Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kasus Motor Mbrebet, Ini yang Ditemukan Polisi ketika Periksa Kandungan Air Pertalite di Beberapa SPBU Kota Kediri

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Kamis, 30 Oktober 2025 | 18:56 WIB
Ilustrasi pengcecekan bensin pertalite setelah kasus motor mbrebeg.
Ilustrasi pengcecekan bensin pertalite setelah kasus motor mbrebeg.

 JP Radar Kediri-Maraknya kondisi motor brebet atau ngadat setelah mengisi BBM Pertalite langsung ditindaklanjuti oleh polisi dari Polres Kediri Kota. Kemarin, satreskrim turun melakukan sidak ke sejumlah SPBU bersama organisasi perangkat daerah (OPD) Pemkot Kediri.

Kasatreskrim Polres Kediri Kota AKP Cipto Dwi Leksana mengatakan, pihaknya mengambil sampel BBM untuk diuji di beberapa SPBU Kota Kediri. “Kami ingin memastikan kualitas dan kuantitas BBM yang terdistribusi ke masyarakat,” kata Cipto.

Sidak dimulai pukul 09.30. Sasaran pertama adalah SPBU Joyoboyo di Kelurahan Kemasan, Kota Kediri. Di sana petugas memeriksa automatic tank gauge (ATG). Pengukur tangki otomatis ini menampilkan volume, ketinggian BBM, level air, dan suhu dalam tangki secara otomatis.

          Setelah memastikan kondisi ATG sesuai, petugas yang didampingi perwakilan Pertamina juga mengecek tangki penyimpanan Pertalite dan Pertamax menggunakan pasta air. Hasilnya, warna pasta air tetap sama. Padahal jika ditemukan kandungan air akan berubah warna menjadi pink.

          Tim kemudian mengisi bejana berisi 20 liter dengan gelas ukur. Selanjutnya, BBM di sana juga diperiksa. Rangkaian pengecekan yang sama juga dilakukan di dua SPBU lain. Yakni di SPBU Kelurahan Singonegaran, Pesantren, dan SPBU Kelurahan Ngampel, Kecamatan Mojoroto.

“Petugas melakukan uji kualitas baik secara spesifikasi, standar maupun mutu. Hasilnya BBM yang terdistribusi di Kota Kediri khususnya di lokasi pengecekan masih dalam batas normal dan batas toleransi,” jelas Cipto.

          Terpisah, Sales Branch Manager Pertamina Kediri 1 Anwar Hidayat menyebut, Pertalite di tiga SPBU yang disampling tidak ada kandungan airnya.

“Begitupun pengambilan sampel pada jenis produk Pertamax Turbo dan Bio Solar alhamdulillah tidak ada kandungan airnya,” tutur Anwar.

          Dalam sidak kemarin menurut Anwar tim juga mengecek density  temperature atau kepadatan massa zat dengan suhu. “Untuk BBM Pertalite toleransinya sesuai dengan SK (Surat Keputusan, Red) Dirjen Migas yaitu 0,715 sampai dengan 770,” jelasnya.

          Ditanya tentang keluhan warga akan adanya kandungan etanol pada BBM jenis Pertalite, Anwar menegaskan jika pengecekan etanol harus melalui uji laboratorium. Pertamina, kata Anwar, sudah mengambil sampel BBM Pertalite di beberapa SPBU untuk dicek di laboratorium di Surabaya. Selanjutnya, sampel juga dibawa ke kilang Balongan, Jawa Barat untuk dicek lebih lanjut.

“Terkait banyaknya motor mogok (akibat Pertalite, Red) masih diselidiki lebih lanjut. Petugas juga sudah mengambil sampel di Kediri, Nganjuk, Tuban, dan Surabaya,” tandasnya memastikan Pertalite tidak mengandung etanol.

Anwar mengimbau masyarakat yang mengalami keluhan motor ngadat setelah mengisi BBM, diminta melapor ke SPBU terdekat. Mereka diminta mengisi formulir keluhan pelanggan disertai dengan data diri dan struk pembayaran.

          Hingga kemarin menurutnya ada satu konsumen yang melapor ke Pertamina dan sudah mendapat kompensasi. “Senin (27/10) melapor, langsung dibawa ke bengkel dan kami beri ganti rugi kendaraannya,” imbuhnya.

          Sementara itu, fenomena motor brebet atau ngadat juga terjadi di Kabupaten Kediri. Sejumlah bengkel mengaku harus menyervis kendaraan yang ngadat setelah mengisi BBM jenis Pertalite. Padahal, sebelumnya motor tetap tidak ada masalah meski menggunakan Pertalite.

Seperti di AHASS Wates. Zein Abdulloh, 27, salah satu teknisi mengatakan, bahwa sejak Sabtu (25/10) lalu ada banyak sepeda motor dengan keluhan ngadat setelah beli Pertalite. Setelah diperiksa, kendaraan tersebut mengalami kerusakan pada busi. Yakni, busi yang mengalami detonasi atau pembakarannya tidak sempurna.

"Kalau biasanya busi yang rusak itu warnanya hitam. Kalau ini seperti putih kehijau-hijauan. Seperti karat," papar pria yang kemarin sudah menangani empat sepeda motor dengan keluhan brebet atau ngadat.

Warga Desa Pagu, Wates itu mengatakan, kerusakan mayoritas terjadi pada sepeda motor matic injeksi. Mayoritas juga kendaraan keluaran baru. Bahkan ada motor matic yang baru pertama servis dan langsung brebet.

          Setelah diperiksa, ada dugaan kerusakan karena bahan bakar. Dari keterangan pelanggan yang datang, motor mereka brebet setelah membeli BBM Pertalite.

          Kerusakan motor setelah membeli Pertalite juga dialami warga Papar. Syakur, 28, pemilik bengkel di Desa Janti, Papar mengaku sudah menangani beberapa kendaraan dengan keluhan brebet setelah mengisi Pertalite. “Di perjalanan motor brebet dan mati,” urainya sembari menyebut pihaknya melakukan pembersihan dan penggantian suku cadang kendaraan yang rusak.

          Wenti Eriska, 33, warga Desa Kunjang, Kecamatan Ngancar mengeluhkan kondisi sepeda motor Honda PCX miliknya yang brebet setelah mengisi Pertalite di SPBU Wates.

"Keluhannya ini sudah sudah empat hari terakhir. Sejak mulainya ngisi Pertalite itu, terus kalau dipakai itu kayak brebet brebet atau macet seperti mau kehabisan bensin,” tuturnya.

Setelah motornya ngadat, Wenti ganti membeli Pertamax. Namun, brebet di motornya belum bisa teratasi. Motor baru normal kembali setelah dibawa ke bengkel untuk dikuras tangkinya. “Tadi (29/10) juga mengganti busi. Setelah itu baru normal kembali,” tandas Wenti berharap kualitas Pertalite bisa kembali baik lagi agar motornya tidak bermasalah seperti dulu.

Hasil Sidak SPBU:

Hasil pengukuran tera pada bejana kapasitas 20 liter memberi hasil bervariasi. Minus di SPBU Joyoboyo sebanyak 20 mililiter dan SPBU Baruna 40 mililiter atau masih dalam toleransi. (*)

Editor : Mahfud
#sidak #BBM Pertalite