KEDIRI, JP Radar Kediri- Nyamuk aedes aegypti masih berkeliaran di Kota Kediri. Meski trennya menurun, jumlahnya masih terbilang tinggi. Pada Februari lalu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri mencatat ada puluhan kasus yang menimpa warga di Kota Kediri.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri dr Muhammad Fajri Mubasysyir melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Hendik Supriyanto mengatakan, Februari lalu ada 30 kasus. “Sudah mulai turun,” ujar Hendik yang menyebut jika pada Januari lalu angkanya tembus 51 kasus.
Menurut Hendik cuaca menjadi salah satu faktor penyebab maraknya kasus demam berdarah di Kota Kediri. Artinya, semakin sering terjadi hujan maka kasus demam berdarah ini sangat mudah merebak.
Selain cuaca, faktor lain ditemukannya kasus DBD di Kota Kediri tidak lepas dari mobilitas masyarakat. “Yang kena DBD di sini juga terkadang dari daerah lain,” aku Hendik.
Sejauh ini, Hendik memastikan belum ada warga Kota Kediri yang meninggal dunia akibat kasus DBD. Bahkan, catatan Dinkes Kota Kediri, kasus kematian nihil selama tiga tahun terakhir.
Terlepas dari itu, pihaknya mengimbau masyarakat untuk mencegah penyebaran virus DBD. Salah satunya dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Bisa lewat metode menguras tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, dan menimbun barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk berkembang biak.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : rekian