KEDIRI, JP Radar Kediri – Suasana duka menyelimuti dua keluarga di Dusun Tegalrejo, Desa Sukoanyar, Kecamatan Mojo.
Anggota keluarga mereka meninggal dunia setelah tenggelam di dam yang ada di Dusun Besuk, Desa Keniten, Kecamatan Mojo. Keduanya adalah Mohamad Satrio Alda Fendra, 14, dan Dimas Taufikur Rohman, 8.
“Saya dapat kabar sekitar jam tiga (pukul 15.00, Red),” aku Mohamad Husen, 47, ayah Dimas, sembari memegang foto anaknya yang dibingkai pigura.
Pekerja bangunan ini segera mendatangi lokasi. Di sana dia melihat tubuh anaknya sudah tergeletak tak bernyawa di tepi dam. Ditutupi daun pisang.
“Saya angkat tubuhnya itu masih hangat, masih lemes,” kenangnya, sambil berusaha menahan air mata.
Husen segera membawa pulang sang anak. Menumpang mobil siaga milik desa. Dia memutuskan tak meminta otopsi jasad sang anak. Menganggap itu sudah takdir.
“Jarene sempat njaluk duwit Rp 2 ribu nang ibuk e gawe jajan. Tidak tahu kalau mau mancing ke dam,” terangnya, saat ditemui di rumah duka.
Sebelumnya, Dimas tak pernah bermain di dam tersebut. Dari keterangan Husen, anaknya ke tempat nahas itu diajak memancing oleh Satrio, korban yang lain.
“Pergi bertiga boncengan, temannya yang satu selamat karena nggak berani mandi ke tengah,” cerita Husen.
Dimas adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Satu-satunya lelaki. Bagi Husen, sosok Dimas adalah anak yang penurut.
Berbeda dari dengan Dimas, sosok Satrio dikenal sebagai anak yang ramai, yang mudah mencairkan suasana. Juga, gampang akrab meskipun baru kenal.
“Yang bisa menyatukan kerabat ya Satrio ini,” kenang Hambali, 38, sang ayah, sambil menunjukkan foto sang anak yang ada di handphone-nya.
Dia juga mendapat kabar anaknya tenggelam ketika bekerja. Kebetulan, sebagai pekerja proyek, saat itu dia bekerja di Ploso. Yang butuh 30 menit untuk ke lokasi.
“Saya langsung ke dam,” kenangnya.
Saat itu pikirannya sudah kalut. Bahkan, sempat memacu sepeda motornya hingga 120 kilometer per jam. Sesampainya di lokasi, dia semakin terpukul lantaran jasad Satrio tak kunjung ditemukan.
Dia pun kemudian dibantu oleh warga, polisi, dan pemerintah desa untuk menemukan sang anak. Bahkan, ada tiga penyelam yang turun untuk mencari Satrio. Namun, hingga maghrib tetap belum ada tanda-tanda keberadaan sang anak. Pencarian dengan menyelam pun dihentikan. Dirinya juga pulang.
“Saya disuruh pulang sama orang-orang,” jelasnya.
Malam harinya, kurang lebih setelah isya, dirinya mendapat kabar anaknya ditemukan. Kondisinya terapung di dam.
“Pikiran saya sejak dapat kabar itu kosong. Saya baru sadar saat mau menyolati,” ungkapnya.
Terpisah, Kanitreskrim Polsek Mojo Ipda Mochamad Mekrot mengatakan bahwa dua korban pergi ke DAM tersebut untuk pergi memancing. Salah satu anak lainnya bernama Hafis, 7, asal Dusun Bangsongan Desa Sukoanyar.
“Yang satu ini selamat karena cuma di pinggir,” jelasnya sembari menyebut ketiganya tidak bisa berenang.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah