JP Radar Kediri-Mata Agus Sulistyo berkaca-kaca kemarin siang. Pria berusia 47 tahun itu tak bisa menutupi kesedihannya, saat menceritakan kenangan terakhir bersama Elvy Nuhayati, pada Selasa (25/11) malam. Dia sama sekali tak menyangka jika perempuan yang dikenal baik itu meninggal dengan cara tragis bersama anak sulungnya.
Sekitar pukul 14.00 kemarin (26/11), rumah duka di Dusun Munengkulon, Desa Muneng, Kecamatan Purwoasri, dipenuhi pelayat. Di depan rumah berjajar dua keranda yang siap mengangkut jenazah Elvy, 41, dan Ellinda Jelsa Ika Eldianti, 22, anak sulungnya. Di dekat keranda juga sudah disiapkan dua batu nisan yang sudah diberi nama.
Sembari menunggu kedatangan jenazah, para pelayat tak henti-hentinya membahas sosok Elvy dan putri-putrinya yang dikenal baik di lingkungan. Mereka tak menyangka jika Elvy dan Linda (sapaan akran Ellinda) akan tewas karena dibunuh. Demikian pula Elsa Dwi Intan Meylani, 18, putri bungsu, yang ditemukan kritis di tempat kos mereka, Jl Monginsidi, Kelurahan Payaman, Nganjuk, pada Selasa malam.
“Tidak ada yang menyangka akan seperti ini. Tadi malam (25/11) juga sempat bercanda. Guyon bareng,” kata pria yang akrab disapa Agus itu dengan mata berkaca-kaca.
Selama ini, Elvy memang tinggal di tempat kos tersebut. Sebab, sehari-hari dia memang bekerja di Nganjuk. Sedangkan Elsa dan Linda kadang tinggal di Nganjuk, kadang juga di Purwoasri menemani Iswandi, sang ayah.
Kebetulan, Selasa malam lalu Elvy dan anak-anaknya berada di rumah Purwoasri. “Ya guyon bareng. Mereka itu anak-anak yang baik. Sama keluarga juga suka guyon,” kenangnya.
Bahkan, Elsa yang kemarin dalam kondisi kritis juga sempat membelikannya pentol. “Puh (paman), ini pentol Puh,” tutur Agus menirukan kalimat keponakannya yang membelikannya pentol.
Sedianya, Elvy dan kedua anaknya menginap di rumah Purwoasri. Mereka baru akan berangkat ke Nganjuk kemarin pagi. Namun, rencana mereka berubah karena Selasa malam sekaligus jadwal piket Iswandi.
Karenanya, mereka berangkat ke Nganjuk berbarengan.“Adik saya (Iswandi) ini kan anggota dPolsek Kertosono. Jadi habis Isya itu sekalian ngantar ke Nganjuk. Sekalian berangkat piket,” terang pria yang rumahnya tepat berada di belakang rumah Iswandi itu tentang petaka yang terjadi hanya beberapa jam setelah keberangkatan mereka ke Nganjuk.
Rupanya, pertemuan dengan Elvy dan Linda pada Selasa malam lalu merupakan kenangan terakhirnya. Dia tidak bisa lagi bercanda dengan adik ipar dan keponakannya yang ceria itu karena mereka telah meninggal dunia.
Yang membuat Iswandi semakin sedih, keluarganya itu meninggal karena dibunuh. “Dia (Elvy) itu orang baik. Dulu saya mau ada hajatan, pinjam uang Rp 5 juta juga diberi. Orangnya baik,” kenang Agus menahan tangis tentang perempuan yang sehari-hari bekerja di BPR Lestari itu.
Kabar duka baru diketahui Subuh kemarin. Pintu rumahnya diketuk oleh kerabat. Mereka mengabarkan Elvy meninggal dunia. “Jam 03.00 saya ditelpon oleh adik (Iswandi) tapi tidak saya angkat karena tertidur,” sesalnya.
Mengetahui kabar Elvy meninggal, dia langsung menghubungi sang adik. Jika sebelumnya Agus mengira kerabatnya jadi korban perampokan, dia baru mengetahui jika Elvy dan anak sulungnya meninggal karena dibunuh.
Dia semakin sedih karena tahu si bungsu juga terluka dan dalam kondisi kritis. “Saya nelpon adik, dia https://editor2.promediaindonesia.com/profile#change_emailnangis terus,” lanjutnya menggambarkan duka keluarganya.
Rencananya, jenazah Elvy dan Linda akan dimakamkan di TPU Dusun Munengkulon. Namun, Agus mengaku belum mengetahui waktu pasti kedatangan jenazah. Sebab, pukul 13.00 kemarin jenazah masih diotopsi di RS Bhayangkara Nganjuk.
Untuk diketahui, tubuh Elvy dan Linda ditemukan berlumuran darah sekitar pukul 23.30 Selasa (25/11) malam. Sedangkan Elsa dalam kondisi kritis. Sekretaris Desa Muneng, Purwoasri Ibnu Hanif juga membenarkan tentang kondisi warganya yang tewas karena dibunuh. “Dikabari tadi pagi (26/11). Betul korban meninggal dunia karena korban pembunuhan,” jelas pria berusia 34 tahun itu.
Sementara itu, Polres Nganjuk langsung bergerak cepat mengusut kasus pembunuhan terhadap anggota Bhayangkari itu. Korps baju cokelat menangkap Danang Susilo, 30. Dia dibekuk pukul 01.30 Rabu (26/11) dini hari di rumahnya, Desa Jogomerto, Tanjunganom.
Kasatreskrim Polres Nganjuk AKP Sukaca menyebut pihaknya masih melakukan pemeriksaan secara intensif terhadap Danang. Terutama untuk mendalami motifnya berbuat keji. “Untuk sementara dugaan motifnya karena (pelaku) sakit hati,” jelasnya. (*)
Editor : Mahfud