Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Warga Akan Menutup Hotel Yobel di Gampeng Kediri secara Permanen jika Nekat Melanggar Lagi

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Selasa, 20 Februari 2024 | 17:23 WIB
BEBER SOP: Roy Samuel, pemilik hotel Yobel menunjukkan SOP tamu yang mewajibkan menunjukkan KTP atau surat nikah.
BEBER SOP: Roy Samuel, pemilik hotel Yobel menunjukkan SOP tamu yang mewajibkan menunjukkan KTP atau surat nikah.

KEDIRI, JP Radar Kediri - Pemerintah Desa (Pemdes) Putih, Gampengrejo, melakukan mediasi antara warga dengan pemilik hotel Yobel, kemarin. Hasilnya, setelah menggeruduk hotel dan minta ditutup pada Minggu (18/2) lalu, kemarin mereka memutuskan memberi kesempatan hotel untuk beroperasi kembali. Namun, warga akan menutup secara permanen jika ke depan hotel digunakan menginap bukan pasangan suami istri (pasutri).

Pantauan koran ini, mediasi digelar sekitar pukul 10.30 kemarin. Warga RT 1 dan RT 2 RW 1 Desa Putih mengikuti pertemuan di balai desa. Di sana mereka bertemu langsung dengan Roy Samuel, pemilik hotel Yobel. Di depan sang owner, warga meminta agar hotel ditutup permanen. Sebab, dianggap telah menyalahi norma karena digunakan untuk berhubungan intim bukan pasutri.

“Kemarin (18/2) kami datangi dan temukan lima pasangan (yang check in) yang mengaku bukan suami-istri,” ujar Achmad Fatoni, salah satu warga, yang mengikuti mediasi di balai desa.

Menjawab hal itu, Roy menyebut, di hotelnya sudah ada SOP mengenai pengunjung yang boleh masuk. Salah satunya, pasangan yang hendak menginap di hotel Yobel harus menunjukkan surat nikah atau Kartu Tanda Penduduk (KTP).

Terkait adanya temuan warga, Roy berdalih pihaknya sudah berbisnis sesuai dengan SOP. “Namanya orang memberikan keterangan bisa berbeda,” elaknya.

Meski demikian, warga tidak serta merta bisa mempercayainya. Mereka tetap menuntut agar hotel ditutup sebelum manajemen selektif dalam menerima tamu yang akan menginap. “Sebenarnya kami memperbolehkan hotel itu tetap beroperasi. Yang tidak kami bolehkan adalah adanya pasangan di luar nikah check in di sana,” terang Fatoni.

Setelah dua pihak saling adu argumen, akhirnya dicapai beberapa kesepakatan. Yakni, warga tetap memperbolehkan hotel Yobel beroperasi. Syaratnya, jika ke depan ditemukan pelanggaran lagi, warga akan menutup hotel secara permanen.

“Sebagai kesepakatan tadi (kemarin, Red) surat pernyataan sudah ditandatangani bersama,” tutur Kepala Desa Putih Mohammad Bashori. Jika setelah kesepakatan itu ternyata masih ada pelanggaran, menurut Bashori hotel akan ditutup.

Sementara itu, jika mayoritas warga meminta hotel ditutup, beberapa warga yang mengaku sebagai mitra hotel menolak jika penginapan di lingkungan mereka ditutup. Seperti diungkapkan oleh En, salah satu warga. Menurutnya, hotel juga membantu masyarakat sekitar.

“Ada janda yang memang kerjanya hanya dari situ, sebagai tukang laundry,” paparnya. Karenanya, kalaupun hotel ditutup menurutnya harus ada solusi bagi mitra hotel yang terdampak.

Terutama bagi para janda yang memang tidak memiliki pekerjaan lain dan tergantung sepenuhnya di sana. “Jangan hanya menuntut tapi tidak ada solusi,” sesalnya.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#hotel #demo #asusila