Tiga puluh tahun lebih Sarjito berjualan es puter. Tapi, baru kali ini dia merasakan kenaikan harga kelapa yang edan-edanan. Membuatnya terpaksa mengurangi jumlah takaran untuk bahan utama tersebut.
HILDA NURMALA RISANI, Kota JP Radar Kediri
Sarjito memarkir gerobak dorongnya di depan Masjid Agung Kota Kediri. Kemudian, membuka tabung warna perak yang ada di bagian tengah.
Mengambil sesuatu dari dalam dan menempatkan di gelas khusus. Sejurus kemudian, gelas berisi adonan lembut seperti es krim tersebut diberikan ke seseorang yang sudah menunggu di depannya.
Ya, pria berkaus oblong warna biru tua dipadu celana hitam itu adalah pedagang es puter. Dia juga biasa mangkal di tempat itu, menjajakan makanan yang mirip dengan es krim tersebut.
“Sejak pagi saya mangkal di sini (depan Masjid Agung, Red). Setelah ini pindah ke depan kantor pemkab,” ucapnya, menyebut rute yang akan dia lalui demi menghabiskan es buatannya.
Seperti pedagang es puter lain, Sarjito juga memanfaatkan gerobak dorong. Berukuran satu meteran.
Lengkap dengan tabung es di bagian tengah serta etalase kaca di bagian depan. Kotak dari kaca itu tempatnya menyimpan contong-cone-untuk wadah es, roti tawar, serta gelas plastik.
Tak ketinggalan ada kenong-alat musik pukul berbentuk bulat dengan benjolan di tengah-kecil tergantung di pegangan gerobak. Yang dia pukul untuk memanggil mereka yang berniat membeli.
“Saya sudah berjualan es puter sejak 1994. Berarti sudah 31 tahun,” terang pria yang melengkapi ‘seragam’ hariannya dengan topi laken, topi koboi itu.
Sarjito bukan asli Kediri. Dia berasal dari Sukahorjo Jawa Tengah. Di Kediri dia berdomisili di Kampung Kauman, Kelurahan Bandarkidul, Kecamatan Mojoroto. Hanya sekitar satu kilometer dari tempatnya berjualan saat itu.
Baginya, pasang surut kehidupan sudah dia rasakan. Termasuk naik turunnya harga-harga bahan baku pembuatan es puter. Terutama kelapa, yang menjadi bahan utama makanan yang dia buat.
Namun, merasakan kenaikan harga kelapa yang gila-gilaan seperti ini, menurut Sarjito, baru kali ini dia alami.
“Baru kali ini harga satu butir kelapa bisa Rp 20 ribu,” ucapnya dengan nada heran.
Tentu saja, kenaikan harga kelapa itu membuatnya pusing. Kebutuhan belanja bahan-bahan jadi melonjak. Tak hanya dua kali lipat, bisa sampai empat kali lipat.
“Sebelum kenaikan paling saya beli kelapa sehari tak lebih dari Rp 75 ribu. Tapi, setelah kenaikan itu, uang yang saya keluarkan harus Rp 300 ribu!” ucapnya, dengan intonasi yang naik.
Padahal, jumlah butirnya berkurang. Biasanya, uang Rp 75 ribu bisa mendapatkan 15 butir kelapa. Sedangkan saat ini, ketika harga menggila, Rp 300 ribu hanya cukup membeli 10 butir saja.
“Pengaruhnya ke rasa tetap ada, meskipun tidak terlalu besar,” aku sang pembuat, ketika ditanya perihal pengurangan komposisi resep es puternya itu.
Setiap hari, pria yang sudah memiliki dua orang anak ini membuat 18 liter es puter. Idealnya, takaran yang pas untuk menghasilkan sebanyak itu adalah 15 butir kelapa, tiga kaleng susu, serta beberapa bahan lain sebagai pelengkap dan perasa.
Namun, karena harga kelapa naik tinggi, resepnya pun berubah. Hanya menggunakan 10 butir kelapa. Risikonya, dia harus menambah takaran bahan lain.
“Ganti susunya yang diperbanyak,” jelasnya.
Pengurangan kelapa dan penambahan susu itu sebenarnya membuat tekstur es puternya lebih halus. Lebih mirip es krim. Hanya, rasa gurihnya memang sedikit berkurang.
Perubahan komposisi bahan itu adalah caranya agar dia tak menaikkan harga. Meskipun kelapa mahal, dia tetap mematok harga Rp 5 ribu untuk satu gelas plastik kecil es puter. Sedangkan yang ukuran besar dua kali lipatnya.
Pendapatan kotor yang didapatkan dari tahun ke tahun juga tidak mengalami perbedaan. Dengan kisaran Rp 750 ribu untuk kondisi ramai. Sedangkan saat sepi dia hanya memperoleh sekitar Rp 300 ribu sampai dengan Rp 500 ribu.
Nyatanya kondisi tersebut tidak menjadi masalah besar bagi Sarjito. Dia tetap bertahan menjadi penjual es puter keliling meskipun ada pilihan pekerjaan lain yang lebih menjanjikan.
Semangat dan sikap pantang menyerahnya mampu mengantarkan dua putrinya lulus dari salah satu perguruan tinggi negeri yang ada di Sukoharjo. Semua dilakukan seiring dengan harapan dan mimpinya untuk melihat anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik.
“Yang nomor satu saat ini sudah bekerja di rumah sakit. Sedangkan yang nomor dua bertugas di PLN. Semuanya bekerja di Sukoharjo,” terangnya sembari menceritakan jika dia merantau hanya bersama istrinya.
Sarjito lebih lanjut bercerita jika berjualan es puter ini menjadi pekerjaan yang cukup membanggakan baginya. Meskipun tidak sehebat orang lain, tetapi dia bisa mewujudkan mimpinya untuk melihat anaknya memakai toga sarjana.
“Saya akan tetap menekuninya entah sampai kapan. Karena melalui pekerjaan ini satu per satu mimpi saya tercapai,” pungkasnya.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira