Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Belasan Sumur Warga Plosoklaten Kediri Bau Comberan, Ini Dugaan Penyebabnya

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Jumat, 4 April 2025 | 03:33 WIB

 

Belasan Sumur Warga Plosoklaten Kediri Bau Comberan, Ini Dugaan Penyebabnya
Belasan Sumur Warga Plosoklaten Kediri Bau Comberan, Ini Dugaan Penyebabnya

KABUPATEN, JP Radar Kediri-Belasan sumur warga Dusun /Desa Plosolor, Plosoklaten, tercemar. Air yang semula bening tiba-tiba berwarna kuning kehitaman. Baunya pun tak sedap.

Keberadaan limbah di area perkebunan yang dikelola PTPN 1 Regional IV Kebun Dhoho di sekitar pemukiman warga dituding jadi penyebabnya.

Informasi yang dihimpun koran ini, pertengahan 2024 lalu kawasan perkebunan di dekat pemukiman warga itu jadi tempat pembuangan blotong atau limbah bekas pengolahan pabrik gula. Tujuannya memang dijadikan pupuk di sana.

"Ada sekitar 150-200 rit yang dibuang di situ. Lalu diratakan dengan kendaraan berat," kata Munaim, 50, warga yang rumahnya  dengan area HGU hanya dibatasi jalan raya itu.

Lebih jauh Munaim mengungkapkan, saat awal limbah berada di kebun memang tidak berdampak apa-apa. Namun, setelah hujan deras mengguyur wilayah setempat dan menimbulkan genangan, barulah sumur-sumur warga terdampak.

Tepatnya sejak Januari lalu. Air sumur yang semula bening menjadi keruh. Di permukaan air juga ada endapan berwarna kuning. “Sudah dikuras beberapa kali tapi sumur tetap saja keruh,” keluh Munaim.

Setelah dikuras beberapa kali, warna air sumurnya kini berubah menjadi keruh kehitaman. "Airnya juga bau, jadi tidak bisa dikonsumsi," lanjutnya.

Dia menduga, pencemaran di 15 sumur warga itu akibat limbah yang terkena genangan air hujan. Selanjutnya, air meresap ke tanah di sekitar pemukiman dan mencemari sumur.

Dengan kondisi sumur yang tercemar, Munaim dan 10 warga lainnya harus membeli air galon.  Setiap hari dia butuh dua galon untuk konsumsi dan memasak.

"Ada satu sumur lagi, kondisinya tidak keruh tapi airnya bau. Takutnya tercemar juga jadi tidak berani mengonsumsi,” terang Munaim.

Senada dengan Munaim, Sugiono, 46, juga menyebut sumurnya tercemar. Di sana ada endapan berwarna kuning di permukaan. Saat dicium, muncul  bau mirip comberan atau air yang berkarat.

"Keruh nggak bisa dipakai. Tidak layak konsumsi," tutur pria yang tinggal di RT 02/III itu.

Di awal pencemaran, Sugiono melihat sumurnya terdapat endapan yang mirip dengan minyak.

Namun, lama kelamaan berubah warna menjadi hitam. Selanjutnya, air juga sempat berwarna putih seperti bekas rendaman air beras dengan bau yang menyengat.

Adapun sekarang berwarna keruh dengan endapan kuning seperti karat.

“Ya akhirnya terpaksa beli air galon,” jelas Sugiono yang terpaksa membeli air bersama belasan warga lain.

Selain Munaim dan Sugiono, total ada 13 warga lain yang sumurnya tercemar. Kondisinya berbeda-beda. Ada yang warna airnya tidak keruh tapi tetap berbau.

Merespons pencemaran tersebut, Sugionno berharap pemerintah segera turun untuk melakukan penanganan.

“Minimal diberi bantuan air bersih. Kalau bisa dipasangi PDAM soalnya nggak tahu ini (pencemaran, Red) sampai kapan,” pintanya.

Terpisah, Kepala Desa Plosolor Pujiyono membenarkan keluhan warga akan kondisi sumur yang tercemar.

Dia menduga hal tersebut karena adanya limbah. Namun, Pujiyono belum bisa memastikannya.

"Air sumur warga tidak bisa digunakan. Masyarakat sangat terganggu dengan adanya hal tersebut yang diduga karena  pembungan limbah,

" jelasnya sembari menyebut pemerintah desa sudah berkoordinasi dengan Pemkab Kediri dan pengelola HGU.

Namun, hingga awal April ini belum ada tanggapan dari pengelola HGU. “Kami juga sudah berkoordinasi dengan pak camat.

Minta untuk dilakukan mediasi antara warga dengan pihak pengelola HGU," jelasnya.

Pujiyono memastikan, pembuangan limbah blotong di lahan HGU di desanya belum mengantongi izin.

"Tahu-tahu sudah ada. Seharusnya biar lebih enak lapor karena limbah pasti dampaknya bau,” tegas Pujiyono sembari menyebut jika pengelola HGU melapor, pihaknya otomatis akan menolaknya. (sad/ut)

 Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#Dugaan #sumur #bau #comberan