KEDIRI, JP Radar Kediri- Bencana banjir yang terjadi pada Minggu (22/12) sore lalu tidak hanya membuat ratusan rumah terendam air bah. Sebanyak enam unit di antaranya rusak karena diterjang arus air yang deras selama beberapa jam.
Apalagi, rumah yang lokasinya lebih rendah dari badan Sungai Bendomongal itu juga terendam selama sekitar lima jam.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Kalaksa BPBD) Kabupaten Kediri Stefanus Djoko Sukrisno mengatakan, akibat hujan yang mengguyur Kediri sejak pukul 14.00, Minggu (22/12) lalu, beberapa sungai yang berhulu di Gunung Wilis memang meluap.
Yaitu, Sungai Bendomongal yang merendam permukiman warga di Desa Tiron, Desa Jatirejo, dan Desa Banyakan, Kecamatan Banyakan.
Kemudian, Sungai Bendokrosok yang meluber mengenai permukiman warga di Desa Maron, Banyakan.
“Di Jatirejo, ada satu unit kendaraan roda empat dan tiga kendaraan roda dua yang sempat terseret arus air. Tapi sudah ditemukan semua,” kata Djoko.
Kemudian, di Desa Cerme, Grogol, aliran Sungai Kandang juga meluap karena alirannya tersumbat sampah. Akibatnya, tembok makam di desa setempat ambrol diterjang air bah.
Selanjutnya, Sungai Bendomongal juga meluber dan merendam Desa Bakalan, Grogol.
Kemudian, Sungai Afour juga menggenangi area persawahan warga di Desa Sonorejo, Grogol.
Selain tiga sungai tersebut, Sungai Hardisingat juga meluap. Akibatnya, rumah warga di Desa Sumberjo dan Desa Gambyok, Grogol disapu air bah.
Kemudian, Sungai Mlinjo yang meluber membuat area persawahan di Desa Datengan, Grogol terendam.
“Tanggul Sungai Kolokoso di Dusun Sumberduren, Desa Kaliboto, Tarokan jebol hingga menyebabkan area persawahan terendam banjir,” terang Djoko.
Meski enam aliran sungai meluap dalam waktu bersamaan, Djoko bersyukur kemarin semuanya sudah surut. Karenanya, BPBD bersama relawan melakukan aksi bersih-bersih.
Pembersihan terutama dipusatkan di Jl Desa Tiron, Banyakan yang kemarin tertutup lumpur.
Sedikitnya, jalan desa sepanjang sekitar 100 meter tertutup lumpur setinggi sekitar 20 sentimeter.
Untuk membersihkannya, para relawan bersama warga gotong royong meminggirkan lumpur menggunakan cangkul dan sekrop.
Selanjutnya, satu unit mobil damkar menyemprot jalan beraspal itu agar tidak lagi licin.
Selama proses pembersihan, kendaraan dilarang melintas karena dikhawatirkan akan tergelincir.
Lebih jauh Djoko menyebut, dari total 10 desa yang terdampak banjir, Desa Tiron, Banyakan merupakan yang terparah.
Di sana, ada enam rumah yang rusak berat. Kemudian, sepuluh rumah lainnya retak-retak atau rusak ringan.
Dikatakan Djoko, sejak Minggu malam lalu BPBD bersama pihak desa juga membuka pos pengungsian dan dapur umum di balai desa.
Namun, agaknya warga lebih memilih mengungsi di rumah tetangga atau keluarga yang tidak terdampak.
Kepala Desa Tiron Ina Rahayu menambahkan, selain ada rumah yang rusak, tidak sedikit peralatan rumah tangga warga yang terbawa air bah.
“Ada yang luka ringan karena saat menyelamatkan diri kakinya kena kayu atau sejenisnya. Tapi sudah diobati,” tuturnya sembari menyebut ada lansia yang kaget rumahnya disapu air bah dan kondisi kesehatannya menurun.
Untuk diketahui, banjir pada Minggu sore hingga malam lalu juga turut membuat kawasan Bandara Dhoho tergenang.
Air bercampur lumpur menggenangi jalan di area luar bandara hingga di kompleks perkantoran.
Legal, Compliance, and Stakeholder Relation Manager PT Angkasa Pura (AP) 1 Bandara Dhoho Bintari Ariyani mengatakan, hujan deras Minggu siang lalu membuat akses menuju ke kantor PT AP 1 tergenang.
Genangan juga muncul di area kantor BMKG kompleks bandara.
“Telah dilakukan tindakan cepat dan tepat sehingga kemarin sudah surut dan banjir tidak mengganggu aktivitas di area bandara,” jelasnya sembari menyebut bahwa landasan pacu tidak terdampak air bah.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel
Editor : Anwar Bahar Basalamah