JP Radar Kediri-Niat Syah Rizal Fanani, 21, untuk mengadu nasib di Taiwan, berujung duka. Pria asal Desa Sidomulyo, Puncu yang menjadi pekerja migran di Republik Tiongkok pada 2024 lalu itu tewas setelah mengalami kegagalan multi-organ. Jenazahnya tiba di Kediri dini hari kemarin.
Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Kediri Ibnu Imad mengatakan, disnaker mendapat informasi dari Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) terkait meninggalnya Rizal di Chi-Mei Hospital, Taiwan. Dia berpulang pada 17 Juli lalu.
“Dia (Rizal) merupakan PMI prosedural. (Berangkat) melalui PT Citra Catur Utama Karya sekitar bulan Agustus 2024 lalu,” ungkap Ibnu. Begitu dinyatakan meninggal, pemerintah Indonesia langsung melakukan koordinasi dengan pemerintah Taiwan. Selanjutnya, Rabu (30/7) lalu jenazah Rizal diterbangkan dari Taiwan.
Jenazah tiba di Bandara Soekarno-Hatta pada pukul 13.35 Rabu lalu. Selanjutnya, jenazah dibawa ke Kediri lewat jalur darat. Jenazah tiba di rumah duka Desa Sidomulyo, Puncu pukul 02.45 dini hari kemarin (31/7).
“Proses pemulangan jenazah almarhum sepenuhnya difasilitasi oleh P3MI (Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia) dari Taiwan sampai rumah duka,” lanjut Ibnu.
Begitu tiba di rumah, jenazah langsung diserahterimakan oleh Disnaker Kabupaten Kediri dan Direktur PT CCUK, selaku P3MI, kepada pemerintah desa dan keluarga. Setelah jenazah Rizal dimakamkan, menurut Ibnu pihaknya memfasilitasi keluarga untuk mengurus asuransi.
Disnaker, lanjut Ibnu, akan membantu mengusulkan pencairan klaim asuransi lewat PT CCUK. Adapun Pemkab Kediri juga akan menyerahkan bantuan sosial (bansos) uang untuk ahli waris.
“Bansos untuk PMI meninggal Rp 3 juta. Prosesnya sesuai dengan ketentuan,” terangnya.
Untuk diketahui, kasus TKI tewas di luar negeri bukan kali pertama terjadi di tahun 2025. Sebelumnya ada dua PMI yang meninggal. Pada 27 Juni lalu, pria berinisial BA yang merupakan Desa Sukoharjo, Plemahan, meninggal dunia di Bandara Incheon, Korea Selatan. Dia melompat dari lantai 3 dan terjatuh di lantai basement B1 bandara.
Selanjutnya, Imam Sari, 50, yang pernah tinggal di Desa Sumberbendo, Pare, meninggal dunia di Brunei Darussalam pada Kamis (26/6) silam. Dia meninggal dunia lantaran menderita sakit stroke.(*)