KEDIRI, JP Radar Kediri-Suyadi memegangi selembar seng dengan tangan kirinya. Menempelkannya ke tiang kayu. Kemudian, tangan kanannya mengayunkan palu. Berusaha menancapkan paku sedalam mungkin.
Sang istri, Marsi’in, membantu. Memegangi sisi lain dari seng tersebut. Setelah terpaku kuat di tiang kayu, si istri ini beranjang ke sisi lain. Kemudian menaruh kasur di dekat dinding seng itu.
“Tak enak kalau menumpang terus. Lebih baik bikin kamar darurat seperti ini,” ucap Suyadi.
Ya, pasangan itu memang membuat sepetak tempat untuk tidur. Di tempat yang selama ini jadi tempat penyimpanan kayu dan pakan ternak.
Bangunan berukuran kecil yang awalnya hanya berupa pilar kayu dengan atap asbes itu kemudian diberi dinding. Dari terpal bantuan dan seng bekas.
“Yang penting bisa untuk tidur,” sambung warga Dusun Sumberejo, Desa Pranggang, Kecamatan Plosoklaten tersebut.
Karena tempat pakan, kamar darurat itu tepat di sebelah kandang ternaknya. Yang berisi seekor sapi dan beberapa kambing.
Hanya terpisah satu petak ruang lagi ukuran 2x3 meter. Tempat menaruh sepeda motor dan sepeda ontel.
Keluarga Suyadi adalah salah satu korban bencana angin kencang yang menerjang sebagian wilayah Kabupaten Kediri Kamis (31/10) lalu.
Kejadian yang menyisakan rasa trauma bagi anggota keluarga ini. Terutama bagi si bungsu Mirna Rizki Juliana.
“Setelah kejadian itu dia nangis terus. Merengek rumahnya rusak nanti tidur di mana,” terang Marsi’in.
Pasangan Suyadi-Marsi’in punya enam anak. Namun, yang dua sudah berkeluarga dan tinggal di rumahnya sendiri. Setelah bencana, mereka terpaksa tercerai-berai dulu.
Baca Juga: Rehab Rumah Rusak di Kabupaten Kediri Masih Tunggu Asesmen
“Yang paling kecil ini nginap di rumah kerabat. Tiga kakaknya ada yang tidur di ruamh temannya dan di masjid. Lelaki kan biasa tidur di mana saja,” jelas Suyadi.
Sebenarnya, Suyadi juga bisa menginap di kerabatnya yang tinggal tepat di depan rumah. Tapi, bila terlalu lama menumpang dia mengaku tak enak. Karena itu, dia memilih membuat kamar tidur darurat.
Bencana Kamis sore itu membuat keluarga Suyadi susah. Tak hanya atapnya yang terbang terbawa angin, juga barang-barangnya banyak yang rusak.
Baju seragam dan buku pelajaran milik si bungsu juga kotor dan basah. Akibatnya, Mirna terpaksa membolos beberapa hari.
Agar anaknya tersebut bisa bersekolah lagi, Marsi’in bekerja keras mengeringkan buku-buku pelajaran. “Dipepe, diwolak-walik ben garing (dijemur, dibolak-balik biar kering, Red),” tutur sang ibu yang berusia 55 tahun ini.
“Setelah itu saya seterika, biar halus lagi,” lanjutnya.
Setelah seragam dan buku kering, Mirna pun mau bersekolah lagi. Kembali ceria ketika bertemu teman-temannya.
Rumah dan barang-barangnya yang rusak tentu saja memunculkan kerugian materi. Bila dia total, nilainay mencapai Rp 30 juta. Jumlah yang besar bagi pria yang sehari-hari bekerja sebagai pencari barang bekas ini.
Menang, selain atap rumahnya, beberapa perabotannya rusak. Di antaranya adalah lemari dan sofa.
Kondisi rumahnya juga kotor karena material atap yang ambrol. Untungnya, setelah dibantu warga, rumah itu sudah bersih kemarin.
Terpisah, Plt Kepala Dinas Perkim Kabupaten Kediri Irwan Chandra Wahyu Purnama melalui KAbid Permukiman Ainur Rozi menyebut bahwa pihaknya telah melakukan assesmen.
Ada beberapa keluarga yang akan mendapat bantuan. Salah satunya keluarga Suyadi.
“Untuk Desa Pranggang rencananya ada CSR dari PT Irfai,” jelasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah