Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ironi! Warga Desa di Lereng Gunung Ini justru Lebih Sering Mengalami Kekeringan

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Senin, 4 November 2024 | 16:35 WIB
Warga Desa Sepawon antre menunggu jatah droping air bersih dari BPBD Kabupaten Kediri
Warga Desa Sepawon antre menunggu jatah droping air bersih dari BPBD Kabupaten Kediri

KEDIRI, JP RADAR KEDIRI- Kekeringan dan kekurangan air bersih bagi warga desa-desa di lereng gunung ibarat problem klasik. Selalu terjadi tahun. Berkurangnya sumber air dan sikap tak peduli sebagian warga adalah penyebabnya.

Desa Sepawon masuk wilayah Kecamatan Plosoklaten. Berada di lereng Gunung Kelud. Warganya sangat bergantung pada tiga sumber air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Baik untuk konsumsi maupun lainnya. Namanya, Sumber Glatik, Sumber Sepawon, dan Sumber Badek.

Sumber Glatik punya dua mata air, atas dan bawah. Keduanya muncul dari dinding-dinding tebing. Bedanya, yang bagian bawah dari tebing di dalam gua.

“Warga dua dusun yang memanfaatkan air dari sumber ini. Yaitu Dusun Petungombo dan Gatok,” terang Krisaji, lelaki yang bertugas sebagai jaga tirta,  yang bekerja mengatur penggunaan air-Desa Sepawon.

Sementara, masih menurut Krisaji, warga dusun Sepawon dan Ngrangkah memanfaatkan air dari Sumber Sepawon.

Sumber ini juga digunakan oleh warga Desa Campurejo, yang masih dalam satu kecamatan. Kemudian, satu sumber lagi, Sumber Badek, digunakan oleh warga Dusun Badek.

“Warga Sepawon juga ada yang ambil dari Sumber Pulo di Puncu. Itu, yang pipanya terbakar kemarin,” tambah pria yang juga dipanggil dengan sapaan Tukang Talang ini.

Masalahnya, debit Sumber Glatik kian mengecil dari tahun ke tahun. Beberapa tahun lalu, ketika kemarau, dam yang terisi dari resapan di bagian atas masih bisa terisi setengahnya.

Tapi, tidak kali ini. Tampungan air tersebut benar-benar kering  tanpa air.

“Kalau yang bawah masih mending. Kemarau seperti ini bisa terisi setengah,” lanjut lelaki yang sudah 12 tahun mengurusi air tersebut, sambil menunjuk ke arah dam tersebut.

Kemarau tahun ini tergolong parah. Dia harus membagi waktu pembagian empat kali. Padahal tahun lalu hanya dua kali.

Meskipun, dia mengaku masih aman. “Tapi ya harus berhemat,” tekannya.

Hal serupa juga terjadi di sumber yang lain. Bahkan, Sumber Badek boleh disebut hampir mati. Sumber ini tempatnya di kebun warga yang tidak ada pepohonannya.

Situasi seperti itu tentu merepotkan warga. Sebab, selain petani, banyak di antara mereka yang juga peternak. Nah, hewan-hewan piaraan itu juga butuh air.

“Intinya, kami harus berhemat (dalam penggunaan air). Ada yang (mendapat) drooping, itu karena pipanya terbakar,” kata Kepala Desa Sepawon Rahmad Sudrajat.

Ancaman kekurangan air juga menimpa Desa Ponggok, Kecamatan Mojo. Sudah 120 hari ini air menghilang dari pipa-pipa yang berasal dari sumber air menuju rumah warga.

Penyebabnya, tentu saja, mata airnya mengering. Akibatnya, ratusan warga desa kesulitan mendapatkan air.

Selama ini warga Desa Ponggok menggantungkan kebutuhan airnya dari tiga tempat. Satu dari sumber air dan dua dari aliran sungai. Yaitu Sumber Margosono, aliran Sungai Pamongan, serta aliran Sungai Petungroto.

Sumber Margosono lokasinya di hutan milik Perhutani. Bila normal, airnya bisa memenuhi kebutuhan warga di empat dusun, Ponggok, Ngampel, Baran, dan Karangwaru.

Nah, karena debit berkurang, ada seratus keluarga di Dusun Karangwaru yang kesulitan air.

Keadaan diperparah dengan keringnya aliran Sungai Petungroto. Padahal, selama ini air dari sungai ini digunakan oleh ratusan warga Dusun Tumpaknongko dan Baran.

“Kesulitan air tahun ini paling parah. Untung droping air lancar,” aku Rusmini, 64, warga Desa Ponggok.

Memang, sejak air dari sumber tak lagi mampu mengalir di pipa-pipa yang mengarah ke rumah warga, harapannya tinggal pada dropping air dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri.

“Kami dipinjami toren (tangki air, Red) dan mendapat dropping 14 ribu liter lebih setiap hari,” aku Kades Ponggok Yoyok Dudi Harmono.

Droping air boleh lancar, toh itu tak mampu menutup persoalan mendasar bagi warga yang mayoritas petani dan peternak ini. Tanaman jadi kurang subur.

Kemudian hewan ternak juga kurus. “Penyebabnya karena pakan dan air berkurang,” ucap Ketua Tim Siaga Bencana Desa (TSBD) Ponggok Hendra Yanto.

Panen palawija, yang biasa ditanam di setiap kemarau, juga jelek. Setidaknya bila dibanding desa lain yang sawahnya terairi dengan baik.

Mengomentari fenomena ini, pengamat lingkungan Tutut Indah Sulistyowati menyebut, seharusnya wilayah pegunungan kaya akan air.

Memiliki banyak sumber. Bila kemudian yang terjadi adalah kekeringan, berarti ada persoalan pada kelangsungan mata air tersebut.

“Salah satu faktornya adalah kemarau panjang dan panas ekstrem yang terjadi secara global,” ujarnya menganalisa.

Faktor lain adalah lingkungan di sekitar sumber. Mata air yang ada di dekat permukiman dengan di tengah hutan memiliki kualitas berbeda. Demikian pula yang berada di dekat area perkebunan juga berbeda.

“Ada tanaman yang bisa menjaga air tapi ada yang justru menyerap air. Seperti tebu dan sejenisnya, itu menghabiskan banyak air (tanah),” terang dosen biologi Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri ini.

Kepadatan penduduk juga faktor berkurangnya debit sumber. Padahal, di satu sisi jumlah sumber tidak bertambah. Bahkan cenderung berkurang karena rusak.

Ini yang membuat air dari sumber akan cepat habis karena terus-menerus dieksploitasi.

Fenomena kekeringan ini, diperkirakan, masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan. Meskipun sudah memasuki musim penghujan namun belum merata.  

“Ada beberapa wilayah yang lebih awal masuk musim hujan, ada yang belum. Karena itu, di Kediri Raya curah hujan belum merata,” ujar Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas III Bandara Dhoho Kediri Lukman Soleh.

Sementara, Kalaksa BPBD Kabupaten Kediri Stefanus Djoko Sukrisno mengatakan bahwa potensi kekeringan bisa dialami hampir di seluruh lereng gunung Kelud dan Wilis. Karena debit sumber air di tempat itu semakin berkurang. 

Baca Juga: Penyakit Gondongan Bikin Ortu di Kota Kediri Waswas, Anak-Anak Perlu Tingkatkan Antibodi untuk Cegah Serangan Virus Paramyxovirus 

Saat ini, kondisi air relatif masih mencukupi. Hanya dua titik saja yang butuh droping, yaitu Ngetrep dan Ponggok, Mojo.

“Di Sepawon masih dilakukan tapi itu karena pipa yang rusak. Ini masih proses pembenahan,” akunya.

Keberadaan sumur dalam di beberapa titik juga sangat membantu. Bila tidak, akan semakin banyak tempat yang butuh dropping air. Meskipun, tidak semua tempat bisa menerapkan hal itu. Seperti Desa Ponggok yang kondisi tanahnya berbatu dan sulit dibor.

"Memang kasuistik, tidak bisa disamakan. Namun yang terpenting adalah menjaga bagaimana agar pohon tetap terjaga. Itu yang terus kami sosialisasikan," tegasnya.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radarkediri #kekeringan #lereng gunung kelud #jawapos #Peristiwa