Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ini Dampak Kasus Motor Brebet akibat Isi Pertalite, Penjualan BBM SPBU Swasta Naik Drastis

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Minggu, 2 November 2025 | 17:32 WIB

 

Pemotor mengisi bahan bakar di SPBU non-Pertamina.
Pemotor mengisi bahan bakar di SPBU non-Pertamina.

Takut Brebet, Mayoritas Beralih ke Bensin RON 92

JP Radar Kediri-Insiden sepeda motor brebet atau ngadat membuat masyarakat beralih membeli bahan bakar minyak (BBM) di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) swasta.  Akibatnya, omzet mereka langsung melonjak hingga lebih dari 100 persen. 

Salah satunya di SPBU Mobil Indostation yang memiliki sejumlah gerai di Kota dan Kabupaten Kediri. Dadang Prahmana, salah satu operator Mobil Indostation di Desa Sambirejo, Gampengrejo mengakui jika pembelian BBM di tempatnya melonjak tajam sejak Selasa (28/10) lalu. “Biasanya sehari hanya sekitar 200 liter. Sejak kasus itu (fenomena motor brebet) bisa di atas 500 liter sehari,” katanya. 

Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, jika biasanya pembeli BBM di Mobil Indostation didominasi sepeda motor, sejak Selasa lalu memang banyak kendaraan roda empat yang membeli BBM di sana. Baik mobil baru maupun mobil keluaran di bawah tahun 2010 juga banyak yang beralih membeli BBM RON 92 itu di SPBU swasta. 

Lia, 30, warga Ngasem, yang membeli BBM di SPBU Mobil Indostation mengaku beralih ke sana karena khawatir motornya bermasalah. Perempuan yang biasa memakai Pertalite itu rela merogoh kocek lebih mahal untuk membeli BBM di luar SPBU Pertamina.  

“Biasanya beli di pom (SPBU Pertamina). Ini sudah empat kali beli di Mobil (Indostation). Saya takut lihat banyak motor yang macet,” tuturnya.

Tak hanya di SPBU Mobil Indostation Sambirejo saja yang diserbu pembeli. Gerai mereka di Kelurahan/Kecamatan Pesantren juga mengalami peningkatan omzet penjualan. Abil Farozi, operator SPBU mikro itu mengatakan, biasanya sehari dia hanya bisa menjual 500 liter BBM. Namun, sejak Selasa lalu naik dua kali lipat. 

“Sehari bisa 900-1.000 liter,” akunya. Dalam 10 menit memang ada lebih dari 10 sepeda motor dan mobil yang membeli BBM di sana. Padahal, SPBU yang menjual BBM dengan harga yang sedikit lebih mahal dari SPBU Pertamina itu biasanya relatif sepi.

Untuk diketahui, pada Oktober lalu harga BBM RON 92 di sana dijual Rp 12.897 per liter. Sedangkan mulai kemarin (1/11) harga BBM turun menjadi Rp 12.680 per liter. 

Jika penjualan BBM di SPBU swasta naik berlipat, penjualan pertalite di SPBU Pertamina merosot. Misalnya, di SPBU Joyoboyo yang biasanya menjual 17-18 ton BBM RON 90 itu, kemarin hanya laku sekitar 14 ton. “Karena merasa takut (beli pertalite) jadi turun 2-3 ton,” ungkap Dewi Irianti, pengawas SPBU Joyoboyo.

Bagaimana dengan penjualan pertamax atau BBM RON 92? menurut Dewi penjualan BBM tersebut kini naik. Jika biasanya hanya sekitar 6 ton per hari, sekarang menjadi 8-10 ton.

Untuk diketahui, hingga kemarin jumlah warga yang melapor ke posko SPBU Pertamina terkait insiden motor brebet terus bertambah. Selain pemakai pertalite, ada pula yang menggunakan pertamax dan motornya tetap ngadat.

Seperti dikatakan oleh Sidqi, 24, pemilik sepeda motor Honda Supra X 125 full injeksi itu mengaku biasa mengisi BBM pertalite dan tidak mengalami kendala. Selanjutnya, Kamis (30/10) lalu dia beralih ke pertamax karena khawatir motornya akan ngadat seperti kendaraan lainnya.

“Tapi ini mengisi pertamax ternyata malah ngadat,” keluh pria yang mengisi BBM di salah satu SPBU di Kecamatan Gampengrejo itu. 

Saat dibawa ke salah satu bengkel di Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, mekanik menyebut kondisi motor yang brebet itu akibat bahan bakarnya. Yakni, munculnya kerak yang membuat injeksi tidak lancar. 

Karenanya, mekanik membersihkan injektor serta mengganti busi dan filter BBM. “Mayoritas keluhan setelah isi pertalite. Namun ada juga yang rusak setelah isi pertamax,” tutur Ami, salah satu pemilik bengkel di Kecamatan Mojoroto.

Selain Sidqi, Nanik, 25, warga Kecamatan Pare juga mengeluhkan hal serupa. Sebelum beralih ke pertamax pada Jumat (31/10) lalu, dia konsisten membeli pertalite. Namun, saat itu justru tarikan motornya terasa berat dan beberapa kali brebet di jalan.

“Brebet seperti mau mati tapi nggak jadi. Apalagi di traffic light setelah menunggu lampu merah, pasti brebet,” keluhnya. 

Hal senada juga dikatakan oleh Satria Agung, warga Kecamatan Kras. Seperti halnya Sidqi dan Nanik, dia juga pengguna pertalite yang beralih ke pertamax. Bedanya, Satria baru menggunakan pertamax setelah motornya brebet. “(Setelah motor brebet karena memakai pertalite) saya kuras langsung saya ganti pertamax,” akunya. 

Namun, problem tidak langsung selesai. Sebaliknya, kondisi sepeda motornya tambah parah. “Tarikan semakin berat dan kondisi brebetnya lebih parah. Di traffic light tiba-tiba mati. Untungnya bisa dinyalakan lagi,” beber pria berusia 22 tahun itu sembari menyebut hingga kemarin dia belum membawa motornya ke bengkel.

Sementara itu, Dewi yang dikonfirmasi tentang jumlah pengguna pertalite yang mengajukan ganti rugi menyebut, hingga kemarin total ada 11 orang yang datang ke posko. Terkait adanya keluhan motor brebet usai mengisi pertamax, dia menduga hal itu karena sepeda motor sebelumnya menggunakan pertalite. Kemudian, dia baru ganti ke pertamax setelah ramai insiden brebet. 

“Bisa jadi karena tercampur,” tengarainya ditemui di SPBU Joyoboyo kemarin. Meski demikian, Dewi menyebut keluhan motor brebet setelah mengisi pertamax juga bisa mengajukan keluhan ke posko. SPBU, lanjut Dewi, akan menampung semua keluhan untuk dikirimkan ke Pertamina.

“Kami tampung semua. Nanti kami laporan ke Pertamina. Tidak boleh menolak,” tandasnya. ()

Editor : Mahfud
#BBM Pertalite #Indomobil #kasus motor mogok BBM tercampur