“Tadi anaknya berangkat bareng temannya. Tetapi bawa motor sendiri,” kata Nuryanti, 33, kakak Ahmad Nazril Ihsan, korban bus terguling.
Wanita asal Desa Pamongan, Mojo itu mengungkapkan, Nazril ngotot tetap berangkat sekolah lantaran ada lomba di sekolahnya. Apalagi sudah tak ada armada lain. Bus yang biasa ditumpangi tak beroperasi. “Tega nggak tega. Anaknya takut didenda kalau nggak masuk, padahal sudah dibilangi nggak apa-apa kalau izin,” beber Nuryanti.
Hal serupa dirasakan orang tua dari korban lainnya. Suwarno, 57, terpaksa membolehkan Mita, putrinya, berangkat mengendarai motor. Meskipun dengan berat hati. “Gimana ya, anaknya udah nggak mau naik bus. Tapi kalau naik motor sebenarnya juga nggak tega,” ungkapnya.
Yanti ataupun Suwarno mengakui, bus sangat membantu orang tua murid. Banyak keuntungan bila anak-anak mereka berangkat sekolah bersama dengan kendaraan yang sama. Mereka mengungkapkan para orang tua lainnya juga berpendapat hal yang sama. “Bus itu yang paling pas,” ujar Suwarno. Bus itu juga permintaan warga yang anak-anaknya sekolah di SMPN 2 Mojo. Pertimbangan utamanya, tidak ada waktu bagi orang tua mengantar. Lantaran mereka harus bekerja.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah