JP Radar Kediri-Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal) memprotes keras tayangan Xpose uncensored di Trans7. Kemarin, Himasal Kediri Raya melakukan aksi di Polres Kediri Kota. Alih-alih melakukan demo, mereka membacakan pernyataan sikap sembari menggelar doa bersama di Masjid Baiturrahim Polres Kediri Kota.
Dalam kesempatan tersebut, Muhammad Faidul Haq, perwakilan Himasal Kediri Raya membacakan pernyataan sikap mereka. “Mengecam Trans7 yang merendahkan marwah kiai dan pesantren,” kata Faid.
Yang kedua, Himasal menuntut permohonan maaf langsung dari Owner Trans7 Chairul Tanjung kepada Kiai Anwar Manshur. Selanjutnya, menuntut semua pihak yang terlibat dalam pembuatan video untuk meminta maaf dan di proses hukum secara negara.
“Keempat, menayangkan program positif tentang pondok pesantren di televisi dan media massa. Itulah pernyataan dari Himasal Kediri Raya,” tegasnya.
Dimulai sekitar pukul 13.00, aksi dipimpin oleh Ketua Himasal Kediri Raya Gus Abu Bakar Abdul Jalil atau yang akrab disapa Gus Ab. Dalam acara yang dikemas doa bersama itu, Gus Ab membeber perbedaan pondok pesantren (ponpes) dengan tempat belajar lainnya.
“Pondok Pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua. Memiliki pembeda dengan yang lain,” ungkap pria yang juga ketua PCNU Kota Kediri itu.
Perbedaan antara pesantren dengan lainnya, menurut Gus Ab terkait ilmu dan amal yang diajarkan. Dia mencontohkan tradisi roan yang merupakan bentuk pengamalan ilmu.
Selanjutnya, terkait uswatun khasanah atau suri tauladan yang sangat melekat dan terpatri dalam hati. “Terakhir yaitu adanya ajaran ruhul jihad atau semangat perjuangan yang ikhlas karena Allah,” ujar Gus Ab di hadapan sekitar 100 santri kemarin.
Seperti yang diberitakan, tayangan Xpose uncensored di stasiun televisi Trans7 menuai reaksi keras dari kalangan pesantren dan masyarakat. Tayangan itu memunculkan tagar #BoikotTrans7 di berbagai platform media sosial. Tayangan yang diproduksi oleh production house itu dinilai menyudutkan kiai dan pondok pesantren. (*)
Editor : Mahfud