JP Radar Kediri – Kasus kelamin ganda kembali menyita perhatian publik. Setelah dulu publik sempat dibuat terkejut dengan kabar perubahan status jenis kelamin mantan atlet voli nasional dan prajurit TNI, Serda Aprilia Manganang, kini kejadian serupa kembali terjadi di Kediri. Seorang bocah berusia 9 tahun, Lik (bukan nama sebenarnya), diduga mengalami kondisi serupa.
Lik, siswa kelas 3 SD asal Kecamatan Badas, selama ini diperlakukan sebagai anak perempuan oleh keluarganya.
Penampilannya pun demikian. Ia memakai gamis dan jilbab, dan memiliki wajah yang menyerupai anak perempuan pada umumnya.
Namun, saat usia bertambah, muncul tonjolan di area genital yang menyerupai alat kelamin laki-laki.
Kondisi tersebut semula ditutup-tutupi. Baru saat duduk di bangku kelas 3 SD, orang tua dan tetangga mulai menyadari bahwa kemungkinan besar Lik mengalami kelainan medis. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan bahwa hormon laki-laki dalam tubuh Lik dominan, hingga 90 persen.
Kondisi ini mengingatkan pada kasus Aprilia Manganang. Serda Manganang sempat menjalani hidup sebagai perempuan selama puluhan tahun sebelum akhirnya ditetapkan secara medis dan hukum sebagai laki-laki.
Kala itu, KSAD Jenderal TNI Andika Perkasa menyebut, Manganang mengalami kelainan hipospadia berat sejak lahir, yaitu kelainan di mana muara uretra tidak berada di tempat semestinya, sehingga kelaminnya tampak seperti perempuan. Bahkan, hasil pemeriksaan hormon dan organ reproduksi menunjukkan tak ada organ wanita dalam tubuhnya.
Hipospadia sendiri, menurut dokter spesialis urologi, adalah kondisi bawaan lahir yang membuat organ kelamin laki-laki tampak seperti perempuan.
Dalam beberapa kasus, seperti yang dialami Aprilia Manganang, bisa memengaruhi identitas gender seseorang hingga dewasa. Satu-satunya solusi medis adalah operasi rekonstruksi.
Menanggapi kasus Lik, Anggota DPRD Kabupaten Kediri, Maskur Lukman, langsung turun tangan. Ia meminta pemkab untuk memfasilitasi penanganan medis secara tuntas, termasuk jika operasi diperlukan.
Bahkan, Maskur menyatakan siap membuka donasi untuk membantu biaya pendampingan Lik dan keluarganya.
Pemkab pun bergerak cepat. Sekda Kabupaten Kediri Moh Solikin menyebut, tim dari dinas kesehatan, dinas sosial, serta DP2KBP3A sudah melakukan asesmen awal. Bahkan, aktivasi BPJS untuk kebutuhan Lik juga sudah dilakukan.
“Kami akan kawal tidak hanya secara medis, tapi juga sisi psikologisnya. Masbup juga sudah instruksikan agar penanganan tuntas,” jelas Solikin.
Sebagai catatan, ini bukan kali pertama Kediri menghadapi kasus serupa. Tahun 2015 lalu, seorang warga Kecamatan Semen bernama Ani juga mengalami kondisi kelamin ganda dan memutuskan menjalani hidup sebagai laki-laki setelah serangkaian pemeriksaan dan operasi.
Melalui kasus ini, publik diingatkan bahwa kelamin ganda bukanlah aib, melainkan kondisi medis yang membutuhkan perhatian, pemahaman, dan pendampingan serius.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira