KEDIRI, JP Radar Kediri-Bencana banjir yang sering terjadi di Desa Sepawon, Plosoklaten memang tidak masuk ke rumah warga. Namun, dampaknya tetap saja dirasakan oleh masyarakat setempat. Sebab, air bah menggerus jalan hingga ruas sepanjang 1,4 kilometer rusak parah.
Kepala Desa Sepawon, Plosoklaten Rahmad Sudrajat mengatakan, banjir langganan masuk ke desanya sejak Oktober lalu. “Banjir hampir selalu terjadi saat turun hujan deras,” kata Rahmad.
Air bah yang berasal dari perkebunan di lereng Gunung Kelud, lanjut Rahmad, menggerus jalan desa yang kebetulan menjadi akses lewatnya air.
“Yang terparah akhir Oktober lalu karena peralihan musim,” lanjutnya.
Lebih jauh Rahmad menyebut, saat musim kemarau di perkebunan Ngrangkah Pawon masih berisi tanaman tebu. Sehingga air hujan tidak meluber ke pemukiman penduduk dan jalan raya.
Adapun November ini, tanaman tebu di perkebunan sudah ditebang. Hal itulah yang menurutnya memperparah kondisi. Saat desanya diguyur hujan deras, air dari perkebunan langsung turun ke jalan.
Akhir Oktober lalu air bah juga masuk ke Desa Sepawon dan Desa Wonorejo Trisulo yang letaknya di bawah Sepawon. “Perkebunan sudah membuat aliran air tapi untuk wilayah barat airnya dialirkan ke selatan dan harus melintasi akses jalan. Ini yang bikin jalan rusak,” lanjutnya.
Akibatnya, jalan sepanjang 1,4 kilometer rusak parah tergerus air bah. Saat hujan, warga tidak bisa melintasi jalan tersebut. Mereka harus menunggu hujan reda agar bisa turun ke daerah perkotaan.
“Itu jalan satu-satunya. Jadi masyarakat harus lewat situ dulu. Kalau sedang hujan nunggu dulu. Termasuk untuk anak-anak yang sekolah,” paparnya menyesalkan belum turunnya corporate social responsibility (CSR) perkebunan.
Rahmad berharap di desanya dibuatkan gorong-gorong. Sehingga, air dari perkebunan tidak lagi melewati jalan dan mengakibatkan kerusakan.
Pemerintah desa, menurut Rahmad sudah pernah mengusulkan agar perbaikan jalan dibiayai oleh pemkab. Namun, hal tersebut tidak bisa dilakukan karena lahan masuk area hak guna usaha (HGU). Selanjutnya, mereka melapor ke perkebunan tapi belum ada tindak lanjut.
Terpisah, Manajer Kebun Ngrangkah Pawon PTPN 1 Regional 5 Muhammad Nur Shodiq beralasan pihaknya juga sudah berupaya menanggulangi banjir. Di antaranya dengan membuat banyak sudetan untuk mengalirkan air ke sungai. “Beberapa kali hujan sudah aman,” jelasnya.
Baca Juga: Banjir Luapan Terjang Desa Manggis Ngancar Kediri, Ini Penyebabnya
Terkait air dari perkebunan yang menggerus jalan, menurut Shodiq pihaknya sedang melakukan pengadaan gorong-gorong. “Sedang diproses pengadaan gorong-gorong. Yang penting tidak mengalir ke warga dulu karena harus melewati jalan agar bisa dibuang ke selatan,” paparnya
Ditanya tentang pembangunan jalan, Shodiq menyebut hingga November ini masih belum ada arahan dari pusat. Terkait tidak adanya CSR perkebunan, dia berdalih dana digunakan untuk penanganan banjir.
Sementara itu, Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri Stefanus Djoko Sukrisno menyebut, penanganan banjir di sana salah satu rekomendasinya terkait penggantian tanaman keras. Selain di Desa Sepawon, menurut Djoko banjir luapan juga terjadi di Desa Manggis, Ngancar, pada Selasa (18/11) sore.
“Pukul 17.30 kondisi air sudah kembali surut. Untuk kondisi air yang menggenang tidak sampai masuk ke permukiman warga,” paparnya.
Masih terkait penanganan bencana banjir, Djoko menjelaskan kemarin (19/11) pihaknya memberikan bantuan kedaruratan kepada 62 kepala keluarga (KK) warga yang terdampak banjir di Desa Manyaran, Banyakan pada Minggu (16/11) lalu. Tiap KK mendapat bantuan sembako, beras, lauk pauk, dan family kit dari Pemkab Kediri.
“Bantuan murni dari pemkab melalui BPBD untuk diberikan bantuan kepada 62 KK. Harapannya, bisa meringankan beban dan kedepan bisa lebih semangat,” sambung Kasi Rehab Rekontruksi BPBD Kabupaten Kediri Bayu Adi Santoso.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Shinta Nurma Ababil