Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

4 Sumur Warga Tempurejo Kota Kediri Masih Tercemar Minyak SPBU Pertamina

Ayu Ismawati • Kamis, 6 Juni 2024 | 17:29 WIB

 

Photo
Photo

KEDIRI, JP Radar Kediri- Sumur yang tercemar bahan bakar minyak (BBM) akibat kebocoran SPBU Pertamina 5464135 Tempurejo di Kelurahan Tempurejo, Pesantren masih berlanjut. Dari 14 sumur yang terkontaminasi, masih ada empat sumur mengandung total petroleum hydrocarbon (THT). Pada Selasa (4/5) lalu, Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri dan SPBU Pertamina 5464135 Tempurejo menuangkan larutan zat dispersant untuk pemulihan tahap II. 

Empat sumur yang tercemar itu setelah sampelnya diujikan di laboratorium akademisi Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. “Dari 14 sampel sumur yang diambil, hasilnya ada empat sumur yang masih mengandung TPH (zat minyak bumi, Red),” ujar Imam Muttakin, Kepala DLHKP Kota Kediri.

Sepuluh sudah memiliki kadar TPH 0. Sedangkan empat sumur masih mengandung TPH dengan rentang 1 – 44 miligram per liter. Terdiri dari tiga sumur terbuka dan satu sumur tertutup. “Hari ini (Selasa, 4 Juni 2024, Red) dilanjutkan treatment pengurasan dan pemberian dispersant lagi,” sambungnya sembari menyebut, teknis pemulihan tersebut diterapkan di tiga sumur terbuka yang masih mengandung minyak.

Sumur terbuka itu milik Sulastri, Roy Barnes, dan Sugiono. Petugas dari SPBU Pertamina 5464135 dan DLHKP kembali mendatangi lingkungan terdampak lalu menguras dan diberi larutan dispersant kembali. 

Agus Salim, pengawas SPBU Tempurejo mengatakan, pihaknya memberikan larutan dispersant sesuai arahan akademisi Teknik Lingkungan ITS. Menurutnya, dosis pemberian cairan kimia itu dikurangi seiring dengan penurunan kadar TPH dalam air sumur warga. 

 “Tadi dikuras dulu sampai habis airnya dan kelihatan dasar sumurnya. Setelah itu dituangkan cairannya. Masing-masing lima liter di sumur milik Bu Sulastri, dan Roy Barnes. Kemudian di sumur milik Pak Sugiono sebanyak sepuluh liter,” urai Agus saat ditemui di salah satu rumah warga terdampak pada Selasa (4/5) lalu.

Setelah pemberian cairan dispersant, airnya nanti akan diujikan lagi di laboratorium. Biasanya, tim dari ITS mengambil sampel seminggu setelah dispersant dilarutkan dalam air sumur. “Kami akan kembali lagi nanti menyesuaikan dari ITS-nya,” tandasnya. 

Sementara itu, Sulastri, 58, warga terdampak mengatakan, meski tak separah dulu, sampai saat ini air sumurnya masih tercium bau bensin. Karena belum pulih sepenuhnya, dia pun tidak berani menggunakan air sumurnya untuk kebutuhan sehari-hari. 

“Tetap saja seperti ini (berbau minyak, Red). Kalau belum aman, saya tetap tidak berani pakai airnya,” tandasnya. 

Diberitakan sebelumnya, pencemaran minyak di belasan sumur warga itu diketahui sejak awal Agustus 2023 lalu. Puncaknya, pada 9 September 2023, salah satu air sumur warga berubah warna menjadi hitam dan terbakar saat disulut api.

Menindaklanjuti hal tersebut, Pemkot Kediri menggandeng Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya melakukan serangkaian penelitian. Berdasarkan hasil uji hidrokarbon, sedikitnya air tanah milik 14 kepala keluarga (KK) mengandung zat TPH yang sangat tinggi. Yakni, mencapai 187.360 miligram. Belakangan terkuak jika air tanah warga tercemar bahan bakar minyak yang bocor dari SPBU Tempurejo. Jaraknya kurang dari 100 meter dari lingkungan warga. 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram"Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. 

 

           

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #pencemaran #kediri #air #bbm #sumur #jawapos #minyak