Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Warga Gampeng Kabupaten Kediri Desak Hotel Yobel Ditutup, Ini Alasannya

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Senin, 19 Februari 2024 | 18:29 WIB
PROTES: Warga Desa Putih, Gampengrejo memasang banner tentang permintaan penutupan Hotel Yobel karena disinyalir jadi tempat menginap bukan pasutri.
PROTES: Warga Desa Putih, Gampengrejo memasang banner tentang permintaan penutupan Hotel Yobel karena disinyalir jadi tempat menginap bukan pasutri.

KEDIRI, JP Radar Kediri - Puluhan warga Desa Putih, Gampengrejo menggeruduk Hotel Yobel, kemarin pagi. Mereka menuntut hotel di desa mereka itu segera ditutup. Lantaran warga mensinyalir hotel di tepi Jl Raya Kediri-Surabaya itu jadi tempat bersetubuh bukan pasangan suami istri (pasutri).

Aksi dilakukan sekitar pukul 10.00 kemarin. Puluhan warga Desa Putih mendatangi Hotel Yobel sambil membentangkan poster. Hingga kemarin siang, poster yang meminta hotel ditutup itu masih terpasang di pagar hotel. “Kami meminta hotel ditutup karena bisa mencoreng nama desa,” tegas Sam, salah satu warga yang kemarin turut menggeruduk Hotel Yobel.

Tidak hanya kondisi hotel yang jadi tempat menginap bukan pasutri itu saja yang disoal warga. Melainkan, warna menuding sampah bekas kondom juga dibuang sembarangan. Di antaranya didapati ada yang dibuang di atap rumah warga yang berdekatan dengan hotel. “Enaknya dirasakan sendiri tapi sampahnya dibuang di tetangga,” sambung Mul, warga lain yang kemarin ikut menggeruduk Hotel Yobel.

Untuk memastikan jika tamu yang menginap di sana adalah bukan pasutri, warga juga masuk ke dalam hotel dan melakukan pengecekan. Ternyata, dari sejumlah tamu di sana sedikitnya ada lima pasangan di luar nikah yang kedapatan check in atau menyewa kamar.

“Kami mencari bukti dan ternyata benar ada. Saat ditanyai mereka mengaku (bukan pasangan yang sudah menikah). Diperiksa KTP juga memang benar,” terang Mul. 

Terpisah, Kepala Desa Putih Mohammad Bashori membenarkan aksi warganya kemarin. Bashori menyebut, aksi demo warga dilakukan untuk mempertanyakan fungsi hotel. Warga mensinyalir hotel melati dengan tarif paling mahal Rp 100 ribu per kamar itu digunakan untuk  menginap pasangan di luar nikah. “Intinya warga komplain,” tandasnya.

Menindaklanjuti aksi warga tersebut, menurut Bashori pemerintah desa akan menggelar mediasi pagi ini. “Hari ini (kemarin, Red) masih belum bisa bertemu dengan pemiliknya, jadi besok (hari ini) kami fasilitasi untuk mediasi di balai desa, intinya agar tidak ricuh,” tuturnya.

Terpisah, Kapolsek Gampengrejo AKP Iwan Setyo Budhi juga membenarkan adanya aksi warga di wilayahnya. Menurut pria yang tinggal di Pesantren, Kota Kediri itu, aksi warga sudah ditindaklanjuti oleh pemerintah desa dan Polsek Gampengrejo. “Sudah kami tangani bersama pemerintah desa, besok (hari ini, Red) akan diadakan mediasi di balai desa,” tegas perwira dengan pangkat tiga balok di Pundak ini.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#hotel #demo #asusila