Musim hujan sudah menjelang. Tapi di desa ini kekeringan terus membayang. Penyebabnya adalah dua dari tiga sumber yang selama ini jadi tumpuan ratusan warga.
Hujan sudah mengguyur beberapa wilayah Kabupaten Kediri beberapa harit terakhir. Tapi itu tak terjadi warga Desa Ponggok, Kecamatan Mojo. Yang diingat warga, hujan terakhir terjadi berbulan-bulan silam.
Tak heran bila kekeringan melanda desa di Lereng Wilis ini. Tak hanya hawa panas yang menyengat kepala, juga air yang nyaris tidak mengalir lagi. Dua di antara tiga sumber yang selama ini menjadi penyuplai kebutuhan sudah tak memancarkan air lagi. Kering, mati!
“Selama saya hidup, tidak pernah ada kekeringan seperti ini,” ucap Yoni Santoso, menggambarkan seperti apa kekeringan yang kini melanda daerahnya.
Lelaki 26 tahun itu tak sekadar bicara. Dia kemudian mengarahkan telunjuknya ke area persawahan. Sepanjang mata memandang yang terlihat bukan hamparan yang benar-benar hijau. Selalu ada goresankunin di dedaunan. Bukan warna daun padi menguning, tapi menunjukkan tanaman itu kekurangan air.
Seakan belum puas menunjukkan, warga Desa Ponggok ini ganti mengarahkan jari ke sungai. Menceritakan sungai di Desa Ponggok tak pernah sekali pun kekeringan. Tapi kini ceritanya berbeda. Sejak tiga minggu lalu aliran sungai benar-benar kering, mati. Tak ada sedikit pun genangan air yang tersisa. Hanya meninggalkan dasar sungai berpasir dan dipenuhi batu kali.
Sembari menunggu droping air dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri, Yoni bercerita. Kekeringan tahun ini menjadi yang terparah. Bahkan sudah sejak tiga minggu terakhir warga setempat kesulitan untuk mendapat air bersih.
“Warga di sini sudah bingung semuanya. Tak ada stok air,” sambungnya.
Cerita kekeringan tersebut berawal dari matinya dua dari tiga sumber yang biasa digunakan warga. Ketiga sumber tersebut berada di Desa Petungroto. Sekitar 15 kilometer (km) dari Desa Ponggok.
Matinya kedua sumber itu ditengarai karena kemarau yang berkepanjangan. Debit air yang dikirim ke Desa Ponggok berkurang. Jumlahnya pun sangat sedikit. Karena sumber di Desa Petungroto juga digunakan banyak wilayah. Terutama di Desa Petungroto sendiri.
Tak hanya itu, air yang dikirimkan dari sumber tersebut juga tak tentu. Kadang dalam sehari warga Desa Ponggok tak mendapat kiriman air dari sumber.
“Kalau pun ada pasti sedikit dan keluarnya selalu malam hari,” tambahnya.
Beruntung, sejak dua minggu yang lalu, BPBD Kabupaten Kediri mulai melakukan droping air bersih. Sayang jumlahnya jauh dari kata cukup. Per harinya, BPBD hanya mampu melakukan droping 32.000 liter air. Jumlah yang harus dibagi untuk 336 kepala keluarga (KK) yang mengalami kekeringan. Jika dibagi merata, artinya tiap KK hanya mendapat jatah sekitar 90 liter saja.
Bagi yang memiliki jumlah anggota keluarga sedikit, tentu masih cukup. Namun jika anggota keluarganya banyak, mereka harus benar-benar ngirit.
“Kadang jumlahnya ya lebih sedikit. Tidak tentu,” sambungnya.
Kondisi kekeringan parah juga dibenarkan oleh Kepala Desa Ponggok Yoyok Dudi Harmono. Dia mengatakan jika kekeringan di tahun ini menjadi yang terparah. Bahkan dua dari tiga sumber air dan sungai yang biasa diandalkan warga sampai mati.
“Sebelumnya sumber air tidak pernah sampai mati seperti saat ini,” keluhnya.
Sejatinya pemerintah desa (pemdes) telah meminta bantuan pipa air. Tujuannya adalah untuk memperbanyak pipa yang dijadikan jalan air dari sumber ke warga desa. Sayangnya bantuan yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri kurang panjang. Dari yang dibutuhkan 5 km, baru diberikan 3 km.
Yoyok pun berharap kepada pemerintah agar segera mengirimkan bantuan. Karena jika kondisi tak berubah, kekeringan di Desa Ponggok dapat berubah menjadi bencana.
“Kalau kami dikirimi pipa, untuk tahun-tahun mendatang pasti kekeringan tak terjadi lagi,” tambahnya.
Editor : Anwar Bahar Basalamah