Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Dalam Seminggu, Jumlah Kasus Chikungunya di Kota Kediri Naik 6 Kali Lipat

Ayu Ismawati • Selasa, 14 Januari 2025 | 16:18 WIB
CEGAH PENULARAN: Tim Dinas Kesehatan Kota Kediri melakukan fogging atau pengasapan di rumah warga di Kelurahan Blabak, Pesantren. Pertengahan Januari ini kasus chikungunya naik hingga enam kali lipat.
CEGAH PENULARAN: Tim Dinas Kesehatan Kota Kediri melakukan fogging atau pengasapan di rumah warga di Kelurahan Blabak, Pesantren. Pertengahan Januari ini kasus chikungunya naik hingga enam kali lipat.

KEDIRI, JP Radar Kediri- Kasus chikungunya semakin meluas di Kota Kediri. Dalam seminggu terakhir, total ada penambahan puluhan penderita. Naik enam kali lipat dibanding awal Januari yang hanya 12 kasus.

Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Kediri menyebutkan, hingga Senin (13/1) kemarin total ada 85 kasus yang terdata di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri. Karenanya, dalam sepekan ada penambahan kasus hingga enam kali lipat. 

Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri Muhammad Fajri Mubasysyir melalui Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Hendik Suprianto mengatakan, dari puluhan kasus itu, sebagian besar sudah dilaporkan sembuh.

“Semakin bertambah-tambah. Nge-block (terpusat, Red) di Kelurahan Blabak, Kelurahan Ngletih, kemudian Kelurahan Bawang,” ungkap Hendik.

Dengan begitu, temuan kasus itu paling banyak berasal dari Kecamatan Pesantren. Dari 85 kasus itu, 62 di antaranya berasal dari beberapa wilayah di paling timur Kota Kediri itu.

“Sampai sekarang belum ada laporan yang sampai ke rumah sakit,” bebernya sembari menyebut orang yang terjangkit demam chikungunya itu cenderung mudah sembuh dengan sendirinya.

Meski rata-rata bisa sembuh sendiri, penyakit yang ditandai dengan demam dan nyeri persendian itu menurut Hendik justru sangat cepat penularannya. Itu juga yang menjadi faktor utama kasusnya cepat melonjak.

“Karena jenis virusnya yang mudah menyebar. Penularannya sangat mudah,” terangnya terkait virus yang ditularkan melalui nyamuk Aedes Aegypty sebagai vektornya itu.

Di sisi lain, kenaikan kasus chikungunya justru membuat kasus demam berdarah dengue (DBD) turun.

Menurut Hendik, belum ada laporan DBD yang diterima Dinkes Kota Kediri dalam beberapa pekan ini.

“Tapi ya itu, kalau chikungunya ini banyak tapi bisa sembuh sendiri. kalau DBD jarang tapi bisa kritis,” papar Hendik.

Untuk menekan penyebaran virus, kemarin pihaknya kembali melakukan pengendalian dengan pengasapan atau fogging.

Pengasapan itu dilakukan di daerah-daerah yang ditemukan kasus penyakit yang ditularkan oleh nyamuk.

“Hari ini (kemarin, Red) di tiga kelurahan. Di Kelurahan Bangsal, Kelurahan Tempurejo, dan Kelurahan Ngletih,” jelas Hendik. 

Meski sudah memasifkan pengasapan, Hendik kembali mengingatkan bahwa penyebaran virus yang dibawa nyamuk Aedes Aegypti itu tidak cukup dengan fogging saja. Melainkan harus tetap dilakukan langkah preventif.

Yakni, dengan memberantas sarang nyamuk di lingkungan dengan melakukan 3M. Yaitu menutup tempat penampungan air, menguras bak mandi, dan mengubur barang bekas yang memungkinkan jadi tempat nyamuk bersarang. 

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #dinkes #naik #Kasus chikungunya #jawapos #penderita #Peristiwa