Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Penyuka Sesama Jenis Jadi Penyebab Terbesar HIV/AIDS di Kediri

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Minggu, 1 Desember 2024 | 18:30 WIB
Photo
Photo

JP RADAR KEDIRI - Istilah saat ini, lelaki seks lelaki (LSL). Atau, orang lebih sering menyebut gay. Yaitu seorang pria yang menyukai sesama pria kemudian berhubungan seksual.

Nah, fenomena ‘jeruk makan jeruk’ itu merupakan faktor penyebab penyebaran HIV/AIDS terbesar. Tidak hanya bagi kalangan dewasa, juga remaja, bahkan anak-anak!

Tak percaya? Simak saja  penjelasan Retno Handayani ini. Pada 2024 ini dua dari empat kasus para remaja pria usia 15-19 tahun adalah gay. Satu lagi merupakan wanita pria (waria).

Kemudian, pada rentang usia 20-24 tahun, sepuluh dari 17 pengidap HIV/AIDS adalah kelompok itu, LSL. Sementara satu orang adalah waria.

"LSL usia 20-24 dan umur-umur sekolah banyak di Kabupaten Kediri," terang Retno.

Dia mengatakan, remaja, bahkan anak usia sekolah, sudah banyak yang mengenal seks semama jenis. Menurutnya faktor risiko itulah yang paling banyak menyebabkan terjangkit HIV/AIDS.

Kenapa anak usia sekolah sudah mengenal dan masuk dunia LSL? Retno mengatakan, salah satunya karena perkembangan teknologi informasi. Mereka bisa mengakses informasi yang berujung menyesatkan.

Contohnya, anak-anak sekarang paham bahwa melakukan hubungan seks, dengan lawan jenis, bisa berakibat fatal. Yaitu menyebabkan kehamilan.

Padahal, keinginan merasakan sensasi seksualitas terus menggebu. Dampak dari interaksi mereka dengan internet. Akhirnya, mereka berpikir akan aman bila melampiaskan hasrat ke sesame jenis.

"Padahal risiko jangka panjangnya ada. Mereka bisa terkena HIV/AIDS yang akan dirasakan seumur hidup," terang Retno.

Repotnya, tempat interaksi kalangan ini adalah hotspot alias tidak kasaat mata. Berbentuk komunitas yang tidak menggambarkan suatu kelompok yang menyeleweng.

Namun di dalamnya menjadi salah satu tempat bertransaksi seks bebas.

Baca Juga: Kenapa Kota Kediri Sering Banjir ketika Hujan Deras?

"Memang di sini tidak secara terang-terangan. Transaksinya dengan melakukan pertemuan dulu. Seperti meet and greet, gathering, dan sejenisnya. Di sana ngobrol, kemudian baru janjian untuk eksekusi di mana. Memang tidak nampak, tapi orang yang masuk sana tahu bahwa ini merupakan tempat seperti itu. Dan mereka punya kode-kode tertentu," Retno membeberkan modus-modus yang terjadi di kelompok itu.

Trend semacam ini di Wilayah Kabupaten Kediri tinggi. Dan ini tidak hanya dikenal oleh orang dewasa.

Tapi juga pada remaja dan anak-anak sekolah. Sehingga banyaknya LSL salah satunya juga karena ini.

Masih menurut Retno, hal semacam ini tidak hanya ditemui di perkotaan. Bahkan di desa maupun pelosok juga banyak.

"Di gunung-gunung misalnya. Ketika anak di desa terpapar internet, kemudian di desa ada kelompok seperti ini, kemudian bergabung. Adanya lingkungan yang demikian ini mau tidak mau kan jadi mendapatkan saran (negative) dari mereka," terangnya.

Pengamat sosial Elis Yusniyawati setuju bila maraknya seks bebas akibat bebasnya penggunaan internet. Sehingga menyebabkan terjadinya penyimpangan sosial seperti itu.

"Dulu seks dimaknai sebagai penyatuan dua insan dalam ikatan yang sakral. Tapi saat ini dimaknai sebagai sesuatu untuk have fun, untuk senang-senang gitu kan? Kenapa itu bisa terjadi ada pergeseran makna dan pergeseran paradigma (tentang seks), " terang dosen Ilmu Sosial, Politik dan Komunikasi di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung ini.

Menurutnya, adanya kemudahan menggunakan internet menyebabkan banyak orang mengupload hal-hal yang tidak seharusnya.

"Celakanya lagi hal-hal yang tidak seharusnya ditonton oleh orang banyak itu menjadi konsumsi public. Bahkan untuk anak-anak yang di bawah umur," terangnya.

dari pengamatannya, banyak sekali dispensasi nikah yang dimohonkan oleh anak di bawah umur. Berusia 12 sampai 13 tahun.

Kebanyakan karena hamil setelah melakukan seks di luar nikah. Hal ini memungkinan mereka tertular HIV/AIDS.

Elis menambahkan, kemudahan akses internet tak diimbangi dengan pengetahuan yang mumpuni para generasi muda. Dengan pengetahuan terbatas itu mereka sering salah menafsirkan yang dilihat.

Menurutnya, mayarakat Indonesia, apalagi anak muda, dari remaja hingga anak-anak, masih belum cukup mental dengan budaya luar yang terus masuk.

Sehingga budaya seks bebas, termasuk hubungan sesama jenis merajalela.

"Ini ancaman darurat. hari ini sudah  darurat mental, darurat moral. Degradasi moral sudah terjadi pada generasi muda kita hari ini," terang komisioner Komisi Informasi (KI) ini.

Menurut Elis, untuk mengurangi harus ada upaya komprehensif. Harus dilakukan semua kalangan. Dan, yang terpenting adalah kesadaran diri sendiri.

"Upaya-upaya pencegahan penyebaran HIV AIDS itu harus dimulai dengan kesadaran diri sendiri," terangnya.

Menurutnya, adanya filter untuk semua yang di konsumsi anak-anak menjadi bagian dari sesuatu yang memungkinkan mencegah itu.

"Jadi pencegahannya itu tidak hanya kemudian larangan dan anjuran, tapi juga perlu ada regulasi yang tegas dan bisa diaplikasikan pemerintah kita terhadap masyarakat," sarannya. 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radarkediri #lgbt #jawapos #penyuka sesama jenis #HIV / AIDs