Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Gara-gara Bakar Daduk Tebu Dua Warga Blawe Tewas, Dispertabun Minta Petani Lakukan Hal Ini

Mahfud • Senin, 4 Agustus 2025 | 15:22 WIB

 

TKP: Polsek Purwasari memasang garis polisi di lokasi kejadian.
TKP: Polsek Purwasari memasang garis polisi di lokasi kejadian.

JP Radar Kediri-Pembakaran daun tebu kering atau daduk di lahan Desa Blawe, Purwoasri pada Jumat (1/8) siang berujung petaka. Murtaji, 65, dan Poniman, 70, buruh tani yang melakukan pembakaran daduk di sawah milik Budianto, warga setempat, diketahui tewas terpanggang.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Kediri menyebut, pembakaran daduk di lahan milik Budianto dimulai sejak Jumat pagi. Sekitar pukul 10.00, Budianto sempat datang mengantar makanan. Selain Murtaji dan Poniman, ada pula Suwaji, 58, buruh tani lain yang ikut membakar daduk. 

“Saksi (Budianto) meminta agar pembakaran daduk dihentikan pukul 11.00,” kata Kapolsek Purwoasri Iptu Rudi Hartono. 

Namun, sekitar pukul 11.30, Poniman justru membakar sisa daun tebu di sisi utara lahan. Alasannya karena daun kering di sana tinggal sedikit. Dengan kondisi angin yang kencang, api langsung merembet ke titik lain. Termasuk ke kebun tebu milik warga lain. 

Melihat api semakin besar, Suwaji berusaha memisahkan api dari tanaman tebu di lahan sebelahnya agar tidak semakin meluas. Api baru bisa dipadamkan sekitar pukul 13.30.

Setelah berhasil mengendalikan api, Suwaji menyadari dua rekannya hilang. Dia sempat mencarinya hingga ke rumah masing-masing pada Jumat sore. Namun, keduanya juga belum pulang. 

“Saksi (Suwaji) yang khawatir kembali ke sawah dan meminta bantuan kepada warga setempat,” lanjut Rudi.

Setelah memeriksa ke berbagai sudut sawah, mereka menemukan Murtaji dan Poniman dalam kondisi tak bernyawa. Tubuhnya hangus terbakar. Kejadian ini langsung dilaporkan ke Polsek Purwoasri.

“Hasil pemeriksaan tidak ada tanda-tanda kekerasan,” terang Rudi sembari menyebut berdasar pemeriksaan medis Poniman dan Murtaji mengalami combusio atau kerusakan kulit akibat jilatan api. 

Diduga kuat mereka lebih dulu pingsan karena kehabisan oksigen akibat asap dari api yang melalap daduk. Selanjutnya mereka meninggal dunia setelah mengalami luka bakar hebat.

Terkait insiden memilukan tersebut, Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Kabupaten Kediri mengimbau masyarakat agar tidak membakar daduk. Melainkan menjadikannya kompos atau pakan hewan ternak.

“Pembakaran daduk mengakibatkan polusi dan bisa mengganggu mikroorganisme di tanah. Terutama di lapis tanah atas hingga kedalaman 20 sentimeter,” kata Plt Kepala Dispertabun Kabupaten Kediri Sukadi melalui Kabid Prasarana Sarana dan Penyuluhan (PSP) Arahayu Setyo Adi.

Sampah daun tebu, lanjut pria yang akrab disapa Adi itu, bisa jadi campuran pakan ternak atau pupuk. Peristiwa di Desa Blawe menurut Adi menjadi atensi dispertabun. Dalam waktu dekat pihaknya akan menggelar edukasi pemanfaatan daun tebu kering.

Bagaimana jika masyarakat tetap membakar daun tebu kering itu? Adi meminta agar proses pembakaran diperhatikan. Di antaranya dengan diberi sekat minimal selebar dua meter.

Pembakaran daduk menurutnya juga harus menyesuaikan kemampuan. Besaran daduk yang dibakar harus sesuai dengan kondisi dan jumlah pekerja di lapangan. 

"SOP pasti tidak ada. Namun handling harus disesuaikan kapasitas orang yang membakar," tandasnya. (*)

Editor : Mahfud
#kebakaran #tewas #petani tebu