KEDIRI, JP Radar Kediri—Cuaca panas yang berlangsung di Arab Saudi berdampak terhadap kondisi jemaah haji, terutama yang dari Kediri. Sebagian mengeluh sakit batuk setibanya di Tanah Suci. Bahkan, sebagian memilih menjalankan ibadah salat Jumat di penginapan (maktab) kemarin (7/6).
“Tidak semua jemaah melaksanakan salat Jumat di Masjidil Haram. Sebagian memilih salat di masjid hotel karena pertimbangan cuaca dan tidak adanya transportasi menuju ke sana,” terang Bisri Mustofa, 50, jemaah asal Kelurahan Pesantren, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri.
Memang, layanan bus jemaah sudah dihentikan mulai pukul 07.00 waktu setempat. Bagi yang ingin menuju Masjidil Haram di atas batas waktu itu harus menggunakan jasa taksi.
“Saya juga salat di masjid hotel. Jumat pagi sehabis salat subuh dan tawaf sekitar pukul 08.00. Setelah itu saya memilih pulang naik taksi karena pertimbangan waktu salat Jumat masih lama,” sambungnya.
Suhu yang panas juga menjadi alasan bagi sebagian jemaah. Panas di Tanah Suci kemarin mencapai 41 derajat celcius. Hal ini membuat sebagian terkena batuk dan pilek.
“Bisa jadi disebabkan cuaca yang panas kemudian banyak jemaah yang minum air dingin,” duga Bisri.
Kondisi itu membuat Kementerian Agama (Kemenag) mengimbau agar para jemaah mengurangi aktivitas. Untuk menghindari terganggunya kesehatan sebelum ibadah puncak nanti.
“Ditakutkan terjadi dehidrasi sehingga (bisa) mengganggu pelaksanaan wukuf di Arafah nanti. Kami anjurkan kepada jemaah yang umrah sunah agar melakukannya di malam hari,” imbau Kasi Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kantor Kemenag Kabupaten Kediri Abdul Kholiq Nawawi.
Dia menyebut, ada beberapa jemaah yang terkena batuk pilek. Penyebabnya adalah perbedaan cuaca dan suhu antara Tanah Suci dan tanah air. Namun, serangan penyakit itu masih dalam batas yang wajar.
“Alhamdulillah, sementara ini jemaah masih aman. Mungkin hanya batuk pilek,” jelasnya, sambil mengatakan bahwa selain menunggu puncak haji, jemaahjuga menunggu keluarnya smart card dari pemerintah Arab Saudi.
Sementara itu, setelah menunaikan umrah wajib beberapa waktu lalu, jemaah Kediri melakukan umrah sunah. Mereka melakukannya secara berkelompok maupun mandiri. Ini dilakukan sembari menunggu datangnya puncak haji, yaitu Wukuf di Arafah 15 Juni nanti.
Sempat ada insiden saat pelaksanaan umrah sunah ini. Salah seorang jemaah tersesat. Peristiwa itu terjadi pada Selasa (4/6) malam. Syakur 70, warga Desa/ Kecamatan Ngasem, jemaah kloter sub-73 rombongan 1 tiba-tiba saja hilang. Saat melaksanakan umrah sunnah, dia terpisah dari rombongannya.
“Beliau terpisah dari rombongan saat umrah sunah ke-2,” jelas Kholiq.
Petugas pun langsung dibuatnya kebingungan. Setelah mencari beberapa jam, barulah Syakur ditemukan. Petugas menemukannya di pintu masuk Masjidil Haram dekat WC 3.
“Dua jam setelah tertinggal rombongan sudah ketemu. Sudah kembali ke hotel, sudah kami jemput,” terang Kholiq.
Dari Kediri, kemarin 21 jemaah asal Kediri menyusul berangkat ke Tanah Suci. Mereka adalah rombongan haji khusus dari Rameyza Tour and Travel. Untuk pertama kalinya,rombongan berangkat lewat Bandara Internasional Dhoho Kediri.
"Alhamdulillaah, ini perdana untuk rombongan kami lewat sini (Dhoho Air Port, Red)," ungkap Dyah Sulistiyawati, salah satu pimpinan Rameyza Tour & Travel.
Menurutnya, setelah dari Dhoho, jemaah akan bergabung dengan rombongan lain di Jakarta. Mereka tergabung dengan jemaah umrah haji khusus yang dilaksanakan Amphuri Indonesia. Rencana mereka akan di tanah suci selama 25 hari.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram"Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah