Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Perjuangan Warga Plosolor, Plosoklaten Kediri Mencari Air Bersih usai Sumur Tercemar

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Jumat, 11 April 2025 | 05:01 WIB
Photo
Photo

Air dari sumur belasan warga ini tak layak konsumsi. Sebagian keruh dan menghitam, sebagian lagi berbau mirip comberan. Membuat mereka harus bersusah payah mencari air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

ASAD M.S., Kabupaten, JP Radar Kediri

“Hampir setiap hari ambil (air bersih) dari sungai,” ucap Munaim, ketika ditanya bagaimana dia mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Maklum, sumur milik warga Desa Plosolor, Kecamatan Plosoklaten ini salah satu yang tercemar.

Sungai yang dimaksud pria 50 tahun itu jaraknya relatif jauh. Lebih dari satu kilometer. Wadahnya, toren atau tandon air yang isinya 750 liter.

Tentu saja, tempat air sebesar itu tak dibawa dengan tangan. Melainkan harus dinaikkan ke bak belakang sepeda motor roda tiga yang dia punya.

Selain itu, dia pun harus nyangking pompa air berbahan bakar solar alias disel.

“Disel itu untuk menyedot air dari sungai ke toren,” terang lelaki ini, dalam bahasa Jawa.

Munaim harus melakukan itu selama dua hari sekali sejak kondisi sumurnya berbau pada Januari lalu. Kadang, bisa kurang dari itu. Bergantung banyaknya kebutuhan dalam sehari.

Bila kebutuhan air besar tentu saja cepat habis. Dia pun harus segera mengambil lagi di sungai.

Air dari sungai ini hanya untuk mandi dan mencuci. Bukan untuk keperluan minum maupun memasak makanan. Kalau yang ini, dia harus membeli air isi ulang.

Seharinya bisa sampai dua atau tiga botol air minum dalam kemasan (AMDK) ukuran 19 liter, yang biasa disebut galon.

Baca Juga: DLH Kabupaten Kediri akan Ambil Sampel Air Sumur Warga yang Tercemar, PT SGN Tepis Tudingan Blotong Sebagai Sumber Cemaran

Nah, untuk keperluan inilah Munaim sedikit mengeluh. Karena harus merogoh kocek yang baginya tidak murah.

“Harganya memang tak seberapa. Satu galon Rp 5 ribu. Tapi kalau terus-terusan ya lumayan,” keluh lelaki yang memiliki usaha tempat fotokopi ini.

Beda Munaim beda lagi dengan Sukamdi. Pria 70 tahun ini terpaksa ke musala yang ada di depan rumahnya bila ingin mandi. Kebetulan, air sumur di tempat itu masih bersih.“Teng mriku tasik jernih. Namung radi mambu. Tapi nggih wedi lek melu reget (di situ masih jernih. Hanya agak berbau. Tapi takutnya nanti jadi ikut tercemar, Red),” ucap laki-laki yang sudah punya cucu itu.

Sumur Sukamdi tercemar menjelang Ramadan. Ketika itu menantunya yang bernama Wiji berkumur. Dia merasakan airnya berbeda dari biasanya. Berbau dan terasa aneh.

Setelah dilihat di sumur, ternyata terdapat endapan seperti minyak. Sementara airnya juga berwarna kuning. Baunya seperti comberan. Sejak itu keluarga ini harus mandi di kamar mandi musala.

“Ya setiap hari, pagi sore. Gantian kalau mandi,” terangnya masih menggunakan bahasa Jawa.

Untuk keperluan memasak dan minum, dia juga menggunakan air dari musala. Setiap hari, Sukamdi, atau sang menantu mengambil air. Menggunakan galon untuk dibawa ke rumah.

“Sebenarnya dilarang tetangga. Bukan karena tidak boleh pakai air musala, tapi karena setiap hari angkat-angkat galon, wong sudah tua. Tapi bagaimana lagi, namanya kebutuhan. Saat anak sama mantu kerja, ya saya yang ambil,” terang bapak empat anak itu.

Sementara itu, Bintoro Edi, untuk memenuhi kebutuhan air bersih, dia harus menumpang di rumah mertuanya. Yang rumahnya tetangga desa.

Setiap hari dia harus mondar-mandir untuk memenuhi kebutuhan air bersih untuk kesehariannya.

“Tetangga yang lain juga kurang lebih sama. Harus nunut. Di tetangga yang tidak terdampak, atau kalau yang punya uang ya beli isi ulang,” terang laki-laki 38 tahun itu.

Edi, dan belasan warga lain yang terdampak, berharap agar permasalahan ini bisa segera teratasi. Untuk sementara ini, setidaknya bisa mendapatkan bantuan droping air bersih.

“Yang jelas inginnya sumur bisa kembali normal. Agar anak cucu juga bisa merasakan air bersih,” imbuh Munaim. 

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira