KEDIRI, JP Radar Kediri - Duka masih menyelimuti rumah di Dusun Petungombo, Desa Sepawon, Kecamatan Plosoklaten itu. Pelayat masih berdatangan. Menyampaikan bela sungkawa atas kematian Aang Prabowo, anak pemilik rumah.
“Tidak menduga,” ucap Lukas Margono, paman korban, menggambarkan perasaan keluarga. Bersama dengan Yusuf, ayah korban, dia terus menyambut para pelayat.
Memang, kematian pasti menimpa semua manusia. Namun, cara yang datang kepada Aang yang membuat keluarga terpukul. Pemuda ini ditemukan meninggal dengan cara mengenaskan. Tergeletak di tengah sawah dengan hanya mengenakan pakaian bagian atas saja. Sedangkan barang-barangnya berserakan di sekitarnya. Tidak ada barang yang hilang ataupun kekerasan, membuat kemungkinan kematiannya adalah karena bunuh diri.
Pihak keluarga terakhir kali bertemu korban Sabtu (20/4). Sebelum dia kembali ke Mojokerto. Aang memang kerja di kota tersebut. Menjadi karyawan PT Cord Indonesia, salah satu pabrik alat musik. Dia hanya seminggu sekali pulang. Kadang bahkan dua minggu sekali.
Libur Idul Fitri lalu, kebetulan Aang mendapat jatah libur panjang. Dia menghabiskannya di rumah, bersama keluarga. Kalaupun ada yang sedikit berbeda, pria 30 tahun itu hampir tiap malam tidur bersama sang ayah. Padahal sebelumnya hampir tidak pernah.
“Selama seminggu di rumah, dia selalu menemani bapaknya tidur di depan TV,” terang Lukas.
Tapi, semua itu dianggap hal biasa. Tak ada rasa waswas atau khawatir. Hingga pada Rabu pagi itu, sekitar pukul 10.00, Lukas ditelepon kepala desa. Dikabari bahwa Aang kecelakaann di Jombang.
Mendapat telepon seperti itu, Lukas dan pihak keluarga tak mengira Aang meninggal. Apalagi dalam kondisi mengenaskan. Ketika akhirnya yang terjadi seperti itu, wajar bila mereka jadi kaget.
Penemuan mayat Aang berawal ketika warga Dusun Wonoasri, Desa Badang, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, menemukan sepeda motor terparkir di tepi ladang tebu. Warga yang mencoba mencari pemiliknya akhirnya menemukan tubuh Aang 15 meter dari lokasi terparkirnya sepeda motor. Dalam keadaan setengah telanjang. Hanya berbaju di bagian atas saja. Di dekatnya ada satu botol Gramoxone-obat pembasmi rumput-, tiga strip obat sakit kepala, dua dompet berisi uang, dua celana jeans, tiga kemeja, satu kaus, satu jaket, satu celana pendek, satu celana dalam, sepasang sandal jepit, helm, serta tas warna hitam.
Walau ditemukan secara tidak wajar, keluarga memutuskan agar jenazah Aang tidak diotopsi. Mereka sudah ikhlas menerima kematian Aang.
“Merasa bila sudah takdir yang dikehendaki dan seperti ini jalannya. Untuk apa diotopsi, kami kasian kalau anak kami diotopsi,” dalih Lukas. Sementara Yusuf yang di dekatnya memandang dengan mata berkaca-kaca.
Yusuf maupun Lukas tidak tahu bila Aang punya suatu masalah. Pasalnya Aang merupakan anak yang pendiam. Dia juga tidak pernah cerita kepada orang tua ataupun keluarga. Memang, selama hidup korban sangat tertutup. Jarang bercerita tentang sesuatu kepada keluarga.
Walau demikian, Aang tidak punya masalah ataupun musuh. Dia dikenal sebagai orang yang baik. Tidak hanya oleh keluarga, juga teman-temannya.
“Sempat ngobrol sama teman kerja, katanya dia anaknya rajin dan sangat baik. Tidak pernah ada masalah di tempat kerja,” terang Lukas.
Aang juga merupakan orang yang taat beribadah. Rutin ke gereja setiap minggu. Menjadi pemain musik pengiring ibadah gereja.
“Bersama saya dia jadi pengiring ibadah minggu,” kenang Lukas.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah