JP RADAR KEDIRI- Sebelum menderita depresi, Femala Purwiko Sari, 45, dan Yuyen Febryana Sari, 43, yang merupakan lulusan kampus ternama di Surabaya, sempat memiliki karir yang cemerlang. Namun, semuanya berubah sejak Wiwik Widawati, sang ibu, meninggal. Kemudian, Prajoko Setyo Adi, sang ayah, menikah lagi.
Yuyun, 47, sepupu korban mengatakan, Femala merupakan lulusan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.
Sedangkan Yuyen lulusan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Keduanya juga sempat bekerja di luar kota setelah menamatkan pendidikannya.
“Kakaknya bekerja di Surabaya. Adiknya bekerja di Bogor sebelum resign dan pulang ke Kediri,” ungkap Yuyun.
Sejak pulang ke Kediri itulah, mereka menjadi pribadi yang tertutup. Mereka jarang keluar rumah.
Kondisi menarik diri itu semakin parah sejak Prajoko menikah lagi dan tinggal di rumah yang berbeda.
Meski tidak lagi memiliki pendapatan, Femala dan Yuyen juga tidak mau menerima bantuan pemerintah.
Suatu kali mereka pernah mendapat bantuan sosial. Namun, langsung dikembalikan.
“Tidak mau (menerima bantuan, Red). Dikembalikan,” terang Yuyun.
Kebutuhan keduanya selalu dipenuhi oleh Supriadi. Baik dengan memberi uang atau mengirim makanan. Namun, sejak sebulan terakhir keduanya semakin menutup diri.
“Pak Lik (Supriadi, Red) ke sini juga tidak dibukakan pintunya. Terakhir ke sini dua minggu lalu,” urai perempuan berambut sebahu itu.
Terpisah, Farah Fatati, 22, tetangga korban juga menyebut kakak beradik itu sebagai sosok yang tertutup.
“Waktu saya sensus pantarlih juga cuma saya selipkan di bawah pintu. Soalnya nggak bisa ditemui,” aku Farah Fatati, 22, tetangga korban.
Lebih jauh Farah menyebut, gelagat aneh itu sudah terlihat dari keduanya sejak beberapa tahun lalu.
Misalnya, mereka memilih belanja ke pasar di pagi buta agar tidak bertemu dengan tetangga sekitar.
“Di depan rumahnya kan ada got. Terus ada cor-coran yang buat menyeberang. Biasanya kalau bawa sepeda, sepedanya itu diangkat. Jadi nggak mau lewat situ,” tuturnya tentang kebiasaan aneh Femala dan Yuyen.
Terlepas dari sifatnya yang tertutup, menurut Farah sebenarnya adik dan kakak itu juga beraktivitas seperti orang kebanyakan.
Tahun lalu, Farah yang sedang mencari jamur di pekarangan Femala mengaku melihat keduanya memasak di tungku kayu di dapur.
“Mereka juga membersihkan halaman belakang rumah yang juga kondisinya tertutup,” papar Farah.
Untuk diketahui, setelah pulang ke Kediri Femala dan Yuyen juga sempat menjadi pekerja lepas.
“Kerja memang freelance online gitu. Nerima desain-desain gambar,” sambung Farah sembari menyebut belakangan mereka tidak lagi bekerja.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah