KEDIRI, JP Radar Kediri – Laporan tentang adanya 10 siswa SDN Purwokerto 2, Ngadiluwih yang tidak masuk sekolah karena mual dan muntah, langsung direspons oleh Puskesmas Ngadiluwih. Curiga jika anak-anak tersebut mengalami keracunan, mereka turun untuk melakukan pengecekan lapangan.
Untuk diketahui, dugaan keracunan muncul karena 10 anak mengeluhkan gejala yang sama.
Meski, mereka tidak mengeluh mual dan muntah setelah mengonsumsi makanan tertentu. Melainkan sudah menderita sakit sejak beberapa hari.
Sesuai aduan yang masuk ke kepala desa, anak-anak tersebut baru saja mengonsumsi jajanan dari pedagang di depan sekolah.
“Tadi (09/1) saya mendapat laporan adanya dugaan keracunan pada siswa SD. Menindaklanjuti laporan tersebut, surveilans puskesmas langsung mendatangi lokasi,” ujar Kepala Puskesmas Ngadiluwih dr Mustadhim.
Surveilans Puskesmas Ngadiluwih Nego yang kemarin turun ke sekolah belum bisa memastikan apakah kejadian yang menimpa 10 siswa SDN Purwokerto 2 itu tergolong keracunan atau bukan.
Sebab, keluhan sakit sudah terjadi sejak beberapa hari yang lalu.
“Tidak dapat langsung disimpulkan keracunan makanan. Peristiwa ini sudah terjadi kemarin (08/1). Sehingga wujud makanan sudah tidak ada,” ungkap Nego kepada koran ini.
Keluhan mual, muntah, dan diare yang dialami anak-anak menurut Nego juga tidak bisa jadi indikator pasti keracunan.
Sebab, pasien rawat inap di Puskesmas Ngadiluwih juga banyak yang dirawat dengan keluhan yang sama.
“Saya belum bisa memastikan apakah ini keracunan makanan. Sebab ciri-ciri yang muncul hampir sama dengan pasien yang sedang rawat inap disini,” terang Nego sembari menyebut reaksi gejala itu bisa muncul karena alergi atau penyebab lainnya.
Data yang dihimpun koran ini menyebutkan, gejala mual, muntah, dan diare dialami sejumlah siswa mulai dari kelas 1 hingga kelas 6.
Baca Juga: Panik PMK, Peternak di Kediri Ramai-ramai Jual Sapi
Hingga kemarin, total ada 10 siswa yang tidak masuk karena menderita sakit tersebut.
“Peristiwa ini bisa disebut sebagai keracunan masal apabila memenuhi beberapa indikator. Dari makanan itu masuk ke mulut hingga muntah apakah dalam selang waktu 10 menit. Atau bisa 1 hingga 3 jam setelahnya. Jadi ketika makanan masih ada kita bisa mengecek,” tandas Nego.
Selain mendatangi sekolah, kemarin menurut Nego pihak puskesmas juga meminta guru untuk menghubungi wali murid.
Yakni, jika masih ada yang mengeluh sakit diminta untuk datang ke Unit Gawat Darurat (UGD).
Namun, hingga pukul 15.00 kemarin, siswa yang datang ke UGD dan mengalami muntah-muntah justru karena penyebab yang berbeda.
“Ada lima anak yang datang (ke UGD, Red). Relatif tidak berhubungan penyebabnya (keracunan, Red). Tetapi kami akan tetap berusaha menindaklanjuti laporan,” sambung Mustadhim lagi.
Terpisah, Kepala Desa Purwokerto Agus Ariful Anam juga mengungkapkan hal yang hampir sama. Dia mengaku menerima laporan terkait anak-anak dengan keluhan sakit sama.
Selanjutnya, Agus sempat mendatangi sekolah serta koordinasi dengan puskesmas.
“Sepuluh anak yang sakit itu sudah di-lab di puskesmas,” tegasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah