Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Jelang Idul Adha, Kematian Sapi di Kabupaten Kediri Terus Bertambah

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Selasa, 4 Juni 2024 | 16:41 WIB
AWAS PMK:Kepala DKPP Tutik Purwaningsih berbincang dengan peternak sekaligus mengecek kondisi sapi yang dijual di Pasar Hewan Gringging,Grogol
AWAS PMK:Kepala DKPP Tutik Purwaningsih berbincang dengan peternak sekaligus mengecek kondisi sapi yang dijual di Pasar Hewan Gringging,Grogol

KEDIRI, JP Radar Kediri- Kasus kematian sapi yang diduga karena penyakit kuku dan mulut (PMK) di Kabupaten Kediri terus bertambah. Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri menyebutkan ada 11 kasus yang ditemukan pada Mei lalu.  

Kepala DKPP Kabupaten Kediri Tutik Purwaningsih mengatakan, dari 11 kasus kematian tersebut, sebanyak 10 ekor tidak dilaporkan ke dinas. “Ini yang kami sayangkan,” ucap perempuan yang kerap disapa Tutik itu. Dia baru mengetahui informasi tersebut setelah sapinya dikuburkan. Karena itu, DKPP belum sempat melakukan penanganan. 

Kasus kematian itu terjadi di wilayah Tarokan. Dengan rentang kejadian pertengahan Mei hingga awal Juni ini. Terkait adanya kematian yang tidak dilaporkan, akan menjadi evaluasi DKPP. 

“Kami terus mengimbau teman-teman peternak agar memberi informasi jika ada ternaknya mengalami sakit. Sejauh ini, alhamdulillah tidak ada outbreak,” jelasnya.

Sementara itu, Kabid Kesehatan Hewan dan Kesmavet DKPP Kabupaten Kediri Yunhi Ismhawati menambahkan terkait hasil sepuluh sapi yang tidak dilaporkan tersebut. Informasi tersebut berdasarkan wawancara ke beberapa peternak yang sapinya mati yang menurut mereka tidak menunjukkan gejala PMK. 

Saat dilakukan hasil trial rapid test PMK di beberapa sapi yang masih hidup juga negatif. Namun dari status vaksin, sapi-sapi itu tercatat belum melakukan vaksin. Sehingga adanya dugaan bahwa sapi-sapi itu mati karena terkena PMK.

“Ternak yang mati belum pernah vaksin PMK. Jadi untuk mengatakan itu mati karena PMK tidak bisa 100% sebab tidak ada sampel karena tidak ada bedah bangkai yang dilakukan,” jelas Yhuni.

Untuk diketahui, sejak Januari hingga Juni ini ada 40 kasus PMK. 34 kasus sudah proses sembuh.  DKPP terus lakukan pemantauan untuk mengantisipasi adanya penyebaran penyakit. Diharapkan, hingga perayaan Hari Raya Idul Adha nanti tidak ada sapi atau ternak lain yang terkena penyakit.

“Kami sosialisasikan ke pedagang untuk terus mewaspadai adanya beberapa kasus penyakit hewan karena ini penting sekali. Jangan sampai begitu pas nanti hari raya berlangsung ada kasus,” tandasnya.

Sementara itu, Bakur, 45, warga Desa Kaliboto, Kecamatan Tarokan, yang sapinya mendadak mati, menjelaskan, tiba-tiba saja sapinya mati. Padahal sebelumnya tidak ada tanda-tanda bahwa sapi miliknya sedang sakit.

“Tiba-tiba pukul 02.00, sap teriak tiga kali lalu mati. Kondisinya sudah ambruk. Padahal pas jam 12 malam saat anak saya keluar, sapi masih baik-baik saja,”  terangnya menyebut sapi langsung dikuburkan. 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram"Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. 

 

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #kediri #Penyakit Hewan Kurban #pmk #jawapos #dkpp #sapi #kurban