Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mojo Kediri Dikepung Bencana Beruntun! Begini Kondisi Terbaru di Lokasi

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Minggu, 18 Mei 2025 | 06:45 WIB
Lokasi terjadinya bencana di Mojo Kediri.
Lokasi terjadinya bencana di Mojo Kediri.

KABUPATEN, JP Radar Kediri-Hujan deras yang mengguyur lereng Gunung Wilis sejak pukul 10.00 Jumat (16/5) hingga pukul 00.00 Sabtu (17/5) dini hari berujung bencana.

Setidaknya ada tujuh titik tebing yang longsor di Desa Pamongan, Petungroto, dan Ngetrep yang menimpa belasan rumah warga. Di Desa Blimbing, banjir membuat lansia dan sembilan ekor kambingnya hanyut.

          Data yang dihimpun koran ini menyebutkan, tebing di Desa Pamongan, Petungroto, dan Ngetrep, Mojo longsor dalam waktu yang hampir bersamaan. Lima titik tebing di Desa Petungroto longsor sekitar pukul 20.00.

Lebar tebing yang ambrol bervariasi. Mulai puluhan meter hingga hanya sekitar 10 meter saja.

          Kemudian, satu titik tebing di Desa Pamongan dan Desa Ngetrep masing-masing longsor sekitar pukul 19.30 dan pukul 20.30.

Selang dua jam kemudian, sungai di Desa Blimbing meluap hingga merusak dua rumah dan membuat seorang lansia hanyut berikut sembilan ekor kambingnya.

“Kemarin (16/5) hujan memang deras dengan durasi cukup lama,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Kalaksa BPBD) Kabupaten Kediri Stefanus Djoko Sukrisno.

          Dari tiga desa yang dilanda bencana longsor, kejadian paling parah terjadi di Desa Petungroto.

Di sana, bencana tersebar di Dusun Kepet yang membuat material longsor menutup jalan desa hingga tidak bisa dilewati. Akses jalan di Dusun Pucangan, desa setempat juga terputus.

          Selanjutnya, di Dusun Petungroto, akses jalan utama penghubung dengan Desa Ngetrep juga tertimpa material longsor hingga tidak bisa dilewati alias terputus.

“Karena jalan yang atas (jalan utama warga) sebagian ambrol, jadi tebing di sebelahnya dikeruk (dibuka) agar jalannya bisa dilalui. Untuk jalan bagian bawah terputus,” ungkap Djoko ditemui di lokasi kemarin pagi.

          Tak hanya menutup dua akses jalan, di Desa Petungroto material longsor juga menimpa delapan rumah warga.

Dua di antaranya rusak parah. Adapun enam rumah lainnya rusak sedang dan ringan. “Dua rusak parah hampir roboh, dua rusak sedang, sisanya ringan,” sambung Kepala Desa Petungroto Dariono.

          Masih di Desa Petungroto, bencana tanah longsor juga membuat kelas jauh SMPN 2 Mojo yang harus diliburkan. Sebab, akses jalan menuju ke sana tertutup material longsor.

“Karena guru-guru juga tidak bisa datang sekolah. Anak-anak yang mau ke sekolah juga kesulitan,” terang Dariono.

          Kepala SMPN 2 Mojo Joko Suminto mengatakan, anak-anak yang mengikuti kelas jauh di sana diputuskan mengikuti kelas daring. Total ada sekitar 20 anak untuk kelas 7 dan kelas 8. Sedangkan kelas 9 ada sekitar 30 anak.

          Setiap hari, para guru yang ada di sekolah induk naik ke Desa Petungroto untuk mengajar anak-anak ini.

Namun, aktivitas tersebut tidak bisa dilakukan kemarin. Jika awalnya diputuskan diliburkan, anak-anak diminta mengikuti pembelajaran secara daring.

          Joko bersyukur, bencana longsor tidak merusak kelas untuk belajar anak-anak. Melainkan hanya jalannya saja yang tidak bisa dilewati.

          Sementara itu, bencana longsor di Desa Pamongan juga membuat satu rumah warga rusak.

Material longsor juga membuat material lumpur terbawa aliran air Sungai Bruni menuju ke Desa Blimbing.

Selang dua jam kemudian, banjir terjadi di desa Blimbing. Dua rumah yang terletak di dekat aliran sungai rusak terkena air bah.

          Adapun longsor di Desa Ngetrep membuat akses jalan besar yang menghubungkan Desa Petungroto ke Ngetrep tertutup material lumpur. Beruntung, tidak ada rumah yang tertimbun material di sana.

          Merespons bencana yang terjadi di empat desa itu, Djoko menyebut BPBD membuat dapur umum di Desa Petungroto, Ngetrep, dan Pamongan. Logistiknya dikirim oleh BPBD agar warga gotong royong membuat menu makanan.

          Adapun di Desa Blimbing, BPBD membuat posko SAR untuk mencari korban yang hilang.

Khusus untuk Desa Petungroto dan Ngetrep, menurut Djoko pihaknya akan menurunkan alat berat untuk membersihkan material bebatuan dan tanah liat.

          Dalam beberapa hari ke depan Joko tetap meminta masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana untuk waspada.

Sebab, longsor susulan masih bisa terjadi menyusul hujan deras yang diprediksi turun dalam beberapa hari ke depan. “Jika terjadi hujan deras harus mengungsi ke tempat aman,” imbaunya. 

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#cuaca ekstrem akhir pekan #radar kediri terkini #bencana longsor