak. Tidak dipasang tanggul, sungainya juga tidak dinormalisasi,” sesal perempuan yang kemarin kembali bersiap karena awan mendung sudah menggelayut di sana.

Terpisah, Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri Stefanus Djoko Sukrisno menyebut, hujan deras pada Kamis sore lalu menyebabkan banjir luapan di beberapa titik.

Di Desa Tiron ada enam rumah yang terendam banjir. “Rumah yang di ledokan, yang di area bantaran sungai (yang tergenang),” jelasnya sembari menyebut air juga meluber ke sekitarnya namun tidak sampai masuk ke rumah lain.  

Djoko menuturkan, banjir melanda Desa Tiron selama sekitar satu jam. Selebihnya mulai surut. Selain di Desa Tiron, banjir juga melanda Dusun Grogolwetan, Desa/ Kecamatan Grogol.

Beruntung, air bah tidak sampai masuk ke dalam rumah warga. Melainkan menggenangi jalan desa.

“Banjir karena di sana ada pertemuan dua sungai kecil dan drainase. Yang satu (sungai) lebih deras, akhirnya yang satu (air sungai) tidak bisa masuk dan airnya meluber ke jalan,” terangnya sembari menyebut jalan yang penuh lumpur itu langsung disemprot.

Selebihnya, di Desa Kaliboto, Tarokan air bah juga menggenangi sawah dan meluber ke jalan. “Tapi langsung kering, tidak seperti tahun sebelumnya,” terang Djoko tentang banjir lebih besar di sana 2024 lalu.

Selain di barat sungai, hujan deras juga membuat tembok penahan tanah (TPT) di Dusun Ngijo, Desa Sumberagung, Wates longsor.

Untungnya, bencana tersebut tidak sampai membuat jalan terputus. “Kami langsung koordinasi dengan PUPR untuk segera memperbaiki. Kalau tidak (segera diperbaiki), jalan bisa putus,” terangnya.

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#banjir #air bah #bandara dhoho