KABUPATEN, JP Radar Kediri- Bencana tanah longsor dan banjir di wilayah Kecamatan Mojo (16/5) sangat massif.
Tak hanya menimpa rumah dan jalan, juga lahan pertanian. Berhektare-hektare ladang yang semula ditanami cengkih dan jagung lenyap tak berbekas. Padahal, tanaman-tanaman itu sudah siap panen.
Seperti yang terlihat di Dusun Karangdoro, Desa Pamongan. Ladang yang dulu penuh tanaman jadi rata dengan tanah. Longsoran itu terlihat memanjang hingga Dusun Pamongan.
“Kira-kira ada 10 hektare (ladang yang rusak) ini,” kata Sugeng, 60, warga setempat.
Lahan yang rusak itu semuanya dikelola masyarakat. Ada yang berstatus tanah kas desa ada pula tanah pemajakan milik warga.
Sugeng salah satu pemilik lahan yang musnah itu. Luasnya sekitar satu hektare dan ditanami cengkih.
“Wis wayahe ngunduh (sudah waktunya panen, Red),” ucap Sugeng dengan wajah muram.
Dia mengenang, bencana terjadi sedemikian cepat. Hujan deras sejak siang hari menyebabkan tanah longsor mulai pukul 23.00 hingga dini hari.
Membuat masyarakat masih dilanda kekhawatiran. Mereka takut mendatangi tempat bercocok tanam itu. Lebih-lebih hujan masih turun setiap hari setelah kejadian.
“Ini paling nunggu sebulan baru berani lagi (ke ladang). Paling enggak nunggu tumbuh rumput-rumput dulu,” akunya, sambil mengamati lokasi longsor bersama warga lain.
Kepala Desa Pamongan Suyani mengatakan, longsor terjadi di lahan pertanian aktif. Komoditas yang terdampak meliputi cengkeh, durian, alpukat, jagung, hingga ketela.
“Untuk sementara waktu masyarakat diimbau tidak ke lokasi bencana. Terlebih di saat turun hujan,” tegas Suyani.
Sementara itu, kemarin Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri melanjutkan pembersihan dampak longsor. Memindah material yang menutupi jalan. Khususnya di Desa Petungroto dan Ngetrep.
“Kami turunkan alat berat untuk pembersihan material. Untuk (Desa) Ngetrep sudah mulai dari kemarin (Sabtu, 17/5, Red),” terang Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Stefanus Djoko Sukrisno.
Pihak BPBD mengerahkan dua alat berat dalam kegiatan itu. Meskipun demikian, akses di jalan utama belum sepenuhnya normal hingga sore kemarin. Baru bisa dilalui kendaraan roda dua.
“Mobil belum bisa lewat. Masih menunggu akses jalan dilebarkan dengan alat berat,” kata Bhabinkamtibmas Petungroto Aiptu Endyk Cahyo.
Di sisi lain, tim search and rescue (SAR) juga masih melanjutkan pencarian Tekat, 70, lansia perempuan yang hanyut akibat banjir bandang Jumat malam lalu.
Saat itu, hujan deras menyebabkan Sungai Bruni yang melewati rumah Tekat, di Desa Blimbing, meluap.
Menyebabkan tiga rumah warga rusak. Berikut Tekat yang hanyut bersama sembilan ekor kambingnya.
Komandan Tim Operasi SAR Mojo dari Basarnas Pos SAR Trenggalek Candra Kristiawan mengatakan, pencarian hari kedua kemarin sedikitnya melibatkan 50 personel. Terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, PMI, hingga relawan.
“Penyisiran di hari kedua total kurang lebih sepanjang 12 kilometer. Karena untuk SRU (search and rescue unit, Red) 3 kami menurunkan LCR (perahu karet, Red) dari Basarnas yang diawaki enam orang untuk penyisiran dari Desa Kraton sampai Jembatan Bandarngalim,” urai Candra.
Selain pencarian yang memanjang hingga Sungai Brantas, Candra mengatakan titik pencarian dibagi tiga unit.
Mulai dari sekitar tempat kejadian perkara (TKP) hingga hilir Sungai Bruni di Sungai Brantas.
“SRU 1 dan SRU 1 kami maksimalkan scouting atau penyisiran aliran sungai. Jadi dari TKP sampai nanti keluarnya di Sungai Brantas kami maksimalkan jalan kaki atau susur sungai,” tandasnya.
Di pencarian hari kedua itu, medan pencarian yang licin dengan tanah yang labil menjadi kendala tim SAR.
Terlebih dengan kondisi curah hujan yang masih tinggi serta sisa material bekas longsor yang terbawa arus sungai.
“Sempat berhenti sebentar dikarenakan turun hujan. Tapi kami maksimalkan sampai pukul 16.00,” bebernya sembari menyebut, operasi SAR gabungan dibatasi dalam tujuh hari.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira