KEDIRI, JP Radar Kediri– Penyakit chikungunya mulai merebak di Kecamatan Ngadiluwih. Penyakit yang disebabkan nyamuk Aedes Aegypti telah menyerang warga Dusun Sawahan, Desa Purwokerto, Kecamatan Ngadiluwih.
Menurut Kepala Desa Purwokerto Agus Nur Ariful Anam di desanya sudah ada 9 orang yang kena chikungunya. Penyebaran penyakit ini sangat cepat. “Ada yang kena satu keluarga,” ungkap Agus.
Seperti yang dialami oleh keluarga Siti Munawaroh. Di rumahnya ada 3 orang yang kena. Selain dirinya juga dua anaknya bernama Faiq dan Sisca. “Awalnya yang kena anak saya, Faiq. Terus saya,” aku Siti yang mengetahui dirinya kena chikungunya karena merasa lemas ketika membersihkan area belakang rumahnya.
Selain lemas, dia juga merasakan linu pada sendi. Dan sulit bergerak. “Saat malam sendi-sendi rasanya sakit sekali. Saya sudah berobat, sekarang sudah tinggal bintik-bintik saja,” imbuhnya.
Bukan hanya keluarga Siti, warga lain yang kena adalah Kenzie. Siswa sekolah dasar itu sebelumnya hanya merasa lemas. Bahkan dia tetap nekat ikut pelajaran di sekolahnya. “Waktu itu gurunya sudah memintanya pulang tapi dia tetap bertahan hingga jam pulang sekolah,” aku Ruminah, nenek Kenzie yang juga tinggal di Desa Purwokerto, Ngadiluwih itu.
Karena kondisinya semakin lemas dan linu-linu, dia akhirnya dilarikan ke klinik PG Ngadirejo. Hingga kemarin, hasil laboratoriumnya belum keluar. Hasil laboratorium itu bisa diketahui sekitar 7-12 hari.
Karena maraknya warga yang terjangkit chikungunya maka pemerintah desa memutuskan untuk melakukan pengasapan untuk mencegah penyebaran virus yang dibawa nyamuk Aedes Aegypti.
“Fogging dilakukan untuk membunuh nyamuk besar saja. Sedangkan jentik-jentik setiap hari bisa menetas dari ribuan telur. Oleh karena itu, penanganan ini tidak bisa instan hanya dengan pengasapan,” terang Emy, kader jumantik di Desa Purwokerto, Ngadiluwih.
Terpisah Kepala Puskesmas Ngadiluwih dr Mustahim juga menjelaskan, gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) adalah tindakan yang paling efektif dilakukan masyarakat.
“Tidak hanya fogging, setiap warga juga harus memiliki kesadaran untuk memberantas nyamuk Aedes Aegypti.” terangnya. Dia menambahkan, chikungunya ini memiliki pola penyebaran serupa dengan demam berdarah dengue (DBD). Sangat mudah menyebar terutama saat musim penghujan seperti saat ini.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : rekian