KEDIRI, JP Radar Kediri–Hidup Utami Sri Rahayu, 66, dan Arif Budiman, 45, anaknya berakhir tragis. Lansia itu ditemukan tewas membusuk di rumahnya Kelurahan Singonegaran, Pesantren.
Ironisnya, sang anak yang kelaparan karena tidak makan dan minum selama tiga hari, tewas setelah sepuluh menit dievakuasi kemarin. Kematian ibu dan anak di perkumiman padat penduduk itu langsung menghebohkan warga.
Informasi yang dihimpun koran ini menyebutkan, kondisi Utami dan Arif yang mengenaskan itu diketahui warga sekitar pukul 11.30 kemarin. Warga yang curiga karena Utami tidak keluar rumah selama lebih dari dua hari mulai bertanya-tanya.
Apalagi, dari dalam rumah mulai tercium bau mirip bangkai tikus. “Akhirnya sepakat untuk didobrak pintunya,” kata salah satu tetangga Utami yang menolak namanya dikorankan.
Baca Juga: Bayi yang Dibuang di Pinggiran Sungai Brantas Banyak yang Ingin Mengadopsi
Rasa penasaran mereka terjawab beberapa menit kemudian. Begitu pintu dibuka, bau tak sedap yang sebelumnya disebut mirip bangkai tikus itu tercium semakin kuat. Begitu kamar dibuka, tubuh Utami yang sudah membusuk terlihat telentang di lantai kamar. “Anaknya (Arif, Red) lemas di kasur. Kondisinya kritis,” lanjut perempuan yang lagi-lagi tidak mau menyebutkan namanya itu.
Perempuan yang kemarin memakai daster ini menjelaskan, meski sudah tua selama ini Utami dikenal aktif. Setiap pagi dia rutin bersepeda keliling kelurahan. Tetapi, perempuan yang memiliki riwayat penyakit vertigo dan asam lambung itu tidak menunjukkan batang hidungnya selama dua hari terakhir.
Sejak suaminya meninggal tahun 2006 silam, Utami memang hanya di rumah bersama Arif. Sehari-hari dia merawat anaknya yang menderita polio dan tidak bisa berjalan itu. Apalagi, anaknya yang sudah tak lagi muda itu juga kesulitan berbicara.
Kondisi itu pula yang diduga membuat Arif hanya bisa berbaring di ranjang meski melihat ibunya meninggal. Dia diduga juga kesulitan berteriak minta tolong dan hanya bisa pasrah di dalam kamar.
Baca Juga: Bayi yang Dibuang di Pinggiran Sungai Brantas Banyak yang Ingin Mengadopsi
Sementara itu, kasus meninggalnya Utami dan Arif kemarin langsung jadi perhatian warga. Puluhan orang menyaksikan proses evakuasi dua mayat tersebut. Hingga pukul 12.30 warga masih belum beranjak dari tempat kejadian perkara.
Kapolsek Pesantren Kompol Sugianto melalui Kanitreskrim Polsek Pesantren Iptu Dodik Wargo menyebut pihaknya bersama Satreskrim Polres Kediri Kota sudah menangani kasus meninggalnya ibu dan anak di Singonegaran tersebut. “Ibunya meninggal lebih dulu, anaknya yang disabilitas jadi nggak bisa apa-apa. Anaknya mati kelaparan,” terangnya.
Dodik menyebut, Arif masih dalam kondisi hidup saat ditemukan. Dia kritis dan lemas karena tiga hari tidak makan dan minum. Setelah pintu dibuka, perjaka tua itu sempat diberi minum oleh tenaga kesehatan. Tetapi, sepuluh menit kemudian dia dinyatakan meninggal dunia.
Terkait penyebab kematian Utami, Dodik menduga karena sakit.“Ibunya punya riwayat penyakit asam lambung dan vertigo,” jelas Dodik. Dia juga membenarkan jika selama ini Utami dan Arif hanya tinggal berdua. Sedangkan dua anak lainnya sudah tinggal di rumah masing-masing. Salah satunya tinggal di Surabaya.
Baca Juga: Lipsus Prostitusi Kota Kediri: Korbannya Istri si Hidung Belang
“Anaknya (pertama dan ketiga, red) jarang pulang. Ibunya nggak kerja tapi dapat pensiunan dari suaminya,” jelas Dodik sembari menyebut jenazah Arif dan Utami rencananya akan dimakamkan berbarengan.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah