KEDIRI, JP Radar Kediri- Hujan deras yang mengguyur Kediri Raya pada Rabu (29/1) sore lalu membawa petaka bagi warga Desa Sepawon, Plosoklaten. Banjir bandang di lereng Gunung Kelud itu membuat jalan desa sepanjang sekitar 20 meter ambrol.
Tidak hanya itu, para peternak juga merugi ratusan juta rupiah karena ikan peliharaan mereka di kolam ikut hanyut terbawa air bah.
Informasi yang dihimpun koran ini menyebutkan, hujan deras mengguyur Desa Sepawon, Plosoklaten sejak pukul 15.00 hingga pukul 18.00.
Debit air yang tinggi membuat sungai yang berhulu di Gunung Kelud itu meluap.
Arus yang deras pun membuat jalan Desa Sepawon terkikis dan ambrol sepanjang 20 meter.
Lubang menganga sedalam sekitar empat meter itu membuat akses jalan selebar tiga meter tersebut terputus.
Praktis, warga yang hendak ke Desa Wonorejo Trisulo harus memutar.
“Ini (jalan yang ambrol, Red) jalan utama. Ya warga kesulitan. Terutama anak-anak sekolah,” kata Kepala Desa Sepawon Rahmat Sudrajat.
Terkait banjir bandang yang terjadi di desanya Rabu sore lalu, Rahmat menengarai hal itu terjadi karena beberapa sebab.
Selain debit air yang memang tinggi, tanaman penyerap air di lereng Gunung Kelud itu juga berkurang.
“Karena yang dulunya pohon-pohon kopi dan sengon sekarang diganti dengan tebu,” lanjut Sudrajat.
Karenanya, begitu hujan deras terjadi selama beberapa jam, banjir tak terelakkan.
Terkait bencana besar di desanya, Rahmat mengaku sudah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan PTPN Ngrangkah Pawon. Terutama, untuk pembukaan jalur baru lewat perkebunan karet.
Sebelumnya, warga melewati jalur yang biasa dilewati truk dari perkebunan itu, warga harus menempuh jarak hingga tiga kilometer.
“Jalannya juga berlumpur kalau habis hujan,” terang Rahmat.
Karenanya, pemerintah desa berinisiatif membuka jalur baru di kebun karet yang lokasinya di dekat jalan ambrol.
Namun, akses jalan di sana juga tidak mulus. Pantauan koran ini, kondisi jalan yang menanjak membuat sepeda motor harus didorong warga.
Sebagian lagi tidak berani melintas karena jalannya memang sulit. Sehingga, sepeda motor terpaksa dikemudikan warga lain yang di sana.
Adapun pemiliknya baru berani naik setelah sepeda motor melewati medan yang curam.
“Ini (akses baru lewat kebun karet, Red) jalan alternatif. Aslinya memang jalur air, jadi kalau hujan tidak bisa lewat sini karena jalurnya terisi air dan arusnya deras,” sambung Angga Surya, 29, salah satu warga Dusun/Desa Sepawon yang berjaga.
Sementara itu, selain membuat akses jalan warga terputus, air bah dari sungai yang berhulu di Gunung Kelud itu juga meluber ke Desa Wonorejo Trisulo.
“Air bah masuk ke sembilan rumah warga di sana,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kediri Stefanus Djoko Sukrisno.
Tidak hanya itu, air bah juga meluap di Desa Pranggang, Plosoklaten. Di lokasi bawah itu, air menggenangi jalan Plosoklaten-Pare.
Selanjutnya, kolam ikan milik para peternak juga terisi air dan meluber. Akibatnya, ratusan ribu ekor peliharaan mereka hanyut terbawa air.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Kediri Nur Hafid menyebut, sedikitnya ada sekitar 20 peternak ikan di Desa Pranggang, Plosoklaten yang terdampak. Kolam mereka mayoritas terletak di dekat sungai.
Berdasar hitungan dinas perikanan, kolam yang terdampak mencapai 35.547 meter persegi.
Kerugian akibat ikan-ikan yang hanyut ditaksir Rp 205 juta. Rinciannya, ada lima ribu ekor ikan koi yang hanyut dengan harga Rp 5 ribu per ekor.
Ada pula ikan komet yang mencapai 350 ribu ekor, harganya Rp 200 per ekor. Kemudian, 200 ribu ekor ikan bogim dengan harga Rp 300 per ekor.
“Kami kordinasikan dengan BPBD untuk menentukan langkah selanjutnya. Saya masih belum bisa memastikan ada atau tidaknya bantuan,” papar Nur Hafid sembari menyebut pihaknya akan mengoordinasikan langkah pemkab lebih lanjut.
Terpisah, Fariz Zen, 35, salah satu peternak yang terdampak menyebut benih ikannya sebanyak 15 ribu ekor hanyut. Hal itu setelah kolam ikan miliknya ambrol diterjang banjir.
“Kerugian Rp 15 juta untuk benih ikan saja. Belum termasuk ikan besar-besar dan kerusakan kolam,” paparnya sembari menyebut tiga kolamnya yang jebol seluas sekitar 0,5 hektare.
Selain dirinya, menurut Fariz juga ada sekitar 50 peternak yang terdampak.
Karenanya, Fariz berharap bisa ada penanganan lebih lanjut. Terutama untuk mencegah banjir kembali terjadi.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah