KEDIRI-JP Radar Kediri- Tren kasus penyakit tuberkulosis (TB) di Kota Kediri masih terbilang tinggi. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri menemukan ada 402 orang terpapar. Dari jumlah tersebut 81 kasus TB menyerang anak-anak.
Berdasarkan roadmap Kementerian Kesehatan, puncak kasus TB terjadi tahun ini. Karena dari beberapa tahun yang lalu, kasusnya terus dicari dan diperkirakan tahun ini, sudah mencapai titik paling tinggi.
“Kalau sudah banyak ditemukan dan diobati, prediksinya 2025 sudah mengalami penurunan,” ujarKepala Dinkes Kota Kediri Muhammad Fajri Mubasysyir melalui Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Hendik Suprianto.
Penyakit yang menular lewat droplet ini memang menjadi salah satu perhatian dinkes. Rata-rata, satu orang bisa menularkan penyakit tersebut ke sepuluh orang lainnya dalam rentang satu tahun. Kontak erat seperti tinggal serumah, memiliki penyakit komorbid, serta orang dengan usia lanjut memiliki kerentanan tinggi untuk tertular.
“Makanya setiap kali ada temuan kasus, harus langsung dilakukan investigasi kontak. Biasanya dilakukan oleh kader TB di setiap RT dan dibantu petugas dari puskesmas,” sambungnya.
Prosedur tracing itu di antaranya menyasar 15 – 20 orang terdekat dengan melihat gejala yang timbul. Pun dengan melacak aktivitas pasien untuk memotong rantai penularan.
“Karena tidak mungkin orang menderita TB tanpa tertular dari orang lain sebelumnya,” tandasnya terkait pentingnya melakukan tracing atau investigasi kasus saat terdapat temuan TB di suatu wilayah.
Hendik menyebutkan, kasus TB pada anak ini terbilang tinggi. Selama 2023 lalu, temuan kasus TB mencapai 1.421 kasus. Dari angka itu, sebanyak 354 merupakan pasien anak rentang usia 0 – 14 tahun. Hendik menyebutkan, jumlah kasus tahun lalu melebihi target temuan kasus yang ditetapkan Kementerian Kesehatan RI untuk wilayah Kota Kediri. Tahun lalu, Pemkot Kediri ditargetkan bisa menemukan 1.219 kasus.
“Karena estimasi kasusnya sudah dibuat oleh pemerintah. Tahun ini target temuannya meningkat lagi sebanyak 1.378 kasus untuk 2024,” ujar Meski begitu, Hendik menambahkan, temuan kasus itu tak semuanya disumbang oleh warga Kota Kediri. Ada juga warga dari luar Kota Kediri.
“Dari data tahun lalu, hanya 50 persen yang warga Kota Kediri. Sisanya warga luar kota yang berobat di pelayanan kesehatan di Kota Kediri,” lanjutnya.(ais/rq)
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah