KEDIRI, JP Radar Kediri-Seperti halnya warga desa lainnya, Maryati merasa gembira hati melihat titik-titik air mulai turun dari langit. Gerimis di sore itu melegakan dirinya.“Awalnya seneng (melihat hujan turun). Kan kemarau lama,” aku warga Dusun Kaligedok, salah satu dusun di Desa Margourip, Kecamatan Ngancar.
Titik-titik air sudah mulai turun sejak pukul 14.00. Awalnya wajar-wajar saja. Kemudian, berubah menjadi kian deras. Tapi, masih tidak mengkhawatirkan bagi Mariyati. Dia merasa curah hujan masih normal. Apalagi, kemudian hujan itu mereda.
Tapi, semuanya berubah ketika hujan kembali turun, sekitar pukul 15.00. Tak seperti sebelumnya, kali ini disertai embusan angin yang sangat kencang. Diiringi suara berdengung keras yang menakutkan.
Maryati, yang tinggal seorang diri di rumah berdinding warna kuning itu, mulai waswas. Ketika melongok ke jendela, pohon-pohon di samping rumah melambai dengan kuat. Batangnya melengkung dengan sangat. Seperti hendak bertumbangan.
Sejurus kemudian, beberapa pohon ambruk. Diikuti suara benda-benda berjatuhan. Suara yang berasal dari genting rumah-rumah yang rontok. Termasuk genting di rumah Maryati.
Perasaan wanita 59 tahun itupun tercekam. Didera ketakutan yang amat sangat. Hatinya semakin kecut ketika tahu dua pohon rambutan di depan rumah meliuk-liuk hendak tumbang.
Sontak, dia berlari ke kamar. Yang dia tuju adalah kolong tempat tidur. Maryati pun bersembunyi di bawah kasur.“Saya ndelik teng ngisor amben (saya bersembunyi di bawah dipan, Red), takut kalau pohon ambruk,” ucapnya, menceritakan kengerian yang dia rasakan ketika hujan Senin (30/9) sore itu.
Benar saja, dua pohon rambutan itu ambruk susul-menyusul. Sebagian dahannya menerjang genting teras.“Suaranya keras sekali. Saya takut, ndepis di bawah kasur,” akunya.
Suasana kian mencekam ketika tiba-tiba aliran listrik terputus. Suasana pun jadi gelap gulita. Mulut Mariyani kian bergerak-gerak. Mengucapkan bacaan zikir yang dia tahu.
Sambil terus berdoa agar dia baik-baik saja.“Saya zikir terus, salawat terus. Pokok doa terus,” kenangnya.
Kengerian itu dia rasakan hampir satu setengah jam. Karena hujan yang disertai angin kencang tersebut baru reda sekitar pukul 16.30. Saat itulah dia baru berani keluar dari tempat berlindungnya.
Betapa terkejutnya ketika dia berada di luar rumah. Atap terasnya rusak parah tertimpa pohon rambutan. Putusnya aliran listrik, ternyata, karena kabel jaringan PLN tertimpa pohon rambutan itu.“Pohon di belakang (rumah) juga banyak yang ambruk,” terangnya.
Setelah kejadian itu, hingga Rabu (2/10), saat ditemui koran ini, Mariyati masih tinggal bersama anaknya. Yang masih berada satu dusun.
Dia mengaku trauma tinggal di rumah sendiri.“Rumah juga mati listrik, jadi tidur sama saya dulu,” kata Ernawati, 36, anak kedua Mariyati.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah