Ketika longsor pertama terjadi, tembok belakang rumah Janu jadi korban. Dia pun berpikir membuat jalan air agar tempat tinggalnya terhindar dari kerusakan parah.
Tapi, baru beberapa saat melaksanakan niatnya itu, longsor lebih besar justru menimbunnya.
Rambutnya panjang sepunggung. Diikat tali rambut, sehingga tak terurai liar. Topi dengan posisi terbalik pun melindungi kepalanya yang sedikit tengadah.
Memandangi rumahnya yang nyaris tak tersisa lagi. Hanya menyisakan ruang tamu yang juga tak utuh.
Pria itu adalah Janu. Warga RT 9 RW 2 Desa Petungroto, Kecamatan Mojo. Yang menjadi salah satu korban keganasan alam.
Rumah, dan juga dirinya, tertimbun tanah longsor yang menerjang desanya Jumat (16/5) malam.
Rumah Janu tepat di kaki Gunung Wilis. Bagian belakang rumahnya sudah bersanding dengan tebing tinggi.
Tebing itulah yang longsor setelah hujan deras mengguyur sangat lama. Menerjang rumahnya, serta rumah sang ibu-Painem-yang memang bersandingan.
“Kondisinya seperti ini. Rangkanya sudah rusak semua,” keluh Janu, sembari mengamati puing-puing tempat tinggalnya.
Pria yang sudah menduda ini kemudian mengingat lagi kejadian itu. Ketika hujan sudah mengguyur sejak siang, sekitar pukul 10.00. Air langit masih terus mengguyur dengan deras hingga malam hari.
Sekitar pukul 20.00 dia dan keluarganya bercengkerama di teras rumah. Ada anak tunggalnya Shelina Defita Andayani, Painem, Mali kakaknya, serta beberapa kerabat lain.
Ketika tengah asyik bersantai itulah tiba-tiba terdengar suara bergemuruh. Asalnya dari belakang rumah.
“Tiba-tiba (terdengar suara) brukkk!!! Saya dan yang lain pun kaget,” ucap Janu mengenang.
Bergegas dia dan Mali mendatangi asal suara. Betapa kagetnya setelah tahu tebing di belakang rumahnya sudah longsor. Menghantam dinding rumah sang ibu.
“Longsor itu masih kecil. Tapi sudah membuat dinding rumah ibu jebol,” terangnya.
Janu segera berpikir cepat. Dia sudah menduga longsor masih mungkin terjadi lagi. Sebab, hujan juga tak kunjung berhenti. Mengalihkan aliran air menjadi ide yang muncul di benaknya saat itu.
“Dari pada rumahku ikut rusak kan (karena longsor lagi), aku coba buatkan jalan air. Aku gali di belakang rumah,” cerita laki-laki 40 tahun itu.
Saat sibuk mencangkul itu, sekitar 10 menit dari kejadian longsor pertama, kembali terdengar suara gemuruh.
Kali ini lebih keras. Janu sangat paham bahwa itu suara longsoran tanah. Dia pun berusaha lari menjauh.
Tapi, dasar sedang sial, dia kalah cepat dengan laju tanah. Baru dua langkah tembok di sebelahnya ambruk diterjang tebing yang hancur. Menimpa tubuhnya.
“Saya tertimbun. Saya sudah tak inga tapa-apa lagi,” ucap pria yang merasakan trauma mendalam akibat kejadian itu.
Sang kakak dan beberapa kerabat berusaha menolong. Memindahkan tanah basah dan puing-puing yang menimpa pria yang sehari-hari sebagai petani itu.
Luka-luka terlihat di tubuh Janu. Di perut dan dua sikunya. Terdapat goresan akibat tertimba material longsor.
Kondisi Janu sempat membuat keluarganya dan tetangganya khawatir. Untung kondisinya tak terlalu mengkhawatirkan.
“Piye awakmu? Wis isa omong to? Wis sehat to (Bagaimana kondisimu? Sudah bisa ngomong? Sudah sehat)?” Mali menyelutuk di sela-sela obrolan Janu dengan Jawa Pos Radar Kediri. Menanyakan kondisi terkini saudaranya itu.
Tak hanya kediaman Jamu yang jadi korban longsor. Rumah sang ibu pun rusak parah. Kalau ingin memperbaiki harus meruntuhkan total terlebih dulu.
Selain itu, akibat peristiwa pada malam itu, rumah milik Painem rusak parah. Begitupun dengan rumah Janu.
Tinggal bagian ruang tamu yang tidak utuh. Tentu sudah tidak bisa diperbaiki, kalau ingin diperbaiki harus dibongkar semuanya terlebih dulu.
Tak hanya itu saja, perabotan yang ada di dalam rumah juga rusak. Lemari, tempat tidur, kasur, semuanya.
Termasuk dokumen berharga seperti sertifikat tanah, akta kelahiran sang anak, kartu keluarga, dan lainnya. Buku, alat tulis, dan banyak barang lainnya masih tertimbun lumpur.
“Ini baju saya tinggal satu, celana ini juga minjem kakak saya,” ucapnya parau.
Kini dia, anaknya, serta sang ibu harus mengungsi. Tinggal sementara di rumah Mali. Sambil menunggu dia bisa memperbaiki rumah.
Meskipun dia masih belum bisa memperkirakan kapan bisa melakukan hal itu. Banyaknya biaya sementara dia tak memiliki uang yang cukup adalah persoalan besar. Karena itulah harapan besar dia arahkan ke Pemerintah.
“Harapannya sampai rumah bisa berdiri lagi. Karena kami orang kecil, gak punya apa-apa. Punya rumah juga sudah rusak sama seisi-isinya,” harapnya.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira