Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Dalam Sepekan Ada Belasan Kasus Chikungunya di Kota Kediri

Ayu Ismawati • Selasa, 7 Januari 2025 | 16:15 WIB
MENEMBUS ASAP: Petugas dinkes menyemprotkan asap dari mesin fogging di RT 13 RW 5 Kelurahan Blabak, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. Di kelurahan ini belasan orang terkena penyakit demam dengan tanda
MENEMBUS ASAP: Petugas dinkes menyemprotkan asap dari mesin fogging di RT 13 RW 5 Kelurahan Blabak, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. Di kelurahan ini belasan orang terkena penyakit demam dengan tanda

KEDIRI, JP Radar Kediri- Kasus penyakit chikungunya menunjukkan pola berbeda di Kediri Raya. Di Kota Kediri, kasusnya meluas. Dalam sepekan ada belasan kasus. Sementara, sebaliknya, di Kabupaten Kediri justru melandai.

Imbas dari kasus yang meluas itu, pemkot pun melakukan pengasapan. Khususnya di beberapa rukun tetangga (RT) di Kelurahan Blabak, Kecamatan Pesantren. Tempat di mana ditemukan 12 kasus demam chikungunya dalam sepekan.

“Data terakhir 12-an kasus (di Kelurahan Blabak). Alhamdulillah sebagian besar sembuh,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Kediri Muhammad Fajri, melalui Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Hendik Suprianto.

Fogging kemarin berlangsung di lokasi yang ditemukan kasus penyakit ini. Yaitu di  RT 10 RW 3, RT 11-12 RW 4, RT 13-14 RW 5, RT 17 RW 6, serta RT 18 RW 7.

Berbeda dengan DBD yang perlu masuk rumah sakit untuk perawatan, chikungunya relatif mudah sembuh dengan sendirinya.

Meskipun kerap disertai gejala sakit hingga sulit berjalan. Waktu penyembuhan biasanya tujuh hari.

Namun, penularannya terbilang cepat. Pengasapan dilakukan sebagai upaya mencegah penyebaran virus yang dibawa nyamuk Aedes itu.

“Upaya fogging hanya membunuh nyamuk-nyamuk besar saja. Sedangkan jentik-jentik yang setiap hari bisa menetas dari ribuan telur ini tidak bisa dibasmi dengan fogging,” ingat Hendik.

Karena itu pihaknya mengimbau masyarakat menggencarkan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Sebagai upaya mengimbangi pengasapan.

Selain di Kelurahan Blabak, pihaknya juga mendapat laporan kasus di Lingkungan Centong, Kelurahan Bawang, Pesantren. Di sana, sedikitnya ada dua kasus yang dilaporkan.

“Harus segera kami upayakan (tindak lanjut temuan). Karena chikungunya ini tidak berbahaya, tapi penyebarannya cepat. Kita harus cepat lakukan upaya supaya tidak meluas,” tandasnya.

Sementara itu, penderita chikungunya mengeluh demam dan sakit persendian. Seperti yang dirasakan Atik, 52.

Warga di Kelurahan Blabak itu mengatakan, sejak pertengahan Desember 2024 anggota keluarganya mulai terjangkit demam.

Serangan flu disertai sakit di anggota gerak tubuh itu pun beruntun dari satu anggota keluarga ke anggota keluarga lainnya.

“Setelah anak yang paling gede mulai sembuh, anak kedua juga sakit sekitar dua minggu lalu. Mengeluh tangannya sakit terus setelah sembuh muncul kayak lebam-lebam,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Wati, 60. Menurutnya, banyak tetangganya yang bergantian terserang flu. Termasuk dia dan dua anggota keluarganya.

“Tapi Puji Tuhan sekarang sudah sembuh,” katanya, yang kemarin ikut menyaksikan pelaksanaan fogging di lingkungan rumahnya.

Beruntung, gejala yang dirasakannya tidak terlalu parah. Hanya saja, terdapat satu tetangganya yang sampai tidak bisa berjalan.

“Sehari mungkin katanya sampai nggak bisa jalan. Tiyang sepuh,” sambungnya.

Sementara itu, di Kabupaten Kediri, belum ada kasus chikungunya di awal tahun ini. Walaupun demikian, Pemkab Kediri tidak mengendorkan kewaspadaannya.

Pasalnya, musim hujan yang menjadi waktu penyebarluasan paling tinggi. Sehingga masih bisa dimungkinkan kembali terjadi kenaikan.

Informasi yang dihimpun, di Kabupaten Kediri kasus chikungunya mulai alami kelonjakan pada November tahun lalu.

Jika bulan sebelumnya tidak ada kasus, bulan itu tercatat lima kasus. Berikutnya pada Desember melonjak drastis hingga tiga kali lipat.

Yakni menjadi 18 orang yang terjangkit penyakit virus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus itu.

“Sementara belum ada peningkatan di awal tahun,” jelas Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Kediri dr Bambang Triyono Putro.

Walaupun demikian, dia mengimbau agar masyarakat tidak boleh lengah. Pasalnya, musim hujan adalah waktu paling mudah tersebarnya chikungunya.

Menurutnya, chikungunya memiliki pola penyebaran serupa dengan demam berdarah dengue (DBD). Penyebarannya mudah terjadi saat musim penghujan seperti saat ini.

“Untuk penanganannya obat simptomatis dan meningkatkan daya tahan tubuh,” terangnya.

Dia juga mengimbau agar masyarakat melakukan langkah pencegahan. Seperti melakukan 3M Plus, yakni rutin menguras bak mandi atau tempat penyimpanan air.

Kemudian menutup tempat penyimpanan air serta mengubur benda-benda tidak terpakai yang dapat menyebabkan air terkumpul.

“Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, tetapi telur dan jentik-jentik bisa berkembang lagi jika tidak ada upaya lanjutan seperti membersihkan genangan air,” jelasnya mengenai pentingnya langkah pencegahan. 

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #Kasus chikungunya #dalam Sepekan #pemkot #jawapos #Meluas #pesantren