KABUPATEN, JP Radar Kediri- Hasil tes laboratorium terkait tercemarnya belasan air sumur warga di Dusun Plosolor, Desa Plosolor, Kecamatan Plosoklaten memang belum keluar. Namun, upaya penyelesaian terus dilakukan. Yaitu dengan menambah dua sumur uji.
Sebelumnya, sudah dibuat satu sumur uji. Pembuatnya adalah PT Sinergi Gula Nasional Manajemen Kerja Sama Operasional (SGN MKSO) Tebu Kebun Dhoho. Lokasinya di rumah warga bernama Bintoro Edi. Tempat pertama kali diketahui terjadi pencemaran air.
“Kami tambah (sumur) bor di dua titik lagi,” terang Manajer Keuangan dan Umum PT SGN MKSO Kebun Dhoho Ardi Meidianto Putra.
Pengeboran pertama terjadi 21 April lalu. Sedangkan dua lagi dilakukan pada mulai Jumat (25/4). Hingga kemarin pengeboran tersebut belum selesai.
Penambahan jumlah pengeboran sumur baru tersebut bertujuan agar lebih meyakinkan lagi. Sekaligus sebagai bahan ketika rapat dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri. Terutama terkait dengan opsi bantuan yang bisa dilakukan PT SGN.
“Sehingga nanti bisa tepat dalam pemberian bantuan berupa sumur bor dengan kedalaman sesuai hasil tersebut. Baik dari kami maupun instansi lain,” tambah Ardi.
Hasil dari pengeboran sumur yang pertama, didapat hasil air yang jernih, tak berwarna, tak berbau, dan tidak berasa. Hal itu setelah dilakukan pengeboran sedalam 12 meter. Sementara, mayoritas sumur warga yang tercemar ada di kedalaman 5-6 meter.
Dua pengeboran yang baru berlokasi di rumah warga bernama Sugiono. Hingga kemarin pengeboran masih di kedalaman enam meter. Proses terpaksa terhenti karena terhalang batu.
Karena masih sedalam enam meter, air yang diperoleh tidak seperti di rumah Bintoro Edi. Di sini masih didapat air yang tercemar.
“Tasik kuning warnane (masih kuning warnanya, Red),” ucap si pemilik rumah, Sugiono.
Lokasi kedua adalah di rumah Munaim. Di tempat ini proses pembuatan sumur juga belum selesai.
Bintoro Edi, yang di rumahnya sudah ada sumur baru yang jernih airnya, mengaku belum memanfaatkannya. Dia berdalih ingin menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
“Buat siram-siram saja dulu. Karena menunggu hasil lab untuk layak konsumsinya,” kilahnya.
Dia berharap, hasil lab bisa segera keluar. Sehingga asal pencemaran bisa segera diketahui. Serta pemecahan masalah juga bisa segera dilakukan.
“Harapan warga, kejelasan kasus ini bagaimana. Dari mana sumber utama? Terus penangan bagaimana?” urainya.
Terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kediri Putut Agung Subekti mengatakan, hasil laboratorium terkait sampel air dan tanah yang diambil pada awal April lalu, diperkirakan hari ini baru tiba. Jika sudah menerimanya, Putut akan segera mempelajarinya.
“Kalau sudah keluar dan kami terima, akan segera kami pelajari, terkait bagaimana hasilnya,” jelasnya.
Seperti diberitakan, sekitar 18 KK warga Desa Plosolor, Plosoklaten mengalami pencemaran air sumur. Dugaan kuat karena adanya pembuangan limbah blotong di lahan hak guna usaha (HGU) di sekitar pemukiman yang dikelola oleh PT SGN.
Limbah blotong itu dibuang di lahan HGU tujuannya untuk menyuburkan tanah. Namun jumlahnya besar. Menurut warga hingga ratusan truk. Sehingga dampaknya mencemari warga setelah terjadi banjir yang menggenangi bekas limbah blotong dan tumpah ke permukiman.
Terkait hal tersebut, DLH Kabupaten Kediri masih melakukan uji sampel untuk mengetahui asal pencemaran. Walau demikian, pihak PT SGN memberikan bantuan droping air bersih untuk warga.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira