KABUPATEN, JP Radar Kediri-Pencemaran air di belasan sumur warga Desa Plosolor, Plosoklaten tak terelakkan lagi.
Berdasar hasil uji cepat yang dilakukan pemerhati lingkungan Forum Kali Brantas, kandungan fosfat air sumur tersebut tinggi. Meski belum dipastikan asal cemaran, kandungan fosfat tinggi disebut bisa berasal dari limbah industri atau deterjen.
Pantauan koran ini, Forum Kali Brantas melakukan pengujian cepat sampel air sumur warga yang tercemar sekitar pukul 12.00. Uji cepat atau rapid test dilakukan untuk melihat total dissolved solid (TDS), suhu, keasaman, kadar fosfat, nitrat, dan nitrit.
Pengujian menggunakan water quality monitoring rapid test dilakukan secara manual dan elektrik. “Yang elektrik ini keakuratannya di atas 90 persen sedangkan yang manual di bawah 90 persen keakuratannya,” kata Koordinator Pemerhati Lingkungan Forum Kali Brantas Chandra Iman Asrori.
Dalam pengujian kemarin Chandra mengambil empat sampel air. Tiga sampel air dari sumur yang tercemar. Adapun satu sampel air dari sumur baru yang dibuat kemarin pagi.
Hasil pengujian, kadar fosfat tinggi atau melebihi baku mutu yang diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 22/2021 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Di sana disebutkan baku mutu kandungan fosfat adalah 0,2 per liter.
Sedangkan kadar fosfat dari sampel air sumur yang tercemar kemarin mencapai 1 miligram (mg) per liter.
Bahkan, untuk sampel air dari sumur yang baru dibuat kemarin, kandungan fosfatnya juga tinggi. Yakni, 0,6 mg per liter. Ada pula sampel air yang kadar fosfatnya tidak bisa terdeteksi.
“Kalau tidak terdeteksi begini berarti kandungan fosfatnya terlalu pekat karena tercemar,” lanjut Chandra.
Terkait kadar fosfat di air yang tinggi atau melampaui baku mutu, menurut Chandra bisa karena tercemar limbah industri atau deterjen.
“Untuk penyebab secara pasti masih harus diteliti lagi,” terangnya.
Selain kadar fosfat, menurut Chandra kandungan nitrat dan PH atau tingkat keasaman air masih di bawah baku mutu.
Sedangkan untuk kandungan nitrit, ada satu sampel yang melebihi baku mutu. Idealnya kandungan nitrit maksimal 0,6 mg per liter. Sedangkan kemarin ada satu sampel yang kadar nitritnya 1 mg per liter.
Untuk kadar nitrit yang melebihi baku mutu, menurut Chandra bisa berasal dari limbah organik, pupuk, atau limbah ternak. “Bisa juga karena limbah di septic tank, tapi kalau sumber cemaran dari septic tank itu tidak bersifat korosif (fosfatnya tidak tinggi, Red),” tandasnya.
Melihat hasil pengujian, Chandra memastikan air di sumur warga yang tercemar itu tidak layak untuk diminum.
Sebab, bisa mengganggu pencernaan dan iritasi kulit. “Juga tidak baik untuk lingkungan karena bersifat korosif (dari kadar fosfat yang tinggi, Red),” jelasnya.
Untuk diketahui, sebelum Forum Kali Brantas melakukan uji cepat, kemarin tim Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kediri juga mengambil sampel air dan tanah untuk diuji di laboratorium.
Total ada 12 titik sampel air dan empat sampel tanah yang diambil untuk diuji.
Kepala DLH Kabupaten Kediri Putut Agung Subekti menyebut, tujuh sampel air berasal dari sumur warga yang tercemar. Kemudian, satu sampel dari sumur di dekat area blotong pabrik gula.
Selebihnya, tim juga mengambil sampel air dari sumur warga yang tidak tercemar di sisi barat, utara, dan selatan perkampungan warga. Ada pula dari sisi timur timbunan blotong.
Selanjutnya, sampel tanah diambil di dua titik area timbunan blotong di perkebunan. Dua sisanya diambil di lokasi rumah warga yang tercemar.
“Sampel tanah di kedalaman 0-30 sentimeter (cm) dan 60 cm,” jelas Putut.
Sampel air dan tanah yang kemarin diambil menurut Putut langsung dibawa ke Laboratorium Graha Mutu Persada Mojokerto untuk diuji. Hasil diperkirakan akan keluar sekitar dua minggu ke depan.
Sembari menunggu hasil pengujian, Putut menyebut pihaknya mengoordinasikan rencana dropping air bersih untuk warga. “Kami koordinasikan agar bisa secepatnya diberi bantuan air,” tegas Putut.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira