JP RADAR KEDIRI- Coba simak data memiriskan ini. Pada 2022, di Kabupaten Kediri, tidak ada remaja usia 15-19 tahun yang mengidap human immunodeficiency virus/acquired immune-deficiency syndrome (HIV/AIDS).
Meskipun tercatat empat pasien penyakit itu di rentang usia 5-14 tahun. Tapi, setahun kemudian ada tujuh remaja yang terinfeksi. Lalu, pada 2024, menjadi enam anak.
“Data memang berubah berdasarkan usia mereka. Ketika usianya bertambah, kadang tercatatnya di range usia setelahnya. Karena memang HIV/AIDS diidap hingga seumur hidup. Namun untuk jumlahnya memang meningkat," terang Retno Handayani.
Penjelasan terakhir wanita yang juga subkoordinator Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PM) Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri perlu digarisbawahi tebal.
Bahwa jumlah penderita HIV/AIDS meningkat. Dari tahun ke tahun. Terutama pada anak-anak muda (selengkapnya lihat infografis).
Berdasarkan penjelasan Retno, banyaknya remaja-terutama anak usia sekolah-terpapar HIV/AIDS karena sudah kenal seks bebas. Dan itu mereka dapatkan dari pesatnya teknologi informasi.
Internet yang semakin maju membuat segala macam informasi dengan mudah diakses siapapun.
Bila tanpa penyaring, anak usia sekolah sangat gampang terpapar. Termasuk segala hal yang berbau seks bebas. Awalnya mencoba, kemudian jadi keterusan.
"Katakan saja aplikasi hijau. Tidak hanya orang dewasa, remaja, bahkan anak-anak usia sekolah sudah bisa main seperti itu," terang Retno.
Dulu, Retno mengatakan, yang tahu tempat hiburan malam, eks lokalisasi, atau sejenisnya hanya orang dewasa.
Tapi tidak dengan sekarang. Mereka sudah tidak perlu datang ke tempat seperti itu. Anak-anak sudah bisa dengan mudah mengakes media sosial untuk bisa merasakan seks.
"Ibarat dulu kalau mau beli sasuatu harus keluar untuk cari penjual. Sekarang berbeda. Bahkan penjualnya sudah ada di depan pintu (lewat gadget, Red)," jelas Retno.
Kondisi seperti itu yang menjadi salah satu penyebab banyaknya penderita HIV/AIDS di kalangan anak usia sekolah maupun remaja. "Tidak hanya di Kabupaten Kediri, tapi seluruh Indonesia juga sama," imbuhnya.
Perkembangan teknologi itu juga mempersulit tracing penyintas HIV/AIDS. Jika dulu cukup dengan memonitor eks-lokalisasi saja, sekarang tidak bisa.
Pasalnya, dengan berkembang teknologi, masyarakat bertransaksi secara tidak kasat mata. Tidak harus datang di eks lokalisasi yang sudah terlokalisasi.
"Mau tidak mau jadi sulit pelacakannya," keluhnya.
Berbeda dengan anak di bawah 15 tahun yang menderita HIV/AIDS, yang lebih banyak disebabkan faktor keturunan.
Tertular dari sang ibu ketika mengandung. Atau bawaan ibu hamil yang mengidap HIV/AIDS.
Retno kemudian membeberkan satu temuan menarik. Ada ibu yang menderita HIV/AIDS karena menikah dini. Sebab, mereka sudah melakukan hubungan seks di luar nikah.
“Setelah dicek ternyata terjangkit HIV/AIDS,” jelas Retno.
Retno mengatakan, sebenarnya tidak semua ibu hamil yang mengidap HIV/AIDS bisa menularkannya ke sang anak.
Selama penemuannya sedini mungkin. Kemudian juga dilakukan pengobatan secara rutin.
Bagaimana dengan Kota Kediri? Setali tiga wang alias sama saja. Hingga Oktober lalu ada 215 kasus HIV/AIDS yang tercatat di dinkes. Hebohnya, 78 di antaranya diderita mereka yang masuk kelompok LSL.
“(Akibat hubungan) sesama jenis itu (penderitanya) tinggi,” sebut Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Kediri Hendik Suprianto.
Karena itulah, Hendik perlu mengingatkan para orang tua agar mewaspadai anak-anak remaja prianya. Terutama yang ke mana-mana selalu bersama teman pria.
Menurut Hendik, dinkes telah memeriksa 1.710 LSL. Sehingga, dari total populasi gay yang diperiksa, 4,5 persen positif HIV/AIDS.
Selain itu, sarana penularan tertinggi adalah kontak seksual. Terutama yang dilakukan dengan pekerja seks komersial (PSK).
Repotnya, pengawasan saat ini sangat sulit. Karena transaksi tidak lagi di satu tempat yang diketahui. Melainkan melalui aplikasi kencan di internet.
Untuk menahan laju penyakit berbahaya ini, dinkes kerap melakukan mobile visit. Ke tempat yang selama ini dianggap rawan.
Mereka juga berkolaborasi dengan relawan seperti Yayasan Redline Indonesia dan Kelompok Dukungan Sebaya (KDS).
INFOGRAFIS\\
Anak dan Remaja dengan HIV/AIDS dari Tahun ke Tahun
Usia 2022 2023 2024 (hingga awal November)
< 4 tahun 1 orang 1 orang 1 orang
5-14 tahun 4 orang 4 orang 1 orang
15-19 tahun - 7 orang 6 orang
20-24 24 orang 35 orang 23 orang
Sumber : Dinkes Kabupaten Kediri
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah